zatalinaanwar | :D Midwifery Mercubaktijaya :D

Loading...

zatalinaanwar :D Midwifery Mercubaktijaya :D

makalah balita gizi buruk Posted on December 13, 2014 by zatalinaanwarafit23d BAB I SAMPAI BAB 5 CLEAR edit baru konsul 2 (http://zatalinaanwar.files.wordpress.com/2014/12/bab-i-sampai-bab-5-clear-edit-baru-konsul-2.docx) Categories: Uncategorized | Leave a comment

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS HARI KE 2 POSTPARTUM DENGAN BENDUNGAN ASI Posted on August 22, 2014 by zatalinaanwarafit23d MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS TINJAUAN KASUS ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS NY “A” P1A0HI POSTPARTUM HARI KE-2 DENGAN BENDUNGAN ASI DI PUSKESMAS KURANJI PADANG Waktu : 10 november 2013, pukul 21.00 wib 1. PENGKAJIAN 2. Identitas Nama : Ny. Z Nama suami : Tn. H Umur : 31 tahun Umur : 37 tahun Suku : Minang Suku : Minang Agama : Islam Agama : Islam Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA Pekerjaan : IRT Pekerjaan : PNS Alamat : jln by pass anduring 1. Anamnesa (Data Subjektif) 1. Keluhan Utama : Ibu mengatakan terasa bengkak dan nyeri pada payudaranya sejak tadi pagi tanggal 10 november 2. Riwayat menstruasi 1) Menarche : 12 tahun 2) Siklus : 28 hari 3) Lama : 7 hari 4) Dismenorhea : tidak ada 5) Sifat darah : encer,sedikit menggumpal 6) Banyaknya : 3 kali ganti pembalut 7) HPHT : 1 – 2 – 2013 3. Riwayat Perkawinan Perkawinan : pertama menikah sejak umur : 29 tahun lama perkawinan : 2 tahun 4. Riwayat Obstetrik A. Kehamilan, persalinan, nifas dan anak yang lalu No

1

Tgl lahir

Usia kehamilan

2013

aterm

Jenis persalinan

SC

Tempat persalinan

RS

Komplikasi

Penolong

Ibu

Bayi





Bayi

dokter



Nifas

PB/ BB/ JK

Keadaan

Lochea

Laktasi

48,3,5, lakilaki

baik





1. Kehamilan sekarang Umur kehamilan : 38 minggu Imunisasi TT : 2 kali Imunisasi TT1 dilakukan pada saat usia kehamilan 20 minggu dan TT2 pada usia kehamilan 24 minggu. 1. Persalinan sekarang Tanggal Persalinan : 8 november 2013 jam : 09.00 wib Jenis Persalinan : SC 5. Riwayat KB No

PASANG



LEPAS

Metode

Tgl

Petugas

Tempat

Ket

Tgl

Petugas

Tempat

Alasan

Ket





















6. Riwayat Kesehatan A. Kesehatan yang lalu : tidak ada 1. Kesehatan sekarang : Ibu mengatakan terasa bengkak dan nyeri pada payudaranya sejak tadi pagi tanggal 10 maret 2013 1. Kesehatan keluarga : tidak ada 1. Pola kebutuhan sehari – hari A. Nutrisi Porsi makan sehari : 3 X Sehari Jenis : sayur mayur , lauk pauk , buah- buahan, dll Pola minum : jus , susu , air putih , dll 1. Eliminasi BAK

BAB

Frek : 3 Kali

Frek : 2 kali

Warna : jernih

Warna : kuning kecoklatan

Keluhan : tidak ada

Konsistensi : – Keluhan : tidak ada





1. Istirahat Istirahat siang : 1-2 jam tidur siang Istirahat malam : 5-7 jam tidur malam 1. Aktivitas Beban kerja : memasak , mencuci piring , dll Olah raga : kadang- kadang 1. Kegiatan spiritual : ibu menjalankan ibadah sesuai dengan kepercayaan nya yaitu islam 2. Hubungan seksual : tidak ada 2. Psikososial spiritual A. Respon ibu dan keluarga terhadap masa nifas : B. Dukungan keluarga : 1. PEMERIKSAAN FISIK (Data Objektif) 1. Pemeriksaan Umum Kesadaran : baik Pernafasan : 18x/menit TD : 120/80 mmHg BB : 70 kg Nadi : 82 x/menit TB : 170 cm Suhu : 37°C 2. Pemeriksaan Khusus Inspeksi 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Kepala Rambut : Bersih, tidak berketombe dan tidak rontok Mata : Kelopak mata tidak oedema, Konjungtiva tidak anemis, Sclera tidak ikterik Hidung : Bersih Telinga : Bersih, tidak ada pengeluaran Mulut

Lidah : Bersih Gigi : ada caries Gusi : Tidak ada stomatitis 2. Leher :Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, Tidak ada pembengkakan kelenjar limfe 3. Dada 4. Payudara 1) Pembesaran : Ada 2) Putting susu : Menonjol 3) Pengeluaran ASI : Sudah ada berupa colostrum 4) Simetris : Ya 5) Benjolan : Ada 6) Rasa nyeri : Ada 7) Hyperpigmentasi : Ada 1. Abdomen : Ada bekas operasi, TFU 3 jari bawah pusat. 1. Ekstermitas atas : lengkap kiri dan akanan, fungsi pergerakan baik, tidak ada oedema, keadaan bersih. 1. Ekstermitas bawah : tungkai tidak ada oedema, fungsi pergerakan baik, tidak ada cacat, tidak ada varises, lengkap kanan kiri, reflek patella baik. 1. Genetalia : tidak ada oedema dan varises pada vulva, ada pengeluaran darah nifas warna merah. 1. Punggung : tulang sedikit lordosis. 2. Rectum : tidak ada hemoroid. 3. Anogenital : perineum normal tidak ada laserasi jalan lahir, tidak ada pembengkakan pada vulva, anus normal MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS NY “A” P1A0HI POSTPARTUM HARI KE-2 DENGAN BENDUNGAN ASI DI PUSKESMAS KURANJI PADANG Data dasar

Interprestasi

Masalah potensial

Tindakan segera

Intervensi

Implementasi

Evaluasi

Waktu:

1. Diagnosa : Ibu ny.Z P1A0 AH 1

Mastitis

10 november 2013,

Tanggal/pukul : 4 November 2013,

. TTanggal/pukul : 4November 2013, 21.25 wib

Tanggal/pukul : 4 maret 2013, pukul 21.45 wib

Po post partum hari ke 2 dengan bendungan ASI.

Penanganan bendungan ASI,KIE tentang menyusui.

21.10 wib





pukul









21.00 wib.

1. Dasar : 2. a. Ibu mengatakan payudara terasa nyeri, dan bengkak,

1. 1. Menjelaskan pada ibu tentang kondisinya berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan bahwa ibu mengalami bendungan ASI. 2.

1. 1. Ibu mengerti dirinya sedang mengalami bendungan asi. 2.

DS :



Ibu ny. Z P1A0 AH 1 post partum hari ke 2 dengan bendungan ASI.

2. b. Ibu mengatakan melahirkan anaknya 2 hari yang lalu pada tanggal 10 november 2013

1. 1. Jelaskan pada ibu tentang kondisinya berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan.













Ibu mengatakan ini adalah anak yang pertama , riwayat persalinan ibu sekarang :

3. c. Ibu mengatakan belum pernah keguguran 4. Pengeluaran pervaginam berupa lochea rubra 5. Kontraksi uterus baik 6.

2 2. Menjelaskan tentang bendungan ASI yang ibu alami yaitu ASI yang tidak keluar karena adanya sumbatan saluran ASI sehingga kelenjar ASI membesar/membengkak dan menyebabkan rasa nyeri serta ASI tidak keluar.

ibu melahirkan dengan post sc , bayi dengan keadaan baik , jk : laki-laki , PB : 48 cm , BB : 3,5 kg dan usia kehamilan aterm.





Masalah: Payudara nyeri dan bengkak.



3. 2. jelaskan tentang bendungan ASI yang ibu alami. 4.

3. beritahu ibu bahwa keluhan yang ibu rasakan sekarang ini.

1. Kebutuhan :Penanganan bendungan ASI, KIE tentang menyusui











Keluhan utama: Ib ibu mengatakan terasa bengkak dan nyeri pada payudaranya sejak tadi pagi tanggal 10 maret 2013. D

Kesadaran: baik



– Tempelkan handuk halus yang sudah dibasahi dengan air hangat pada payudara yang sakit beberapa kali dalam sehari (atau mandi dengan air hangat beberapa kali), lakukan pemijatan dengan lembut di sekitar area yang mengalami penyumbatan kelenjar susu dan secara perlahan-lahan turun ke arah puting susu.



– Kompres dingin pada payudara di antara waktu menyusui. – Pakai bra yang dapat menyangga payudara.







6. 6. Mengajarkan kepada ibu cara perawatan/masase payudara, yaitu: Dengan tangan yang sudah dilicinkan dengan minyak lakukan pengurutan 3 macam cara :



– Tempatkan kedua telapak tangan diantara ke 2 payudara kemudian urut keatas, terus kesamping, kebawah dan melintang hingga tangan menyangga payudara, kemudian lepaskan tangan dari payudara. – Telapak tangan kiri menopang payudara kiri dan jari-jari tangan saling dirapatkan, kemudian sisi kelingking tangan kanan mengurut payudara dari pangkal ke arah puting, demikian pula payudara kanan. – Telapak tangan menopang payudara pada cara ke-2 kemudian jari tangan kanan dikepalkan kemudian buku-buku jari tangan kanan mengurut dari pangkal ke arah puting.







7. 7. Mengajarkan ibu teknik dan posisi menyusui yang baik, yaitu: – Usahakan pada saat menyusui ibu dalam keadaan tenang. Hindari menyusui pada saat keadaan haus dan lapar oleh karena itu dianjurkan untuk minum segelas air /secukupnya sebelum menyusui – Memasukkan semua areola mamae kedalam mulut bayi – Ibu dapat menyusui dengan cara duduk atau berbaring dengan santai dan dapat menggunakan sandaran pada punggung – Sebelum menyusui usahakan tangan dan payudara dalam keadaan bersih – Payudara dipegang dengan ibu jari di atas, jari yang lain menopang di bawah (bentuk C) atau dengan menjepit payudara dengan jari telunjuk dan jari tengah (bentuk gunting) dibelakang areola







– Berikan ASI pada bayi secara teratur dengan selang waktu 2-3 jam atau tanpa jadwal (on demand) selama 15 menit. Setelah salah satu payudara mulai terasa kosong, sebaiknya ganti menyusui pada payudara yang satunya – Setelah selesai menyusui oleskan ASI ke payudara, biarkan kering sebelum kembali memakai bra, langkah ini berguna untuk mencegah lecet pada puting

7. Ajarkan ibu teknik dan posisi menyusui yang baik.

– Sendawakan bayi tiap kali habis menyusui untuk mengeluarkan udara dari lambung bayi supaya bayi tidak kembung dan muntah



8. 9. Mengajarkan ibu cara memeras ASI untuk mengosongkan payudara, yaitu :



BB:70 kg



Nadi:



82 x/menit



170cm



Suhu:



37°C















Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan tidak ada pembengkakan kelenjar limfe.







Dada:



Payudara:

6.Ajarkan kepada ibu cara perawatan/masase payudara.

Pembesaran ada , putting susu menonjol , Pengeluaran asi : sudah ada berupa colostrum.



Simestris dan adanya benjolan serta terasa nya nyeri pada payudara danh hyperpigmentasi.







Abdomen : adanya bekas operasi dan tfu 3 jari di bawah pusat.









pe







– Lanjutkan dengan mengeluarkan ASI dari payudara itu setiap kali selesai menyusui jika bayi belum benar-benar menghabiskan isi payudara yang sakit tersebut.



TB :





Pernafasn: 18x/menit



3. Ibu mengerti bahwa keluhan yang ibu rasakan sekarang ini.

5. 5.Menyusui sesering mungkin dengan jangka waktu selama mungkin, susui bayi dengan payudara yang sakit jika ibu kuat menahannya, karena bayi akan menyusui dengan penuh semangat pada awal sesi menyususi, sehingga bisa mengeringkannya dengan efektif.



TD: 120/80 mmHg













Ib 5. Beritahu ibu cara mengatasi keluhan yang ibu rasakan.

Pemeriksaan fisik:







DO :











5. 4. Beritahu ibu cara mengatasi keluhan yang ibu rasakan.





3. 3. Memberitahu ibu bahwa keluhan yang ibu rasakan sekarang ini adalah pengaruh dari sumbatan ASI tersebut dan ibu akan diberikan pengobatan untuk megurangi keluhan yang ibu rasakan. 4. 4. Memberitahu ibu cara mengatasi keluhan yang ibu rasakan, yaitu: Sebelum menyusui, pijat payudara dengan lembut, mulailah dari luar kemudian perlahan-lahan bergerak ke arah puting susu dan lebih berhati-hati pada area yang mengeras.

2. Ibu mengerti tentang bendungan ASI yang ibu alami 3.

























4. Ibu mengerti cara mengatasi keluhan yang ibu rasakan,

s

4. 5. Ibu mengerti cara mengatasi keluhan yang ibu rasakan.









.6.Ibu mengerti cara perawatan/masase payudara.

6. 7. ibu mengerti dan dapat mmpratikkan teknik dan posisi menyusui yang baik



– Ibu mencuci tangan hingga bersih



– Duduk atau berdiri dengan nyaman dan pegang cangkir atau mangkok bersih dan dekatkan pada payudara



– Letakan ibu jari diatas puting dan areola dan jari telunjuk pada bagian bawah puting dan areola bersamaan dengan ibu jari dan jari lain menopang payudara





– Tekan ibu jari dan telunjuk sedikit ke arah dada, jangan terlalu kuat agar tidak menyumbat aliran susu



7



– Kemudain tekan sampai berada di sinus laktiferus yaitu tenpat tampungan ASI dibawah areola







– Tekan dan lepas, kemudian tekan dan lepas kembali. Kalau teraba sakit berarti tekniknya salah. ASI akan mengalir terutama bila refleks oksitosinnya aktif.







9. 9. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi sayuran hijau dan makanan yang bergizi untuk memperbanyak dan memperlancar ASI, misalnya daun katuk, bayam dan lain-lain.





10 10. Menganjurkan ibu banyak beristirahat, ibu dapat beristirahat dan tidur pada saat bayi tidur. Selain itu ibu juga jangan terlalu bekerja berat. Serta, mengingatkan ibu untuk selalu menjaga kebersihan diri, terutama di daerah payudara.









8.

































8.Ajarkan ibu cara memeras ASI untuk mengosongkan payudara.













8. Ibu mengerti dan dapat memeras ASI untuk mengosongkan payudara























































9. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi sayuran hijau.















1. Anjurkan ibu banyak beristirahat.

9.Ibu bersedia untuk mengkonsumsi sayuran hijau. 10 10.Ibu bersedia untuk beristirahat.

PEMBAHASAN Pada pembahasan dalam asuhan kebidanan ibu nifas patologis ini dilakukan setelah penerapan asuhan kebidanan yang terkait dengan teori-teori yang ada. Selain itu untuk memperoleh gambaran secara nyata tentang sejauh mana kesulitan serta upaya penempuhan dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan bendungan ASI. Dalam bab ini akan mengurai sesuai dengan manajemen kebidanan menurut Varney yang terdiri dari 7 langkah, yaitu : 1. Pengkajian data Pengkajian data merupakan langkah awal yang menentukan langkah selanjutnya. Langkah ini dilakukan dengan mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan ibu. Data ini diperoleh melalui wawancara, observasi, serta pemeriksaan fisik. Data yang diperoleh berupa data subyektif dan obyektif. Data subyektif yaitu ibu mengeluh tersa bengkak dan merasa nyeri pada payudara.. Data objektif yaitu wajah ibu terlihat cemas, dan hasil pemeriksaan dalam diperoleh hasil bahwa ibu mengalami bendungan ASI. Apabila data yang diperoleh secara akurat maka akan diinterpretasikan data-data tersebut. Pada tahap ini tidak terlalu mengalami hambatan atau kesulitan karena adanya sifat kooperatif dari keluarga dan ibu sendiri memberikan informasi serta adanya kerjasama antara bidan di ruangan yang membantu dalam mengumpulkan data. 2. Interpretasi Data Interpretasi data dengan melakukan observasi, wawancara dan pemeriksaan fisik pada ibu, maka pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa dan masalah yang aktual berdasarkan interpretasi data yang benar. Dalam studi kasus terhadap ibu yang dimulai dengan pengkajian data sampai dengan dilakukan pemeriksaan fisik, ditemukan ibu nifas dengan kecemasan yang berhubungan denganbendungan ASI yang dialaminya. Adapun yang mendasari diagnosa bendungan ASIpada ibu nifas adalah dengan data dasar yakni ibu mengatakan merasa bengkak dan nyeri pada payudara. Pada langkah ini, tidak terdapat kesenjangan antara diagnosa yang dibuat dengan teori yang sudah ada. 3. Diagnosa Potensial Identifikasi diagnosa potensial. Berdasarkan diagnosa masalah yang telah diidentifikasikan, sehingga pada langkah ini memerlukan antisipasi bila memungkinkan dilakukan pemecahan sambil melakukan pengamatan terhadap ibu nifas dan diharapkan dapat bersiap-siap bila memang diagnosa dan masalah potensial ini benar-benar akan terjadi. Pada kasus Ny.A dengan bendungan ASI dengan diagnosa potensialnya mastitiskarena ibu mengeluh terasa bengkak dan nyeri pada payudara. 4. Antisipasi Tindakan Segera Tindakan segera atau kolaborasi. Pada langkah ini bidan diharapkan melakukan tindakan segera berdasarkan data yang telah diidentifikasi, menetapkan kebutuhan terhadap masalah. Pada tahap ini, perlu menjelaskan tentang antisipasi tindakan terhadap diagnosa potensial. Kerjasama antar ibu dan bidan melalui pendekatan dan perhatian serta simpati semuanya berjalan dengan lancar melalui penerapan konseling yang diberikan. Berdasarkan teori tersebut diatas maka tindakan yang telah dilakukan penulis tidak mempunyai kesenjangan dengan teori. 5. Perencanaan Dalam menyusun rencana asuhan yang menyeluruh sebagai kelanjutan dari diagnosa atau masalah yang telah diidentifikasi, maka pada langkah ini bidan melakukan asuhan secara menyeluruh. Tujuan perencanaan untuk mengurangi dan mencegah masalah pada ibu nifas dengan sepsis puerperium. Masalah dalam kasus ini adalah gangguan aktivitas sehubungan dengan nyeri pada luka jahitan yang dialaminya. Rencana tindakan yang dilakukan oleh bidan adalah memberikan konseling mengenai keadaan yang dialami oleh diri ibu sesuai dengan keluhan yang disampaikan oleh ibu, disamping itu juga memberikan motivasi dan dorongan. Adapun rencana asuhan yang akan diberikan adalah sebagai berikut :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Jelaskan pada ibu tentang kondisinya berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan Jelaskan tentang bendungan ASI yang ibu alami Beritahu ibu bahwa keluhan yang ibu rasakan sekarang ini Beritahu ibu cara mengatasi keluhan yang ibu rasakan, Ajarkan kepada ibu cara perawatan/masase payudara, Ajarkan ibu teknik dan posisi menyusui yang baik Ajarkan ibu cara memeras ASI untuk mengosongkan payudara Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi sayuran hijau Anjurkan ibu banyak beristirahat Pelaksanaan

Pelaksanaan merupakan rangkaian perencanaan yang telah diuraikan pada langkah sebelumnya secara efisien. Perencanaan ini dilakukan oleh penulis dan bidan jaga. Untuk mengatasi rasa cemas yaitu penulis memberikan penjelasan tentang ketidaknyamanan yang dialaminya ,melalui konseling, sehingga ibu dapat memahami serta melaksanakannya secara kooperatif. Penulis melakukan kegiatan sesuai dengan rencana yang sudah dibuat. Dalam kasus ini pelaksanaan yang dilakukan oleh penulis telah sesuai dengan perencanaan seperti : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

10.

11.

12.

13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23.

Menjelaskan pada ibu tentang kondisinya berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan bahwa ibu mengalami bendungan ASI Menjelaskan tentang bendungan ASI yang ibu alami yaitu ASI yang tidak keluar karena adanya sumbatan saluran ASI sehingga kelenjar ASI membesar/membengkak dan menyebabkan rasa nyeri serta ASI tidak keluar Memberitahu ibu bahwa keluhan yang ibu rasakan sekarang ini adalah pengaruh dari sumbatan ASI tersebut dan ibu akan diberikan pengobatan untuk megurangi keluhan yang ibu rasakan. Memberitahu ibu cara mengatasi keluhan yang ibu rasakan, yaitu: Sebelum menyusui, pijat payudara dengan lembut, mulailah dari luar kemudian perlahan-lahan bergerak ke arah puting susu dan lebih berhati-hati pada area yang mengeras. Menyusui sesering mungkin dengan jangka waktu selama mungkin, susui bayi dengan payudara yang sakit jika ibu kuat menahannya, karena bayi akan menyusui dengan penuh semangat pada awal sesi menyususi, sehingga bisa mengeringkannya dengan efektif Lanjutkan dengan mengeluarkan ASI dari payudara itu setiap kali selesai menyusui jika bayi belum benar-benar menghabiskan isi payudara yang sakit tersebut. Tempelkan handuk halus yang sudah dibasahi dengan air hangat pada payudara yang sakit beberapa kali dalam sehari (atau mandi dengan air hangat beberapa kali), lakukan pemijatan dengan lembut di sekitar area yang mengalami penyumbatan kelenjar susu dan secara perlahan-lahan turun ke arah puting susu. Kompres dingin pada payudara di antara waktu menyusui. – Pakai bra yang dapat menyangga payudara Mengajarkan kepada ibu cara perawatan/masase payudara, yaitu: Dengan tangan yang sudah dilicinkan dengan minyak lakukan pengurutan 3 macam cara : Tempatkan kedua telapak tangan diantara ke 2 payudara kemudian urut keatas, terus kesamping, kebawah dan melintang hingga tangan menyangga payudara, kemudian lepaskan tangan dari payudara. – Telapak tangan kiri menopang payudara kiri dan jari-jari tangan saling dirapatkan, kemudian sisi kelingking tangan kanan mengurut payudara dari pangkal ke arah puting, demikian pula payudara kanan. – Telapak tangan menopang payudara pada cara ke-2 kemudian jari tangan kanan dikepalkan kemudian buku-buku jari tangan kanan mengurut dari pangkal ke arah puting. Mengajarkan ibu teknik dan posisi menyusui yang baik, yaitu: – Usahakan pada saat menyusui ibu dalam keadaan tenang. Hindari menyusui pada saat keadaan haus dan lapar oleh karena itu dianjurkan untuk minum segelas air /secukupnya sebelum menyusui – Memasukkan semua areola mamae kedalam mulut bayi – Ibu dapat menyusui dengan cara duduk atau berbaring dengan santai dan dapat menggunakan sandaran pada punggung – Sebelum menyusui usahakan tangan dan payudara dalam keadaan bersih – Payudara dipegang dengan ibu jari di atas, jari yang lain menopang di bawah (bentuk C) atau dengan menjepit payudara dengan jari telunjuk dan jari tengah (bentuk gunting) dibelakang areola Berikan ASI pada bayi secara teratur dengan selang waktu 2-3 jam atau tanpa jadwal (on demand) selama 15 menit. Setelah salah satu payudara mulai terasa kosong, sebaiknya ganti menyusui pada payudara yang satunya – Setelah selesai menyusui oleskan ASI ke payudara, biarkan kering sebelum kembali memakai bra, langkah ini berguna untuk mencegah lecet pada puting Sendawakan bayi tiap kali habis menyusui untuk mengeluarkan udara dari lambung bayi supaya bayi tidak kembung dan muntah Mengajarkan ibu cara memeras ASI untuk mengosongkan payudara, yaitu : Ibu mencuci tangan hingga bersih Duduk atau berdiri dengan nyaman dan pegang cangkir atau mangkok bersih dan dekatkan pada payudara Letakan ibu jari diatas puting dan areola dan jari telunjuk pada bagian bawah puting dan areola bersamaan dengan ibu jari dan jari lain menopang payudara Tekan ibu jari dan telunjuk sedikit ke arah dada, jangan terlalu kuat agar tidak menyumbat aliran susu Kemudain tekan sampai berada di sinus laktiferus yaitu tenpat tampungan ASI dibawah areola Tekan dan lepas, kemudian tekan dan lepas kembali. Kalau teraba sakit berarti tekniknya salah. ASI akan mengalir terutama bila refleks oksitosinnya aktif. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi sayuran hijau dan makanan yang bergizi untuk memperbanyak dan memperlancar ASI, misalnya daun katuk, bayam dan lain-lain Menganjurkan ibu banyak beristirahat, ibu dapat beristirahat dan tidur pada saat bayi tidur. Selain itu ibu juga jangan terlalu bekerja berat. Serta, mengingatkan ibu untuk selalu menjaga kebersihan diri, terutama di daerah payudara. Evaluasi

Langkah terakhir yang diambil dalam melaksanakan asuhan kebidanan dalam manajemen kebidanan menurut varney, adalah evaluasi. Dalam mengevaluasi hasil tindakan, penulis melaksanakan dengan cara mengevaluasi apakah pasien sudah merasa jelas dengan apa yang sudah di sampaikan oleh nakes dan bersedia melakukan apa yang dianjurkan oleh nakes.Pada saat di RSUD Wonosari Gunung Kidul pasien menunjukkan kepatuhan klien terhadap advis yang telah diberikan oleh bidan dan bersedia untuk melakukan anjuran yang telah diberikan. Tindakan penulis diatas sudah sesuai dengan langkah varney yang ketujuh yaitu mengevaluasi tahap asuhan yang telah diberikan, apa benar-benar sudah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasikan dalam diagnosa dan masalah. Langkah ini bertujuan mengevaluasi dan mengetahui sejauh mana manajemen kebidanan yang sudah dilakukan oleh peneliti pada pasien. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Setelah mempelajari tentang konsep selama pembuatan laporan magang ini maka pada bab ini penulis akan mengungkap kesimpulan dan saran yang bisa diterima sebagai bahan penngkatan mutu dan pelayanan kebidanan 1. KESIMPULAN 2. Manajemen kebidanan varney dapat digunakan pada asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan sepsis puerperium. Manajemen kebidanan varney sangat efektif untuk mengatasi masalah yang ada. Data subjektif : Ibu mengeluh terasa bengkak dan nyeri pada payudara. Dataobjektif : Setelah dilakukan pemeriksaan. Didapatkan suhu ibu 36,0 C. Interpretasi data dasar yaitu seorang Ibu Ny “A” P1A 0 H1 umur 31 tahun dengan bendungan ASI. 2. Diagnosa potensial yang timbul berdasarkan data yang diperoleh dalam studi kasus ini adalah mastitis. Antisipasi tindakan segera dalam kasus ini adalah Penanganan bendungan ASI,KIE tentang menyusui.

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh yaitu : Jelaskan kepada ibu hasil pemeriksaan yang dilakukan Jelaskan tentang bendungan ASI yang ibu alami Beritahu ibu bahwa keluhan yang ibu rasakan sekarang ini Beritahu ibu cara mengatasi keluhan yang ibu rasakan, Ajarkan kepada ibu cara perawatan/masase payudara, Ajarkan ibu teknik dan posisi menyusui yang baik Ajarkan ibu cara memeras ASI untuk mengosongkan payudara Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi sayuran hijau, Anjurkan ibu banyak beristirahat

3. Pelaksanaan yang dilakukan oleh penulis telah sesuai dengan rencana asuhan yang akan diberikan pada pasien. Dan telah terlaksana secara efektif 1. Saran 2. Bagi Mahasiswa Mahasiswa diharapkan dapat lebih meningkatkan keterampilan dan pengetahuannya mengenai sepsis puerperium yang terjadi di masyarakat dengan cara sering melakukan latihan pelaksanaan bendungan ASI. 2. Bagi bidan Hendaknya bagi bidan diharapkan sering mengikuti pelatihan penanganan dan deteksi dini infeksi nifas. 3. Bagi Institusi Pendidikan Kepada pihak akademik, agar terus mempertahankan dan meningkatkan mutu pembelajaran khususnya untuk pembelajaran mengenai infeki nifas Categories: Uncategorized | Leave a comment

MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS 3 HARI POSTPARTUM Posted on August 22, 2014 by zatalinaanwarafit23d KATA PENGANTAR Puji syukur alhamdulillah kehadirat Allah SWT , yang telah memberi rahmat dan hidayah Nya sehingga tersusunlah makalah ini. Dalam kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada Yth : Ibuk Ety Aprianti , SKM. Selaku dosen pembimbing ASUHAN KEBIDANAN NIFAS ( ASKEB III ). Saya menyadari msih banyak kekurangan dalam penulisan ini , untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran dari pembimbing. Semoga makalah ini berguna bagi penyusun di masa yang akan datang. DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I : PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan Penulisan 1.2.1 Tujuan Umum 1.2.2 Tujuan Khusus 1.3 Metode Penulisan 1.4 Sistematika Penulisan BAB II : LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Dasar Post Partum 2.2 Konsep Dasar Asuhan Kebidanan BAB III : TINJAUAN KASUS 3.1 Pengumpulan Data 3.2 Identifikasi Masalah 3.3 Antisipasi Masalah Potensial 3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera 3.5 Intervensi 3.6 Implementasi 3.7 Evaluasi BAB IV : Kesimpulan Penutup DAFTAR PUSTAKA BAB II TINJAUAN TEORI 1. Definisi 1. 2. 3. 4. 5.

Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali ke keadaan sebelum hamil. masa nifas berlangsung selama kira-kira 2-6 minggu.(Sarwono, 2002:122). Masa nifas adalah masa pulihnya kembali ke dalam keadaan sebelum hamil dan masa nifas berlangsung selama kira-kira 2-6 minggu.(Maternal dan Neonatal, 2002) Masa nifas adalah masa pulihnya kembali mulai dari persalinan, sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil, lamanya 6-8 minggu (Mochtar, 1990) Masa nifas adalah masa dimulainya dari lahirnya plasenta sampai mencakup 6 minggu berikutnya. (Pusdiknakes, 2001) Masa nifas adalah masa yang dimulai setelah partus selesai serta lahirnya plasenta dan berakhir sampai alat-alat kandungan kembali kekeadaan seperti sebelum hamil yang berlangsung selama kira-kira 2- 6 minggu.

1. Tujuan Asuhan Masa Nifas 1. 2. 3. 4.

Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. Memberikan pelayanan keluarga berencana

1. Masa Nifas Dibagi Dalam 3 Periode 1. Puerperium Dini Yaitu dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari. 2. Puerperium Inter Medial Yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu. 3. Remote Puerperium Adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau tahunan (Mochtar, 1998 : 115) 1. Perubahan-perubahan Fisik Pada Masa Nifas Involusi Corpus Uteri Segera setelah placenta lahir, fundus korpus uteri berkontraksi, letaknya kira-kira ½ pusat dan symfisis atau sedikit lebih tinggi. Umumnya organ ini mencapai ukuran tidak hamil seperti semula dalam waktu ukuran sekitar 6-8 minggu. Proses involusio uterus meliputi 3 aktivitas, yaitu : 1. Kontraksi uterus 2. Autolysis sel-sel myometrium 3. Regenerasi epithelium Tabel tinggi fundus uteri dan berat uterus menurut masa involusio Involusi

Tinggi Fundus Uteri

Berat Uterus

Bayi lahir

Setinggi pusat

1000 gram

Uri lahir

2 jari dibawah pusat

750 gram

1 minggu

Pertengahan pusat dan symfisis

500 gram

2 minggu

Tidak teraba di atas symfisis

350 gram

6 minggu

Bertambah kecil

50 gram

8 minggu

Sebesar normal

30 gram

Bekas Implantasi Uri Tempat placenta mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter 7,5 cm. Sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm. Pada minggu keenam 2,4 cm dan akhirnya pulih. Lochea Adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Ada beberapa macam lochea antara lain : 1) Lochea rubra (cruenta) Berwarna merah segar, berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, vernik caseosa, lanugo dan mekonium, selama 2 hari pasca persalinan. 2) Lochea sanguinolenta Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir.Terjadi pada hari ke 3-7 pasca persalinan. 3) Lochea serosa Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, terjadi pada hari ke 7-14 pasca persalinan. 4) Lochea alba Berupa cairan berwarna putih, berisi leukosit dan mukosa servik terjadi setelah 2 minggu pasca persalinan. 5) Lochea purulenta Terjadi dikarenakan adanya infeksi, keluar cairan seperti nanah dan berbau busuk. 6) Lochiostasis Yaitu lochea yang keluarnya tidak lancar. Perubahan Servik dan Segmen Bawah Rahim Segera setelah placenta lahir, servik dan segmen bawah rahim menjadi struktur yang tipis, kolaps dan kendur. Mulut servik mengecil perlahan-lahan sebelum beberapa hari mulut serviks mudah dimasuki oleh 2 jari, tetapi pada akhir minggu pertam telah menjadi sedemikian sempitnya sehingga jari sulit untuk masuk, sewaktu servik menyempit, servik menebal dan salurannya terbentuk kembali, tetapi masih ada tanda-tanda servik parut. Setelah kelahiran, miometrium segmen bawah rahim yang sangat menipis berkontraksi dan beretraksi tetapi tidak sekuat pada korpus uteri. Dalam perjalanan beberapa minggu segmen bawah rahim diubah dari struktur yang jelas dan cukup besar untuk memuat kebanyakan kepala janin cukup bulan menjadi isthmus yang hampir tidak dapat dilihat. Perubahan Vagina dan Pintu Keluar Vagina Pada perlukaan jalan lahir akan sembuh dalam 6-7 hari, bila tidak disertai infeksi dan faktor gizi juga sangat berpengaruh dalam penyembuhan luka jalan lahir tersebut, karena dengan gizi yang cukup akan mempercepat pertumbuhan sel-sel tubuh yang rusak. Vagina dan pintu keluar vagina pada bagian pertama masa nifas membentuk lorong berdinding lunak dan luas yang ukurannya secara perlahan-lahan mengecil tetapi jarang kembali ke ukuran semula. Rugae terlihat kembali pada minggu ke 3 dan terdapatcarunculae mirtiformis yang khas pada wanita yang pernah melahirkan. Rasa Sakit Yang disebut juga “after pains” (meriang atau mules-mules) disebabkan oleh kontraksi rahim, biasanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan. Perlu diberikan pengertian pada ibu, mengenai hal ini dan bila terlalu mengganggu dapat diberikan obat-obatan anti sakit dan anti mulas. Ligament-ligament Ligament fasia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan. Setelah bayi lahir, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi, karena ligamentum rotundum menjadi kendor. Setelah melahirkan, kebiasaan wanita Indonesia melakukan “berkusuk” atau “berurut” dimana sewaktu diurut tekanan intra abdomen bertambah tinggi. Karena setelah melahirkan ligamen, fasia dan jaringan penunjang menjadi kendor, jika dilakukan urut, banyak wanita akan mengeluh kandungannya turun atau terbalik. Untuk memulihkan kembali sebaiknya dengan latihan-latihan dan senam pasca persalinan/senam nifas. Biasanya striae yang terjadi pada saat kehamilan akan berkurang. Perubahan Saluran Kencing Peregangan dan dilatasi selama kehamilan yang menyebabkan perubahan permanen di pelvis renalis dan ureter, kecuali ada infeksi kembali normal pada waktu 2-8 minggu, bergantung pada : 1) Keadaan atau status sebelum persalinan 2) Lamanya partus kala II 3) Besarnya kepala yang menekan pada saat persalinan Sistem Kardio Vaskuler Penurunan volume darah diasumsikan dengan kehilangan darah. Pada saat persalinan volume plasma menurun 1000 ml karena kehilangan darah dan diuresis. Setelah 3 hari volume darah meningkat 1200 ml sebagai akibar cairan ekstra seluler ke intra seluler. Total volume darah menurun 16% setelah persalinan. Perkiraan kehilangan darah dapat dibandingkan setelah persalinan. Kehilangan darah 500 ml akan menyebabkan pengurangan Hb 1%, nadi dan cardiac output meningkat selama 1-2 jam post partum. Segera setelah melahirkan, cardiac outputmeningkat 50-60 % dan menurun setelah 10 menit. Payudara Pada semua wanita setelah melahirkan, laktasi dimulai secara alami dan normal. Proses menyusui mempunyai 2 mekanisme fisiologis, yang meliputi: produksi susu dan sekresi susu atau let down. Fisiologi dari produksi ASI masih belum sepenuhnya dimengerti. Dipikirkan bahwa konsentrasiestrogen dan progesteron yang tinggi sebelum kehamilan menghambat produksi prolaktin, yang dibutuhkan untuk laktasi. Hal ini menjelaskan mengapa seorang wanita tidak memproduksi ASI sepanjang kehamilannya. Pada saat placenta lahir, terjadi perubahan drastis yang mendadak pada kadar estrogen danprogesteron. Keadaan ini membuat kelenjar hipofise anterior memproduksi prolaktin. Produksi ASI juga dipengaruhi oleh hisapan bayi yang dapat menyebabkan kenaikan atau kelanjutan dari pelepasan prolaktin dari hipofise anterior. Seorang bayi akan menekan sinus laktiferussewaktu menghisap ASI. Hisapan ini akan mendorong air susu melalui ductus laktiferus menuju tempat akhir, yaitu mulut bayi. Aliran susu dan sinus laktiferus disebut let down dan dalam hal ini dapat dirasakan oleh ibu 1. Gambaran Klinis Masa Puerperium Segera setelah persalinan dapat terjadi peningkatan suhu badan, tetapi tidak boleh lebih dari 38oC. Bila terjadi peningkatan melebihi 38oC berturut-turut selama 2 hari kemungkinan terjadi infeksi. Uterus yang telah menyelesaikan tugasnya akan menjadi keras karena kontraksinya, sehingga terdapat penutupan darah. Kontraksi uterus yang diikuti his pengiring menimbulkan rasa nyeri yang disebut dengan nyeri ikutan terutama pada multipara (Manuaba, 1998 : 192). 1. Program dan Kebijakan Tekhnis Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai keadaan ibu dan BBL dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi. Tabel Frekuensi Kunjungan Masa Nifas (Anonim, 2002 : N23) Kunjungan

Waktu

Tujuan

1

6-8 jam setelah persalinan

– Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri – Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk jika perdarahan berlanjut – Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri – Pemberian ASI awal – Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir – Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia – Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan stabil

2

6 hari setelah persalinan

– Memastikan involusi uterus berjalan normal: uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau – Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal – Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat – Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan tanda-tanda penyulit – Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari

3

2 minggu setelah persalinan

– Sama seperti di atas (6 hari setelah persalinan)

4

6 minggu setelah persalinan

– Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi alami – Memberikan konseling untuk KB secara dini

1. Diagnosis 1) Apakah masa nifas berlangsung normal/tidak seperti involusio uterus, pengeluaran lochea, pengeluaran ASI dan perubahan sistem tubuh, termasuk keadaan psikologis normal. 2) Adakah keadaan gawat darurat pada ibu seperti perdarahan, kejang dan panas. 3) Adakah penyulit/masalah dengan ibu yang memerlukan rujukan/ perawatan seperti perawatan payudara (Sarwono, 2002 : 125) 1. Perubahan Pengeluaran Lochea Perubahan pengeluaran lochea menunjukkan keadaan abnormal yaitu : 1) Perdarahan berkepanjangan 2) Pengeluaran lochea tertahan/lochea statiska 3) Lochea purulenta berbentuk nanah 4) Rasa nyeri yang berlebihan 5) Dengan memperhatikan bentuk perubahan dapat diduga 6) Terdapat sisa placenta yang merupakan sumber perdarahan 7) Terjadi infeksi intra uterin (Manuaba, 1998 : 193) 1. Pemeriksaan Dini Pasca Partum 1 Tinjauan ulang pencatatan 1) Catat perjalanan antepartum dan intra partum 2) Jumlah jam/hari post partum 3) Instruksi terdahulu dan catatan perkembangan 4) Catatan CHPB 5) Laporan laboratorium dan studi tambahan lain 6) Catatan pengobatan 7) Catatan perawatan 2 Riwayat 1) Ambulasi 2) Berkemih 3) Defekasi 4) Nafsu makan 5) Ketidaknyamanan/nyeri 6) Kekhawtiran 7) Menyusui 8) Respon terhadap bayi 9) Respon terhadap persalinan dan kelahiran 3 Pemeriksaan Fisik Post Natal Meliputi Antara Lain : 1) Pemeriksaan umum : tensi, nadi, suhu, keluhan, dan lain-lain 2) Keadaan umum : pucat atau anemis 3) Kerongkongan jika diindikasikan 4) Payudara dan puting susu : ASI sudah keluar apa belum 5) Nyeri tekan CVA 6) Dinding perut, perineum, kandung kemih, rectum 7) Sekret yang keluar : lochea warna, jumlah dan bau 8) Perineum: odema, inflamasi, haematoma, pus, luka yang terpisah/ luka memar, jahitan, haemorrhoid 9) Ekstremitas : varices, nyeri tekan, panas pada betis, oedema, tanda homan refleks. (Buku Saku Bidan, 2002 : 266) 1. Deteksi Dini Komplikasi Nifas 1 Perdarahan Pervaginam Adalah perdarahan yang lebih atau sama dengan 500 cc per ml pasca salin dalam 24 jam setelah anak dan placenta lahir. 2 Menurut Waktu Terjadinya Perdarahan Ada 2 Bagian 1) Perdarahan pasca salin primer (Early post partum haemorraghic) Terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir 2) Perdarahan pasca persalinan sekunder (Late post partum haemorragic) Terjadi setelah 24 jam pertama post partum, biasanya antara hari ke lima sampai lima belas hari post partum 1. Perawatan Masa Puerperium 1 Keuntungan Mobilisasi Dini : 1) Melancarkan pengeluaran lochea, mengurangi infeksi puerperium 2) Memperlancar involusi alat kandungan 3) Melancarkan fungsi alat gastro intestinal dan alat perkemihan 4) Meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme. (Manuaba, 1998 : 193) 2 Perawatan Puerperium Dilakukan Dalam Pengawasan Sebagai Berikut : 1) Rawat gabung 2) Pemeriksaan umum Kesadaran penderita Keluhan yang terjadi setelah persalinan 3) Pemeriksaan khusus Fisik : tanda-tanda vital Tinggi fundus uteri, kontraksi uterus Payudara : pengeluaran ASI, puting susu Lochea : lochea rubra, lochea sanguinolenta Jahitan episiotomi : apakah baik atau terbuka, apakah ada tanda-tanda infeksi 4) Pemulangan parturien dan pengawasan ikutan Parturien dapat dipulangkan setelah 2-3 hari dirawat, apabila persalinan berjalan lancar dan sponta dan dapat dipulangkan setelah keadaan baik dan tidak ada keluhan. 3 Penatalaksanaan Perawatan Puerperium Dini 1) Ambulasi/tirah baring 2) Diet/nutrisi 3) Perawatan puerperium 4) Berkemih/pemakai cateter 5) Obat anti nyeri 6) Obat tidur 7) Laksatif 8) Methergin 0,2 mg PO, setiap 4 jam x 6 dosis kemudian 3 x 1 selama 3 hari jika diindikasikan 9) Hentikan pemberian IVJP 10) Berikan suplemen vitamin/besi/keduanya jika diindikasikan 11) Kurangi tindakan yang menyebabkan ketidaknyamanan klien 12) Lakukan perawatan payudara 13) Skrining lab untuk komplikasi jika diindikasikan 14) Rencana pemakaian kontrasepsi 15) Berikan globulin imun RH jika diindikasikan 16) Berikan vaksin Rubela 0,5 ml sub cutan jika diindikasikan (Buku Saku Bidan, 2002 : 207) 4. 4.Pengawasan Akhir Kala Nifas (Post Partum) 1) Melakukan pemeriksaan pap smear untuk mencari kemungkinan kelainan sitologi sel serviks atau sel endometrium 2) Menilai seberapa jauh involusi uterus 3) Melakukan pemeriksaan inspekulo, sehingga dapat menilai perlukaan post partum 4) Mempersiapkan untuk mempergunakan metode KB (Manuaba, 1998 : 195) 1. Nasehat Untuk Ibu Post Natal 1) Fisiotherapi post natal sangat baik bila diberikan 2) Sebaiknya bayi disusui sesering mungkin 3) Kerjakan gymnastik sehabis bersalin 4) Untuk kesehatan ibu dan bayi serta keluarga sebaiknya melakukan KB untuk mengatur jarak kehamilan 5) Bawalah bayi anda untuk memperoleh imunisasi (Sinopsis Obstetri Fisiologi, 118) 1. Perubahan-Perubahan Psikososial Pada Masa Nifas 1 . Periode post partum menyebabkan stres emosional terhadap ibu yang baru melahirkan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain : 1) Respon dan dukungan dari keluarga dan teman 2) Hubungan dari pengalaman melahirkan terhadap harapan dan aspirasi 3) Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lalu 4) Pengaruh budaya Periode ini diuraikan Reva Rubin dalam 3 tahap yang disebut dengan “Teori Reva Rubin” dan tahapan tersebut antara lain : 1) Fase taking in (1) Terjadi pada 1-2 hari post partum (2) Merupakan masa ketergantungan (3) Ciri-ciri : – Butuh tidur cukup – Nafsu makan meningkat – Ingin menceritakan pengalaman partusnya – Bersikap menerima saja – Pasif menunggu apa yang disarankan dan apa yang diberikan 2) Fase taking hold (1) Terjadi pada hari ke 2-4 post partum (2) Merupakan usaha melepaskan diri (3) Ciri-ciri : – Sudah mengerjakan tugas keibuan – Ibu konsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya (BAB, BAK, dan kekuatan tubuhnya) – Ibu berusaha untuk menguasai keterampilan merawat bayi, seperti menggendong, menyusui, mengganti popok dan lain-lain – Ibu cenderung terbuka menerima nasehat-nasehat bidan dan kritikan pribadi 3) Fase letting go (1) Terjadi lebih dari 4 hari post partum (2) Dipengaruhi oleh waktu dan perhatian yang diberikan keluarga (3) Ibu melakukan tugas/tanggung jawab terhadap perawatan bayi (4) Pada umumnya depresi post partum terjadi pada periode ini (5) Adaptasi terhadap kebutuhan bayi yaitu berkurangnya hak ibu dan hubungan sosial 2. Kasih Sayang dan Ikatan Dini (Early attachment and bounding) Ikatan antara ibu dan ayah yang dihasilkan dari kekuatan mengalami proses persalinan bersama-sama akan memperkuat dan memfasilitasi ikatan keluarga pasca salin, meskipun waktu bayi diletakkan pada perut ibu agar setelah melahirkan/sewaktu ibu telah memeluk bayinya. Rangkaian tindakan untuk menyentuh bayinya, dan berlanjut ketika ia meletakkan kedua telapak tangannya pada tubuh bayi lalu melingkarkan pada tubuh bayi dengan kedua tangan dan berakhir sewaktu ia memeluk seluruh bayi dalam lengannya. Hubungan antara ibu dan bayi sebenarnya sudah terjalin sejak masa kehamilan, tetapi hubungan ini akan berkembang cepat setelah kelahiran bayinya. Waktu yang sangat tepat untuk lebih memperat hubungan orang tua dengan bayinya adalah pada saat segera setelah lahir. Orang tua dan bayi diletakkan di ruang yang tenang, orang tua didorong untuk segera menggendong bayinya. Ibu sebaiknya segera meneteki agar terjadi kontak yang dekat. Perilaku lainnya ke arah tercapainya suatu kelekatan dan ikatan saat segera setelah lahir meliputi kontak mata antara ibu dan bayinya yang didapatkan ketika bayi terdapat di gendongan ibunya, ini dapat dengan mudah didapatkan pada saat ibu meneteki. Ibu dan ayahnya sebaiknya dianjurkan untuk berbicara, tersenyum, memegang dan sesering mungkin menggendong bayinya dengan senang hati dan hendaknya orang tua dilibatkan dalam proses perawatan sehari-hari, misalnya memandikan. Gangguan psikologis pada ibu post partum yang lain adalah : 1) Post partum blues Yaitu kemurungan sehabis melahirkan, timbul hari ke 3-5 post partum merupakan gejala psikologis pada wanita yang terpisah dari keluarga dan bayinya. Dasar fisiologisnya adalah perubahan yang cepat, siklus laktasi yang sedang dimulai. Tanda-tanda : (1) Perasaan dimulai dengan sedikit kecewa (2) Mudah marah (3) Perawaan sedih/sering menangis tanpa sebab yang sulit dijelaskan (4) Emosi lebih labil karena ketidaknyamanan fisik 2) Sindroma baby blues dan depresi 1. a) Terjadi beberapa minggu setelah post partum 2. b) Tanda-tanda : Mudah menangis Gampang tersinggung Merasa letih Susah tidur Perasaan cemas yang tidak mau pergi 1. c) Bila symptom terjadi menjadi lebih buruk/tidak hilang akan terjadi depresi post partum+20 %. 2. d) Depresi pasca salin 3. e) Tanda-tanda : Hilangnya emosi Hilangnya keinginan untuk bersosialisasi Perasaan gagal 1. Perawatan Pasca Persalinan/Masa Nifas 2. Nutrisi Ibu nifas perlu diet gizi yang baik dan lengkap, bisa disebut juga dengan menu seimbang. Tujuannya adalah : 1) Membantu memulihkan kondisi fisik 2) Meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi 3) Mencegah konstipasi 4) Memulai proses pemberian ASI eksklusif Ibu nifas perlu tambahan 500 kalori tiap hari, dan kebutuhan cairan/ minum + 3 liter/hari dan tambahan pil zat besi selama 40 hari post partum, serta kapsul vitamin A 200.000 unit. 2. Ambulasi Kenyataannya ibu yang baru melahirkan enggan banyak bergerak, karena merasa letih dan sakit. Pada persalinan normal ambulasi dapat dilakukan 2 jam post partum. Untuk pasien post SC yaitu 24-36 jam post partum. Tujuan ambulasi : 1) Melancarkan pengeluaran lochea 2) Faal usus dan kandung kemih lebih baik 3) Memungkinkan untuk mengajar ibu memelihara anaknya 4) Mempercepat involusi dan melancarkan peredaran darah 3 . Eliminasi Ibu nifas hendaknya dapat berkemih spontan normal terjadi pada 8 jam post partum. Anjurkan ibu berkemih 6-8 jam post partum dan setiap 4 jam setelahnya, karena kandung kemih yang penuh dapat mengganggu kontaksi dan involusi uterus. Bila ibu mengalami sulit berkemih sebaiknya dilakukan toiler training untuk BAB, jika ibu tidak bisa BAB lebih dari 3 hari maka perlu diberi laksan/pencahar. BAB tertunda 2-3 hari post partum dianggap fisiologis. 4 . Istirahat Ibu perlu istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan. Ibu dapat berisitirahat atau tidur siang selagi bayi tidur, pentingnya dukungan dari keluarga/suami. Bila istirahat kurang akan mempengaruhi ibu : 1) Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi 2) Memperlambat proses involusio uterus dan memperbanyak perdarahan 3) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan diri sendiri 5 . Kebersihan Diri/Personal Hygiene Ibu nifas perlu menjaga kebersihan dirinya karena : 1. Mengurangi/mencegah infeksi b.Meningkatkan perasaan nyaman dan kesejahteraan Bila ibu cukup kuat berjalan, bantu ibu untuk mandi untuk membersihkan tubuh, puting susu dan perineum, mengganti pembalut minimal 2 x atau setiap kali habis kencing. 6 . Sexual/Senggama Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya ke dalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan ibu tidak merasa nyeri, aman untuk memulai melakukan hubungan sexual kapan saja ibu siap. Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan sexual sampai masa waktu tertentu, misalnya 40 hari atau enam minggu setelah persalinan, keputusan bergantung pada pasangan yang bersangkutan. 7 . Keluarga Berencana Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya dua tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin merencanakan tentang keluarganya. Namun petugas kesehatan dapat membantu merencanakan keluarganya dengan mengajarkan kepada mereka tentang cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama meneteki (amenorhoe laktasi). Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko, penggunaan kontrasepsi tetap lebih aman terutama bila ibu sudah haid lagi. Jika pasangan telah memilih metode KB tertentu, ada baiknya untuk bertemu dengannya lagi dalam 2 minggu untuk mengetahui apakah ada yang ingin ditanyakan oleh ibu atau pasangan dan untuk mengetahui apakah metode tersebut bekerja dengan baik. 8 . Latihan/Senam Nifas Jelaskan pada ibu pentingnya otot-otot perut dan panggul kembali normal. Ibu akan merasa lebih kuat dan ini menyebabkan otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung. Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat membantu seperti : 1) Dengan tidur terlentang dengan lengan disamping, menatik otot perut selagi menarik napas, tahan napas ke dalam dan angkat dagu ke dada, tahan satu hitungan sampai lima, rileks dan ulangi sebanyak 10 kali. 2) Untuk memperkuat tonus otot jalan lahir dan dasar panggul (latihan kegel). 3) Berdiri dengan tungkai dirapatkan, kencangkan otot-otot, pantat dan pinggul dan tahan sampai 5 hitungan, kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali. Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan. Setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 x lebih banyak. Pada minggu ke-6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan setiap gerakan sebanyak 30 kali. 1. Kapan Menghubungi Bidan/Kontrol Kembali ke Rumah Sakit Bila masalah-masalah atau tanda-tanda bahaya sebagai berikut : 1) Perdarahan pervaginam yang luar biasa/ganti pembalut 2 x dalam ½ jam 2) Pengeluaran vagina yang baunya menusuk 3) Rasa sakit bagian tubuh abdomen atau punggung 4) Sakit kepala yang terus menerus, nyeri epigastrik atau masalah penglihatan 5) Bengkak di wajah atau di tangan (eklamsi post partum) 6) Demam, muntah, rasa sakit waktu buang air kemih, tidak enak badan 7) Payudara yang berubah, merah, panas atau terasa sakit 8) Nafsu makan hilang (lama waktunya) 9) Rasa sakit, merah, lunak dan atau pembengkakan di kaki 10) Merasa sangat sedih atau tidak mampu mengasuh bayinya atau dirinya sendiri 11) Merasa sangat letih atau nafas terengah-engah BAB III TINJAUAN KASUS ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS NORMAL Ny.U P1A 0 3 HARI POST PARTUM DI BPS IRMA ROZALINA, Amd.Keb PESISIR SELATAN 1. PENGKAJIAN Tanggal : 14 MEI 2014 Waktu : 17.25 WIB Tempat : BPS IRMA ROZALINA,Am.Keb 1. BIODATA



Nama ibu Umur III. DATA SUBYEKTIF 1. Alasan datang : Ibu menyatakan ingin kontrol kondisinya K keluhan utama : kaki oedem . 2. Riwayat Obstetri 3. Riwayat menstruasi Menarche

: 12 th

Lama

: 7 hari

Banyak

: 2 kali ganti pembalut/hari

Siklus

: 28 hari

1. Riwayat kehamilan/persalinan Yang lalu : Anak ke

UK



Abortus



Jenis partus



Penolong



Penyulit/komlikasi



BB wkt lahir



Keadaan anak hidup



Mati

umr

JK

umr

JK









Sekarang : G1PIA 0



Tempat persalinan

: Bidan

Jenis persalinan

: Spontan

Komplikasi persalinan

: Tidak ada

Keadaan plasenta dan tali pusat

: Plasenta lahir spontan, t=2cm, d=20cm, korion dan amnion utuh,kotiledon lengkap, berat plasenta 500gram ,tidak ada infark. Tali pusat normal, Panjangtali pusat =45 cm,





Lama persalinan : Kala I

10 jam

Kala II

1jam

Kala III

10 menit

Kala IV

2jam

Jumlah perdarahan : Kala I

0 cc

Kala II

25 cc

Kala III

75 cc

Kala IV

100 cc

Keadaan bayi : Ditolong oleh : Bidan Jenis kelamin : Perempuan Tanggal/jam lahir : 14 MEI 2014/ 10.00WIB BB : 2800 gr PB : 48 cm LK :34cm LD : 32 cm APGAR SCORE : 9 – 9 – 10 Kelainan bawaan : tidak ada 3. Riwayat perkawinan : Status nikah : ibu menyatakan menikah 1 kali dengan suami sekarang Lama nikah : 14 bulan 4. Riwayat penyakit : Sekarang

: Ibu menyatakan tidak sedang menderita suatu penyakit dan tidak dalam menjalani pengobatan tertentu.

Dahulu

: Ibu menyatakan tidak pernah menderita penyakit yang mengarah ke penyakit jantung, hipertensi, hepatitis, malaria, asma, DM, TBC, PMS, HIV/ AIDS

Keluarga

: Ibu menyatakan dalam keluarga tidak ada riwayat penyakit yang mengarah ke penyakit jantung, hipertensi, hepatitis, malaria, asma, DM, TBC, PMS, HIV/ AIDS

5. Riwayat KB : ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi . 6. Pola kebutuhan dasar sehari-hari : Pola nutrisi : Ibu makan 3x sehari dengan lauk nabati (tahu, tempe) dan hewani (telur, daging, ikan), sayur dan buah bervariasi. Minum ±6-7 gelas sehari Keluhan : tidak ada keluhan Pola eliminasi : BAB 1xsehari konsistensi lunak,bau khas , warna kecoklatan BAK 6xsehari , warna kuning jernih , tidak nyeri , tidak ada keluar darah, bau khas Keluhan : ibu menyatakan masih takut jahitan pada perineum lepas pada saat BAB Pola istirahat : tidur malam ± 7 jam sehari, selama cuti tidur siang ± 1 jam Keluhan : tidak ada keluhan Pola aktivitas : Ibu bekerja dari pukul 08.00 – 16.00 WIB, selama masa nifas ibu masih cuti. Ibu melakukan aktivitas dirumah tanpa dibantu oleh orang lain . Keluhan : tidak ada keluhan Personal hygiene : ibu mandi 2x sehari, gosok gigi 2x sehari, keramas 3x seminggu, ganti baju ndan pakaian daalam 2x sehari. Keluhan : tidak ada keluhan Pola sexual : ibu belum melakukan hubungan dengan suami karena masih dalam masa nifas. Psiko, sosial, spiritual, cultural : ibu berharap tidak ada masalah dengan masa nifasnya,ibu bahagia dengan kelahiran anaknya,hubungan ibu dilingkungan baik, suami dan keluarga bahagia dengan kehadiran keluarga barunya, ibu selalu menjalankan shalat 5 waktu dan ibu tidak memiliki kepercayaan dalam hal pantang makanan. Pola kebiasaan hidup sehat : ibu dan keluarga tidak ada yang merokok, tidak minum minuman keras, dan tidak mengkonsumsi obat-obatan terlarang serta tidak ada keluarga yang merokok. Pola meyusui : ibu sudah dapat menyusui bayinya Tingkat pengetahuan : ibu mengetahui kondisinya saat ini , yaitu ibu sedang mengalami masa nifas , dimana masa nifas merupakan masa pulihnya alat-alat genetalia seperti belum hamil,ibu mengerti dan menerima proses ini dan ibu tidak merasa cemas .. 1. DATA OBYEKTIF 2. Keadaan umum : baik 3. Tanda-tanda vital : TD : 120/80 mmHg Nadi : 82x/mnt RR : 20x/mnt 3. Pemeriksaan fisik : Kepala :

Mesocephal, kulit kepala bersih, tidak ada lesi, rambut tidak mudah dicabut

Muka :

Simetris, tidak pucat , tidak ada secret

Leher :

Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, kelenjar limfe, dan vena jugularis.

Dada :

Simetris, ictus cordis tak tampak, tidak ada benjolan,tidak ada wheezing.

Perut :

Tidak ada bekas operasi, tidak ada pembesaran hati dan kelenjar limfe.

Ekstremitas :

Simetris ,pergerakan normal ,Tidak ada oedema pada tangan, ada oedem pada kaki ,tidak ada varices, ujung kuku tidak pucat.

Genetalia :

Tidak odem, tidak varises , tidak hemoroid

Anus :

Tidak hemorroid.

4. Pemeriksaan obstetric : Muka : tidak odem, tidak pucat , tidak ada cloasma gravidarum Payudara : membesar, areola menghitam, putting menonjol, ASI sudah keluar Abdomen : ada linea nigra, ada striegravidarum Genetalia : tidak odem, tidak varises, ada PPV (lochea rubra) 5. Penunjang : – Hb : 11gr% – Protein urin : +1 1. ANALISA Ny. U P1A 0 umur 24th, 3 hari post partum dengan kaki oedem 1. PLANNING 2. Menjelaskan kepada ibu hasil pemeriksaan bahwa tekanan darah 120/80 mmHg , Nadi : 84x/menit , RR : 20x/menit , Hb 11 gr% , protein urine +1 ,pengeluaran pervaginam lochea rubra . Hasil : ibu mengerti 2. Memberi informasi kepada ibu tentang involusi dan pengeluaran lochea Hasil : ibu mengerti tentang invoousi dan engeluaran lochea 3. Memberikan pendidikan kesehatan ASI Eksklusif dan menganjurkan ibu untuk memberikan ASI Eksklusif H : Ibu mengerti dan akan mencoba memberikan ASI eksklusif 4. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang memenuhi gizi seimbang , yaitu makan sayur-sayuran , buah-buahan, lauk-pauk bervariasi dan minum air yang banyak minimal 8gelas/hari untuk memulihkan tenaga ibu pasca persalinan dan untuk produksi ASI yang banyak . Hasil : ibu mengerti tentang nutrisi ibu nifas . 5. menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini , yang bertujuan untuk mempercepat ambulasi , melancarkan peredaran darah ,melancarkan pengeluaran lochea. Hasil : ibu bersedia melakukan mobilisasi dini 6. menganjurkan ibu untuk rajin membersihkan alat genetalianya untuk mencegah infeksi hasil : ibu bersedia melakukannya 7. menjelaskan kepada ibu agar tidak sering memposisikan kaki dengan menggantung , karena posisi kaki sering bisa membuat kaki oedema , jika ibu menyusui bayinya maka letakkan alas sebagai tempat sandaran kaki agar tidak menggantung . untuk mengatasi oedem pada kaki , anjurkan ibu untuk kompres hangat pada kaki yang oedema dan tidur posisi kaki lebih tinggi. hasil : ibu mengerti dan akan melakukannya 8. menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup dan mengurangi aktivitas berat yang membuatnya cepat lelah agar kondisinya cepat pulih . hasil : ibu mengerti dan bersedia melakukannnya. 9. Menjelaskan kepada ibu untuk tidak perlu khawatir jahitan luka perineum lepas pada saat BAB Hasil : ibu mengerti 1. Menganjurkan ibu untuk kontrol 1 minggu lagi , atau jika sewaktu-waktu ada keluhan . Hasil : ibu bersedia kontrol 1 minggu lagi atau jika sewaktu-waktu ada keluhan . Categories: Uncategorized | Leave a comment

MAKALAH DOKUMENTASI KEBIDANAN Posted on August 19, 2014 by zatalinaanwarafit23d ASKEB III OLEH: “kelompok 10” UTARI ZULMA VITA ANGGRAINI WIRDHATUL IHSAN WITRI AZIZAH NST YOSI ANA INDAH YUFEBRIANA FITRI ZATALINA ANWAR DOSEN PEMBIMBING : ETY APRIANTI,SKM PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG T.A 2012/2013 KATA PENGANTAR Segala Puji bagi allah SWT, atas rahmat dan hidayah nya penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul pendokumentasian pada ibu nifas. Makalah ini di tulis untuk memenuhi kebutuhan dan tuntunan berbagai kalangan dalam melakukan pendokumentasian pada ibu nifas yang telah di gunakan. Sebagai makalah pendokumentasian pada ibu nifas , di tujukan kepada mahasiswa kebidanan, praktisi bidan agar lebih mudah dan memahami dan menerapkan pemberian asuhan kebidanan. Penulis menyadari makalah ini masih sangat jauh dari sempurna. Penulis membuka diri untuk menerima masukan dan kritikan yang membangun, demi penyempurnaan makalah ini,semoga makalah ini bermanfaat bagi bidan . DAFTAR ISI KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………. iii BAB I KONSEP DASAR DOKUMENTASI…………………………………………………………. 1 1. PENDAHULUAN ……………………………………………………………………………….. 1 B . PENGERTIAN DOKUMENTASI………………………………………………………… 2 1. 2. 3. 4.

TUJUAN DOKUMENTASI………………………………………………………………….. 4 PRINSIP-PRINSIP DOKUMENTASI KEBIDANAN ……………………………. 8 ASPEK LEGAL DALAM DOKUMENTASI………………………………………… 11 MANFAAT DOKUMENTASI………………………………………………………………. 12

BABII PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEBIDANAN………………………………………… 13 DAFTAR PUSTAKA

BABI KONSEP DASAR DOKUMENTASI 1. PENDAHULUAN Kebidanan di indonesia sebagai suatu profesi yang sedang dalam proses memperjuangkan penerimaan profesi yang mandiri oleh masyarakat membutuhkan upaya aktualisasi diri dalam memberikan pelayanan profesional . semua ini dapat dicapai apabila bidan mampu menunjukkan kemampuannya baik dalam bidang pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang di dasari oleh ilmu yang jelas, serta mendokumentasikan semua hasil kerja yang telah di laksanakan secara baik dan benar. Akhirnya dokumentasi dapat meningkatkan kesinambungan perawatan pasien, dan menguatkan akuntabilitas, dan tanggung jawab bidan dalam mengimplementasikan, dan mengevaluasi pelayanan yang diberikan serta membantu institusi untuk memenuhi syarat akreditasi dan hukum. Manajemen kebidanan merupakan metode atau bentuk pendekatan yang digunakan bidan dalam memberikan asuhan kebidanan sehingga langkah-langkah manajemen kebidanan merupakan alur pikir bidan dalam pemecahan masalah atau pengambilan keputusan klinis.asuhan yang dilakukan harus dicatat secara benar, sederhana, jelas, dan logis. Dokumentasi ini perlu karna dapat digunakan sebagai bahan untuk mempertanggung jawabkan tindakan yang dilakukan dan juga bila ada kejadian gunggatan, maka dokumentasi kebidanan dapat memebantu. Bidan sebagai tenaga kesehatan dan pelaksana asuhan kebidanan wajib mencatat dan melaporkan kegiatannya yang dokumentasinya harus tersimpan dengan baik. Sistem pendokumentasian yang dilaksanakan dapat memberikan manfaat antara lain sebagai sarana komunikasi antara tenaga kesehatan, sarana untuk dapat mengikuti perkembangan dan evaluasi pasien, dapat dijadikan data penelitian dan pendidikan, dan mempunyai nilai hukum merupakan dokumentasi yang sah. Dalam kebidanan banyak hal penting yang harus didokumentasikan yaitu segala asuhan atau tindakan yang diberikan oleh bidan baik pada ibu hamil, bersalin, nifas, bayi, dan keluarga berencana.

1. PENGERTIAN DOKUMENTASI Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang berarti bahan pustaka, baik yang berbentuk tulisan maupun rekaman lainnya seperti dengan pita suara/cassete,vidio,film,gambar dan foto (suyono trino). Dalam kamus besar bahasa indonesia adalah surat yang tertulis/tercetak yang dapat di pakai sebagai bukti keterangan (seperti akta kelahiran, surat nikah, surat perjanjian, dan sebagainya). Dokumen dalam bahasa inggris berarti satu atau lebih lembar kertas resmi (offical) dengan tulisan di atasnya. Secara umum dokumentasi dapat di artikan sebagai suatu catatan otentik atau semua surat asli yang dapat di rtikan sebagai suatu catatan otentik atau semua surat asli yang dapat di buktikan atau di jadikan bukti dalam persoalan hukum. Dokumentasi adalah suatu proses pencatatan, penyimpanan informasi data atau fakta yang bermakna dalam pelaksanaan kegiatan(peter Sali). Menurut frances fischbbaach (1991) isi dan kegiatan dokumentasi apabila di terapkan dalam asuhan kebidanan adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5.

Tulisan yang berisi komunikasi tentang kenyataan yang essensial untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi untuk suatu periode tertentu. Menyiapkan dan memelihara kejadian-kejadian yang di perhitungkan melalui gambaran, catatan /dokumentasi. Membuat catatan pasien yang otentik tentang kebutuhan asuhan kebidanan, Memonitor catatan profesional dan data dari pasien, kegiatan perawatan, perkembangan pasien menjadi sehat atau sakit dan hasil asuhan kebidanan. Melaksanakan kegiatan perawatan, mengurangi penderitaan dan perawatan pada pasien yang hampir meninggal dunia.

Dokumentasi mempunyai 2 sifat yaitu tertutup dan terbuka, tertutup apabila di dalam berisi rahasia yang tidak pantas di perlihatkan, di ungkapakan dan di sebarluaskan kepada masyarakat.terbuka apabila dokumen tersebut selalu berinteraksi fengan lingkungan nya yang menerima dan menghimpun informasi. Dokumentasi dalam kebidanan adalah suatu bukti pencatatan dan pelaporan yang di miliki oleh bidan dalam melakukan catatan perawatan yang berguna untuk kepentingan Klien, bidan dan tim kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan dengan dasar komunikasi yang akurat dan lengkap secara tertulis dengan tanggung jawab bidan. Dokumentasi dalam asuhan kebidanan merupakan suatu pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap keadaan/kejadian yang dilihat dalam pelaksanaan asuhan kebidanan (proses asuhan kebidanan). Pendokumentasian dari asuhan kebidanan dirumah sakit dikenal dengan istilah rekam medic. dokumentasi kebidanan menurut SK MenKes RI 749 adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen yang berisi tentang identitas: Anamnesa, pemeriksaan, tindakan dan pelayanan lain yang diberikan kepada seseorang kepada seorang pasien selama dirawat dirumah sakit yang dilakukan di unit-unit rawat termasuk UGD dan unit rawat inap. Dokumentasi berisi dokumen/pencatatan yang member bukti dan kesaksian tentang sesuatu atau suatu pencatatan tentang sesuatu. 1. TUJUAN DOKUMENTASI KEBIDANAN catatan pasien merupakan suatu dokumentasi legal berbentuk tulisan, meliputi keadaan sehat dan sakit pasien pada masa lampau dan masa sekarang, menggambarkan asuhan kebidanan yang diberikan. Dokumentasi asuhan kebidanan pada pasien dibuat untuk menunjang tertibnya administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan ditempat-tempat pelayanan kebidanan antara lain: Puskesmas, rumah bersalin, atau bidan praktik swasta. Semua instansi kesehatan memilih dokumen pasien yang dirawatnya walaupun bentuk formulir dokumen masing-masing instansi berbeda. Tujuan dokumen pasien adalah untuk menunjang tertibnya administrasi dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan dirumah sakit/puskesmas.selain sebagai suatu dokumen rahasia, catatan tentang pasien juga mengidentifikasi pasien dan asuhan kebidanan yang telah diberikan. Adapun tujuan dokumentasi kebidanan adalah sebagai berikut: 1. Sebagai sarana komunikasi Komunikasi terjadi dalam tiga arah: 1. Ke bawah untuk melakukan instruksi 2. Ke atas untuk member laporan 3. Ke samping (lateral) untuk member saran Dokumentasi yang dikomunikasikan secara akurat dan lengkap dapat berguna untuk: Membantu koordinasi asuhan kebidanan yang diberikan oleh tim kesehatan Mencegah informasi yang berulang terhadap pasien atau anggota tim kesehatan atau mencegah tumpang tindih, bahkan sama sekali tidak dilakukan untuk mengurangi kesalahan dan meningkatkan ketelitian dalam memberikan asuhan kebidanan pada pasien. Membantu tim bidan dlam menggunakan waktu sebaik-baiknya. 2. Sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat Sebagai upaya untuk melindungi pasien terhadap kualitas pelayanan keperawatan yang diterima dan perlindungan terhadap keamanan perawat dalam melaksanakan tugasnya, maka perawat/bidan diharuskan mencatat segala tindakan yang dilakukan terhadap pasien. Hal ini penting berkaitan dengan langkah antisipasi terhadap ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan yang diberikan dan kaitannya dengan aspek hukum yang dapat dijadikan settle concern, artinya dokumentasi dapat digunakan untuk menjawab ketidakpuasan terhadap pelayanan yang diterima secara hukum. 3. Sebagai informasi statistic Data statistic dari dokumentasi kebidanan dapat membantu merencanakan kebutuhan dimasa mendatang, baik SDM, sarana, prasaran dan teknis. Penting kiranya untuk terus menerus member informasi kepada orang tentang apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan, serta segala perubahan dalam pekerjaan yang telah ditetapkan. 4. Sebagai sarana pendidikan Dokumentasi asuhan kebidanan yang dilaksanakan secara baik dan benar akan membantu para siswa kebidanan maupun siswa kesehatan lainnya dalam proses belajar mengajar untuk mendapatkan pengetahuan dan membandingkannya, baik teori maupun praktek lapangan. 5. Sebagai sumber data penelitian Informasi yang ditulis dalam dokumentasi dapat digunakan sebagai sember data penelitian. Hal ini erat kaitannya dengan yang dilakukan terhadap asuhan kebidanan yang diberikan, sehingga melalui penelitian dapat diciptakan satu bentuk pelayanan keperawatan dan kebidanan yang aman, efektif dan etis. 6. Sebagai jaminan kualitas pelayanan kesehatan Melalui dokumentasi yang diakukan dengan baik dan benar, diharapkan asuhan kebidanan yang berkualitas dapat dicapai, karena jaminan kulitas merupakan bagian dari program pengembangan pelayanan kesehatan. Suatu perbaikan tidak dapat diwujudkan tanpa dokumentasi yang kontinu, akurat dan rutin baik yang dilakukan oleh bidan maupun tenaga kesehatan lainnya. Audit jaminan kualitas membantu untuk menetapkan suatu akreditasi pelayanan kebidanan daam mencapai standar yang telah ditetapkan. 7. Sebagai sumber data asuhan kebidanan berkelanjutan. Dengan dokumentasi akan didapatkan data yang actual dan konsisten mencakup seluruh asuhan kebidanan yang dilakukan. 8. Untuk menetapkan prosedur dan standar Prosedur menentukan rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan, sedangkan standar menentukan aturan yang akan dianut dalam menjalankan prosedur tersebut. 9. Untuk mencatat Dokumentasi akan diperluakn untuk memonitor kinerja peralatan, system, dan sumber daya manusia. Dari dokumentasi ini, manajemen dapat memutuskan atau menilai apakah departemen tersebut memenuhi atau mencapai tujuannya dalam skala waktu dan batasan sumber dayanya. Selain itu manajemen dapat mengukur kualitas pekerjaan, yaitu apakah outputnya sesuai dengan spesifikasi dan standar yang telah ditetapkan. 1. Untuk member instruksi Dokumentasi yang baik akan membantu dalam pelatihan untuk tujuan penanganan instalasi baru atau untuk tujuan promosi. D.PRINSIP – PRINSIP DOKUMENTASI KEBIDANAN Catatan pasien merupakan dokumen yang legal dan bermanfaat sendiri juga bagi tenaga kesehatan yang mengandung arti penting dan perlu memperhatikan prinsip dokumentasi yang dapat ditinjau dari dua segi yaitu : 1. Prinsip pencatatan 2. Ditinjau dari isi Menpunyai nilai administative Suatu berkas pencatatan mempunyai nilai medis,karena catatan tersebut dapat digunakan sebagai dasar merencanakan tindakan yang harus diberikan kepada klien Mempunyai nilai hukum Semua catatan informasi tentang klien merupakan dokumentasi resmi dan bernilai hukum.bila terjadi suatu masalah yang berhubungan dengan profesi kebidanan,dimana bidan sebagai pemberi jasa,maka dokumentasi dapat digunakan sewaktu-waktu,sebagai barang bukti di pengadilan.oleh karena itu data-data harus di identifikasi secara lengkap,jelas,objektif dan ditandatangani oleh tenaga kesehatan Mempunyai nilai ekonomi Dokumentasi mempunyai nilai ekonomi,semua tindakan kebidanan yang belum,sedang,dan telah diberikan dicatat dengan lengkap yang dapat digunakan sebagai acuan atau pertimbangan biaya kebidanan bagi klien Mempunyai nilai edukasi Dokumentasi mempunyai nilai pendidikan, karena isi menyangkut kronologis dari kegiatan asuhan kebidanan yang dapat dipergunakan sebagai bahan atau referensi pembelajaran bagi siswa atau profesi kesehatan lainnya Mempunyai nilai penelitian Dokumentasi kebidanan mempunyai nilai penelitian,data yang terdapat didalamnya dapat dijadikan sebagai bahan atau objek riset dan pengembangan profesi kebidanan 1. Ditinjau dari teknik pencatatan 1. Menncantumkan nama pasien pada setiap lembaran catatan 2. Menulis dengan tinta (idealnya tinta hitam) 3. Menulis/menggunakan denga symbol yang telah disepakati oleh institusi untuk mempercepat proses pencatatan 4. Menulis catatan selalu menggunakan tanggal,jam tindakan atau observasi yang dilakukan sesuai dengan kenyataan dan bukan interpretasi 5. Hindarkan kata-kata yang mempunyai unsur penilaian,misalnya:tampaknya,rupanya dan yang bersifat umum 6. Tuliskan nama jelas pada setiap pesanan, pada catatan observasi dan pemeriksaan oleh orang yang melakukan 7. Hasil temuan digambarkan secara jelas termasuk keadaan,tanda,gejala,warna,jumlah,dan besar dengan ukuran yang lazim digunakan 8. Interpretasi data objektif harus didukung oleh observasi 9. Kolom jangan dibiarkan kosong,beri tanda bila tidak ada yang perlu ditulis 10. Coretan harus disertai paraf disampingnya 2. 3. 4. 5.

Sistem pencatatan Model naratif Model orientasi masalah Model fokus

Beberapa prinsip dalam membuat dokumentasi harusnya seperti berikut : Simplicity (kesederhanaan) Pendokumentasian menggunakan kata-kata yang sederhana,mudah dibaca,dimengerti, dan perlu dihindari istilah yang dibuat-buat sehingga mudah dibaca Conservatism Dokumentasi harus benar-benar akurat yaitu didasari oleh informasi dari data yang dikumpulkan.dengan demikian jelas bahwa data tersebut berasal dari pasien, sehingga dapat dihindari kesimpulan yang tidak akurat.sebagai akhir catatan ada tanda tangan dan nama jelas pemberi asuhan Kesabaran Gunakan kesabaran dalam membuat dokumentasi dengan meluangkan waktu untuk memeriksa kebenaran kebenaran terhadap data pasien yang telah atau sedang diperiksa Precision (ketepatan) Ketepatan dalam pendokumentasian merupakan syarat yang sangat diperlukan.untuk memperolehh ketepatan perlu pemeriksaan dengan menggunakan teknologi yang lebih tinggi seperti menilai gambaran klinis dari pasien,laboratorium, dan pemeriksaan tambahan. Irrefutability (jelas dan objektif) Dokumentasi memerlukan kejelasan dan objektivitas dari data-data yang ada,bukan data samaran yang dapat menimbulkankan kerancuan Confidentiality (rahasia) Informasi yang dapat dari pasien didokumentasikan dan petugas wajib menjaga atau melindungi rahasia pasien yang bersangkutan Dapat dibuat catatan secara singkat,kemudian dipindahkan secara lengkap (dengan nama dan identifikasi yang jelas) Tidak mencatat tindakan yang belum dilaksanakan Hasil observasi atau perubahan yang nyata harus segera dicatat Dalam keadaan emergency dan bidannya terlibat langsung dalam tindakan, perlu ditugaskan seseorang khusus untuk mencatat semua tindakan secara berurutan Selalu tulis nama jelas dan jam serta tanggal tindakan dilaksanakan E.ASPEK LEGAL DALAM DOKUMENTASI Rekam medis yang mudah dibaca dan akurat merupakan dokumentsai pelayanan kesehatan yang sangat menentukan yang mengkomunikasikan informasi penting tentang pasien ke berbagai profesional.Dalam kasus hukum,rekam medis dapat menjadi landasan berbagai kasus gugatan atau sebagai alat pembela diri Bidan,Perawat,Dokter atau fasilitas. Tujuan utama dokumentasi kebidanan adalah untuk menyampaikan informasi penting tentang pasien. Rekam medis digunakan untuk mendokumentasikan proses kebidanan dan memenuhi kewajiban profesional bidan untuk mengkomunikasikan informasi penting. Data dalam pencatatan tersebut harus berisi informasi spesifik yang memberi gambaran tentang pasien dan pemberian asuhan kebidanan. Evaluasi status pasien harus dimasukan dalam catatan tersebut. Aspek legal dalam pendokumentasian kebidanan terdapat 2 tipe tindakan legal: 1. Tindakan sipil atau pribadi Tindkan sipil berkaitan dengan isu antar individu 2. Tindakan kriminal Tindakan kriminal berkaitan dengan perselisihan antara individu dan masyarakat secara keseluruhan . Menurut hukum jika sesuatu tidak didokumentasikan berarti pihak yang bertanggung jawab tidak melakukan apa yang seharusnyan dilakukan.Jika bidan tidak melaksanakan atau menyelesaikan suatau aktivitas atau mendokumentasikan secara tidak benar, dia bisa dituntut melakukan mal praktik. Dokumentasi kebidanan harus dapat dipercaya secara legal, yaitu harus meberikan lapporan yang akurat mengenai perawatan yang diterima klien. 1. Manfaat Dokumentasi Berapa manfaat dokumentasi ditinjau dari berbagai aspek antara lain yaitu :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Aspek Administrasi Untuk mendefinisikan fokus asuhan bagi klien atau kelompok Untuk membedakan tanggung gugat bidan dari tanggung gugat anggota tim pelayana kesehatan yang lain Untuk memberikan penelahaan dan pengevaluasian asuhan (perbaikan kualitas ) Untuk memberikan kriteria klasifikasi pasien Untuk memberikan justifikasi Untuk memberikan data guna tinjauan adminitrasi dan legal Untuk memenuhi persyaratan hukum, akreditasi dan profesional Untuk memberikan data penelitian dan tujuan pendidikan Aspek Hukum

Semua catatan informasi tentang klien merupakan dokumentasi resmi dan bernilai hukum. Bila terjadi suatu masalah yang berhubungan dengan profesi kebidanan, dimana bidan sebagai pemberi jasa dan klien sebagai pengguna jasa,maka dokumentasi diperlukan sewaktu-waktu. Dokumentasi tersebut dapat dipergunakan sebagai barang bukti dipengadilan. Oleh karena itu data-data harus diidentifikasi secara lengkap,jelas, objektif, dan ditandatangani oleh pemberi asuahan, tanggal dan perlunya dihindari adanya penulisan yang dapat menimbulkan interprestasi yang salah. 3. Aspek Pendidikan Dokumentasi mempunyai manfaat pendidikan karena isinya menyangkut kronologis dari kegiatan asuhan yang dapat dipergunakan sebagai bahan atau referensi pembelajaran bagi siswa atau profesi. 4. Aspek Penelitian Dokumentasi mempunyai manfaat penelitian. Data yang terdapat didalamnya mengandung informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan atau objek riset dan pengembangan profesi. 5. Aspek Ekonomi Dokumentasi mempunyai efek secara ekonomi, semua tindakan atau asuhan yang belum,sedang, dan telah diberikan dicatat dengan lengkap yang dapat dipergunakan sebagai acuhan atau pertimbangan dalam biaya bagi klien. 6. Aspek Manajemen Melalui dokumentasi dapat dilihat sejauh mana peran dalam fungsi bidan dalam memberikan asuhan kepada klien. Dengan demikian akan dapat diambil kesimpulan tingkat keberhasilan pemberian asuhan guna pembinaan dan pengembangan lebih lanjut. BAB II PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEBIDANAN Dokumentasi asuhan kebidanan pada ibu nifas (postpartum) merupakan bentuk catatan dari asuhan kebidanan yang diberikan pada ibu nifas (postpartum),yakni segera setelah kelahiran sampai enam minggu setelah kelahiran yang meliputi pengkajian,pembuatan diagnosis kebidanan,pengidentifikasian masalah terhadap tindakan segera dan melakukan kolaborasi dengan dokter atau tenaga kesehatan lain,serta menyusun asuhan kebidanan dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah sebelumnya. Beberapa teknik penulisan dalam dokumentasi asuhan kebidanan pada ibu nifas (postpartum) antara lain sebagai berikut: 1.mengumpulkan data Data yang dikumpulkan pada masa postpartum adalah sebagai berikut:catatan pasien sebelumnya seperti catatan perkembangan ante dan intranatal,lama postpartum,catatan perkembangan,suhu,denyut nadi,pernapasan,tekanan darah,pemeriksaan laboratorium dan laporan pemeriksaan tambahan,catatan obat-obatan,riwayat kesehatan ibu seperti mobilisasi,buang air kecil,buang air besar,nafsu makan,ketidaknyamanan atau rasa sakit,kekhawatiran,makanan bayi,reaksi bayi,reaksi proses melahirkan dan kelahiran,kemudian pemeriksaan fisik bayi,tanda-tanda vital,kondisi payudara,puting susu,pemeriksaan abdomen,kandung kemih,uterus,lochea mulai warna,jumlah dan banyak,pemeriksaan perineum,seperti adanya edema,inflamasi,hematoma,pus,luka bekas episiotomi,kondisi jahitan,ada tidaknya hemorhoid,pemeriksaan ekstremitas seperti ada tidaknya varises,refleks,dan lain-lain. 2.melakukan interpretasi data dasar Interpretasi data dasar yang akan dilakukan adalah beberapa data yang ditemukan pada saat pengkajian postpartum seperti: Diagnosis :postpartum hari pertama perdarahan nifas postsectio cesaria dan lain-lain Masalah :kurang informasi tidak pernah ANC dan lain-lain 3.melakukan identifikasi diagnosis atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya Beberapa hasil dari interpretasi data dasar dapat digunakan dalam identifikasi diagnosis atau masalah potensial kemungkinan sehingga akan ditemukan beberapa diagnosis atau masalah potensial pada masa postpartum,serta antisipasi terhadap masalah yang timbul. 4.menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera atau masalah potensial pada masa postpartum. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi dan melakukan konsultasi,dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi pasien. 5.menyusun rencana asuhan yang menyeluruh Rencana asuhan menyeluruh pada masa postpartum yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut: a.manajemen asuhan awal puerperium 1.kontak dini sesering mungkin dengan bayi 2.mobilisasi di tempat tidur 3.diet 4.perawatan perineum 5.buang air kecil spontan/kateter 6.obat penghilang rasa sakit kalau perlu 7.obat tidur kalau perlu 8.obat pencahar 9.dan lain-lain b.asuhan lanjutan 1.tambahan vitamin atau zat besi jika diperlukan 2.perawatan payudara 3.rencana KB 4.pemeriksaan laboratorium jika diperlukan 5.dan lain-lain 6.melaksanakan perencanan Tahap ini dilakukan dengan melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara menyeluruh yang dibatasi oleh standar asuhan kebidanan pada masa postpartum. 7.evaluasi Evaluasi pada masa postpartum dapat menggunakan bentuk SOAP,sebagai berikut: S:data objektif Berisi tentang data dari pasien melalui anamnesis (wawancara)yang merupakan ungkapan langsung. O:data objektif Data yang didapat dari hasil observasi melalui pemeriksaan fisik pada masa postpartum A:analisis dan interpretasi Berdasarkan data yang terkumpul kemudian dibuat kesimpulan meliputi diagnosis,antisipasi diagnosis atau masalah potensial,serta perlu tidaknya dilakukan tindakan segera. P: Perencanaan Merupakan rencana dan tindakan yang akan di berikan termasuk asuhan mendiri,kaolaborasi, tes diagnosis atau laboratorium serta konseling untuk tindak lanjut. MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS No. MR : …………………………….. Masuk tgl/ jam : …………………………….. 1. PENGKAJIAN ( Tanggal/ jam : ………………………………..) A. Identitas / Biodata Nama : …………………………………….. Nama suami : ……………………………….. Umur : …………………………………….. Umur : ……………………………….. Suku / Bangsa : ………………………………… Suku / Bangsa : ……………………………….. Agama : ………………………………… Agama : ……………………………….. Pendidikan : ………………………………… Pendidikan : ……………………………….. Pekerjaan : ………………………………… Pekerjaan : ……………………………….. Alamat kantor: …………………………………. Alamat Kantor : ……………………………….. ………………………………… ………………………………… No. Telp : ………………………………… No. Telp : ……………………………….. Alamat rumah : ………………………………… No. Telp : ………………………………… 1. Anamnesa (Data Subjektif) 1. Keluhan Utama : ………………………………………………………………………….. 2. Riwayat Perkawinan Perkawinan ke………. menikah sejak umur……………. lama perkawinan……………………….. 3. Riwayat Obstetrik A. Kehamilan, persalinan, nifas dan anak yang lalu No



Tgl lahir



Usia kehamilan



Jenis persalinan



Tempat persalinan



Komplikasi

Penolong

Ibu

Bayi







Bayi

Nifas

PB/ BB/ JK

Keadaan

Lochea

Laktasi









1. Kehamilan sekarang Umur kehamilan : ………………………………………………………………………………………. Pergerakan janin pertama kali dirasakan : ……………………………………………………… ANC :……………………kali,di………………………………………………………………………….. Imunisasi TT: ……………………………. kali, Tanggal : ………………………………………… 1. Persalinan sekarang Tanggal Persalinan : …………………………………. jam : …………………………………… Jenis Persalinan : ………………………………….. Lama Persalinan : Kala I : ………………… Kala III : ……………………….. Kala II : …………………. Keadaan ketuban : Pecah jam : ………………… Warna : …………………………. Jumlah : …………………………….. Bau : …………………………….. Keadaan Plasenta : Berat : ………………………… Panjang :…………………………. Insersi : ………………………. Tali pusat : Panjang : …………………………………… Kelainan : ……………………………. Laserasi jalan lahir : ada / tidak ada derajat : I / II / III / IV 4. Riwayat KB No

PASANG

LEPAS

Metode

Tgl

Petugas

Tempat

Ket

Tgl

Petugas

Tempat

Alasan

Ket



































































5. Riwayat Kesehatan A. Kesehatan yang lalu :…………………………………………………………………………….. 1. Kesehatan sekarang :……………………………………………………………………………… 1. Kesehatan keluarga :……………………………………………………………………………… 6. Pola kebutuhan sehari – hari A. Nutrisi Porsi makan sehari : Jenis : Makanan pantang : Pola minum : 1. Eliminasi BAK

BAB

Frek : …………………………. Warna : …………………………. Keluhan : ………………………….

Frek : …………………………. Warna : …………………………. Konsistensi : …………………………. Keluhan : ………………………….

1. Istirahat Istirahat siang : …………………………. Istirahat malam : …………………………. 1. Aktivitas Beban kerja : ………………………………………………………………………….. Olah raga : ………………………………………………………………………….. 1. Kegiatan spiritual : ………………………………………………………………………….. 2. Hubungan seksual: …………………………………………………………………………… 7. Psikososial spiritual A. Respon ibu dan keluarga terhadap masa nifas :………………………………………………….. B. Dukungan keluarga : …………………………………………………. 1. PEMERIKSAAN FISIK (Data Objektif) 1. Pemeriksaan Umum Kesadaran : …… Pernafasan : ……x/menit TD : ……….mmHg BB : …….. kg Nadi : ………x/menit TB : …. cm Suhu : ……°C 2. Pemeriksaan Khusus Kepala : ……………………………………………….. Rambut : ……………………………………………….. Mata : ……………………………………………….. Muka : ……………………………………………….. Mulut : ……………………………………………….. Gigi : ……………………………………………….. Leher : ……………………………………………….. Payudara : Kolostrum/cairan lain: ……………………………………………….. Abdomen : TFU : ……………………………………………….. Kontraksi : ……………………………………………….. Genitalia : Lokhea : ………………………………………………. Varices : ……………………………………………….. Oedema : ……………………………………………….. Anus : Haemoroid : ada / tidak Ekstremitas Atas Bawah Oedema : …………. Oedema : …………. Sianosis : …………. Varices : …………. Pergerakan : …………. Pergerakan : …………. Tanda flebitis : ………….. 3. Pemeriksaan penunjang 4. Hb : …………………………….. 5. Urin : ……………………………. 1. INTERPRETASI DATA 2. diagnose kebidanan : Contoh : seorang primipara dalam nifas …. Jam/…. Hari normal dalam fase…. Nifas post SC : tergantung hasil pengkajian Fisiologis : sub involusio normal , tidak ada infeksi Patologis : jika ada infeksi Data dasar : DS/DO 1. Masalah Data dasar : DS/DO DIAGNOSA POTENSIAL 1. ANTISIPASI MASALAH 1. PERENCANAAN 1. PELAKSANAAN EVALUASI CATATAN PERKEMBANGAN Tanggal ……………………………………………. Jam…………………………… DATA SUBJEKTIF ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… DATA OBJEKTIF ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… ASSESMENT ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… PLANNING ( termasuk pendokumentasian , implementasi dan evaluasi ) DAFTAR PUSTAKA Komariah, k (2005). Perawatan ibu masa nifas dan bayi baru lahir. Jakarta. Bennet and Linda, 2005, Myles Textbook for Midwifery, UK London Seller, P.M., 2000, Midwifery, Vol. 1 dan 2, 1st Edition, Juta & Co.Ltd, Cape Town Varney, 1997, Varney’s Midwifery, 3rd Edition, Jones and Barlet Publishers, Sudbury: England Categories: Uncategorized | Leave a comment

MAKALAH MUTU PELAYANAN KEBIDANAN Posted on August 18, 2014 by zatalinaanwarafit23d BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Standar layanan kebidanan merupakan suatu alat organisasi untuk menjabarkan mutu layanan Kebidanan ke dalam terminologi operasional sehingga semua orang yang terlibat dalam layanan kebidanan akan terikat dalam suatu sistem, baik pasien, penyedia layanan kebidanan, penunjang layanan kebidanan , ataupun manajemen organisasi layanan kebidanan, dan akan bertanggung gugat dalam menjalankan tugas dan perannya masing-masing. Dengan mengetahui standar pelayanan kebidanan dasar kita dapat menjadikan acuan dalam memperbaiki kinerja pelayanan kebidanan. Dengan menggunakan standar pelayanan kebidanan dapat menjadikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan berkualitas. Bidan bekerja berdasarkan pada pandangan filosofi yang dianut keilmuan, metode kerja, standar praktik, pelayanan dan kode etik profesi yang dimiliki. Suatu jabatan profesi yang disandang oleh anggota profesi tentu mempunyai ciri- ciri yang mampu menunjukkan sebagai jabatan yang professional. Pengembangan karir bidan meliputi karir fungsional dan karir struktural.Pada saat ini pengembangan karir bidan secara fungsional telah disiapkan dengan jabatan fungsional bidan,serta melalui pendidikan berkelanjutan baik secara formal maupun non formal yang hasil akhirnya akan meningkatkan kemampuan profesional bidan dalam melaksanakan fungsinya. Fungsi bidan nantinya dapat sebagai pelaksana, pendidik, peneliti, dan bidan koordinator. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang di maksud dengan Standar Pelayanan Kebidanan Dasar? 2. apakah isi dari Standar 13 sampai standar 16 pelayanan kebidanan dasar?? 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui yang dimaksud Standar Pelayanan Kebidanan Dasar. 2. Untuk mengetahui isi dari Standar 13 sampai standar 16 pelayanan kebidanan dasar BAB II PEMBAHASAN 2.1 STANDAR PELAYANAN KEBIDANAN DASAR 1. Pengertian Menurut Clinical Practice Guideline (1990) Standar adalah keadaan ideal atau tingkat pencapaian tertinggi dan sempurna yang dipergunakan sebagai batas penerimaan minimal. Menurut Donabedian (1980) Standar adalah rumusan tentang penampilan atau nilai diinginkan yang mampu dicapai, berkaitan dengan parameter yang telah ditetapkan. Menurut Rowland and Rowland (1983) Standar adalah spesifikasi dari fungsi atau tujuan yang harus dipenuhi oleh suatu sarana pelayanan kesehatan agar pemakai jasa pelayanan dapat memperoleh keuntungan yang maksimal dari pelayanan kesehatan yang diselenggarakanSecara luas. Secara luas, pengertian standar layanan kebidanan merupakansuatu pernyataan tentang mutu yang diharapkan, yaitu akan menyangkut masukan, proses dan keluaran (outcome) sistem layanankebidanan. Standar layanan kebidanan merupakan suatu alat organisasi untuk menjabarkan mutu layananKebidanan ke dalam terminologi operasional sehingga semua orang yang terlibat dalam layanan kebidanan akan terikat dalam suatu sistem, baik pasien, penyedia layanan kebidanan, penunjang layanan kebidanan , ataupun manajemen organisasi layanan kebidanan, dan akan bertanggung gugat dalam menjalankan tugas dan perannya masing-masing. Sehingga, Standar Pelayanan Kebidanan Dasar adalah norma dan tingkat kinerja yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. 1. 2. 3. 4.

Syarat Standart Dapat diobservasi dan diukur Realistik Mudah dilakukan dan dibutuhkan

. 2.2 PENGENALAN STANDART PELAYANAN KEBIDANAN Standar Pelayanan Kebidanan terdiri dari 24 Standar, meliputi : 1. Standar Pelayanan Umum (2 standar) Standar 1 : Persiapan untuk Kehidupan Keluarga Sehat Bidan memberikan penyuluhan dan nasehat kepada perorangan, keluarga dan masyarakat terhadap segala hal yang berkaitan dengan kehamilan, termasuk penyuluhan kesehatan umum, gizi, keluarga berencana, kesiapan dalam menghadapi kehamilan dan menjadi calon orang tua, menghindari kebiasaan yang tidak baik dan mendukung kebiasaan yang baik. Standar 2 : Pencatatan dan Pelaporan Bidan melakukan pencatatan semua kegiatan yang dilakukannya, yaitu registrasi. Semua ibu hamil di wilayah kerja, rincian pelayanan yang diberikan kepada setiap ibu hamil/bersalin/nifas dan bayi baru lahir, semua kunjungan rumah dan penyuluhan kepada masyarakat. Di samping itu bidan hendaknya mengikutsertakan kader untuk mencatat semua ibu hamil dan meninjau upaya masyarakat yang berkaitan dengan ibu hamil dan bayi baru lahir. Bidan meninjau secara teratur catatan tersebut untuk menilai kinerja dan penyusunan rencana kegiatan untuk meningkatkan pelayanannya. 1. Standar Pelayanan Antenatal (6 standar) Standar 3 : Identifikasi Ibu Hamil Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan memotivasi ibu, suami, dan anggota keluarganya agar mendorong ibu untuk memeriksakan kehamilannya sejak dini dan secara teratur Standar 4 : Pemeriksaan dan Pemantauan Antenatal Bidan memberikan sedikitnya 4x pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliput anamnesis dan pemantauan ibu janin dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenali kehamilan risti/ kelainan, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, PMS, infeksi HIV, memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan kesehatan serta tugas terkait lainnya yang diberikan oleh puskesmas. Mereka harus mencatat data yang tepat pada setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan, mereka harus mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan merujuknya untuk tindakan selanjutnya. Standar 5 : Palpasi dan Abdominal Bidan melakukan pemeriksaan abdominal dan melakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan; serta bila kehamilan bertambah memeriksa posisi, bagian terendah janin dan masuknya kepala janin kedalam rongga panggul, untuk mencari kelainan dan melakukan rujukan tepat waktu. Standar 6 : Pengelolaan Anemia pada Kehamilan Bidan melakukan tindakan pencegahan, penemuan, penanganan dan rujukan semua kasus anemia pada kehamilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Standar 7 : Pengelolaan Dini Hipertensi pada Kehamilan Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan mengenal tanda serta gejala preeklampsia lainnya, serta mengambil tindakan yang tepat dan merujuknya. Standar 8 : Persiapan Persalinan Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami serta keluarganya pada trimester ketiga, untu memastikan bahwa persiapan persalinan yang bersih dan aman serta suasana yang menyenangkan akan direncanakan dengan baik, disamping persiapan transportasi dan biaya untuk merujuk, bila tiba-tiba terjadi keadaan gawat darurat. Bidan hendaknya melakukan kunjungan rumah untuk hal ini. 1. Standar Pertolongan Persalinan (4 standar) Standar 9 : Asuhan Persalinan Kala I Bidan menilai secara tepat bahwa persalian sudah mulai, kemudian memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai, dengan memperhatikan kebutuhan klien, selama proses persalinan berlangsung. Standar 10 : Persalinan Kala II yang Aman Bidan melakukan pertolongan persalinan yang aman, dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap klien serta memperhatikan tradisi setempat Standar 11 : Penatalaksanaan Aktif Persalinan Kala III Bidan melakukan penegangan tali pusat dengan benar untuk membantu pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap. Standar 12 : Penanganan Kala II dengan Gawat Janin melalui Episiotomi. Bidan mengenali secara tepat tanda-tanda gawat janin pada kala II yang lama, dan segera melakukan episiotomi dengan aman untuk memperlancar persalinan, diikuti dengan penjahitan perineum. 1. Standar Pelayanan Nifas (3 standar) Standar 13 : Perawatan Bayi Baru Lahir Tujuan : Menilai kondisi bayi baru lahir dan membantu dimulainya pernafasan serta mencegah hipotermi, hipokglikemia dan infeksi Pernyataan standar: Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernafasan spontan mencegah hipoksia sekunder, menemukan kelainan, dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. Bidan juga harus mencegah dan menangani hipotermia Standar 14 : Penanganan pada Dua Jam Pertama Setelah Persalinan Tujuan : Mempromosikan perawatan ibu dan bayi yang bersi dan aman selama kala 4 untuk memulihkan kesehatan bayi, meningkatkan asuhan sayang ibu dan sayang bayi, memulai pemberian IMD Pernyataan standar : Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi dalam dua jam setelah persalinan, serta melakukan tindakan yang di perlukan Standar 15 : Pelayanan bagi Ibu dan Bayi pada Masa Nifas Tujuan : Memberikan pelayanan kepada ibu dan bayi sampai 42 hari setelah persalinan dan penyuluhan ASI ekslusif Pernyataan standar : Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah pada hari ketiga, minggu ke dua dan minggu ke enam setelah persalinan, untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang benar, penemuan dini penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB 1. Standar Penanganan Kegawatdaruratan Obstetri-Neonatal (9 standar) Standar 16 : Penanganan Perdarahan dalam Kehamilan pada Trimester III Tujuan : Mengenali dan melakukan tindakan cepat dan tepat perdarahan dalam trimester 3 kehamilan Pernyataan standar : Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala perdarahan pada kehamilan, serta melakukan pertolongan pertama dan merujuknya Standar 17 : Penanganan Kegawatan dan Eklampsia Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala eklampsia mengancam, serta merujuk dan/atau memberikan pertolongan pertama Standar 18 : Penanganan Kegawatan pada Partus Lama/Macet Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala partus lama/macet serta melakukan penanganan yang memadai dan tepat waktu atau merujuknya Standar 19 : Persalinan dengan Penggunaan Vakum Ekstraktor Bidan mengenali kapan diperlukan ekstraksi vakum, melakukannya dengan benar dalam memberikan pertolongan persalinan dengan memastikan keamanannya bagi ibu dan janin/bayinya. Standar 20 : Penanganan Retensio Plasenta Bidan mampu mengenali retensio plasenta, dan memberikan pertolongan pertama termasuk plasenta manualdan penanganan perdarahan, sesuai dengan kebutuhan. Standar 21 : Penanganan Perdarahan Post Partum Primer Bidan mampu mengenali perdarahan yang berlebihan dalam 24 jam pertama setelah persalinan (perdarahan post partum primer) dan segera melakukan pertolongan pertama untuk mengendalikan perdarahan. Standar 22 : Penanganan Perdarahan Post Partum Sekunder Bidan mampu mengenali secara tepat dan dini tanda serta gejala perdarahan post partum sekunder, dan melakukan pertolongan pertama untuk penyelamatan jiwa ibu, atau merujuknya. Standar 23 : Penanganan Sepsis Puerperalis Bidan mampu mengamati secara tepat tanda dan gejala sepsis puerperalis, serta melakukan pertolongan pertama atau merujuknya. Standar 24 : Penanganan Asfiksia Neonatorum Bidan mampu mengenali dengan tepat bayi baru lahir dengan asfiksia, serta melakukan resusitasi, mengusahakan bantuan medis yang diperlukan dan memberikan perawatan lanjutan. Standar pelayanan kebidanan digunakan untuk menentukan kompetensi yang diperlukan bidan dalam menjalankan praktik sehari-hari. Standart pelayanan kebidanan juga dapat digunakan untuk: 1. Menilai mutu pelayanan 2. Menyususn rencana diklat bidan 3. Pengembangan kurikulum pendidikan bidan. BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan Standar Pelayanan Kebidanan Dasar adalah norma dan tingkat kinerja yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Standar Pelayanan Kebidananan terdiri dari 24 Standar. Syarat Standar Pelayanan Kebidanan yaitu : a. Dapat diobservasi dan diukur b. Realistik c. Mudah dilakukan dan dibutuhkan Standar pelayanan kebidanan digunakan untuk menentukan kompetensi yang diperlukan bidan dalam menjalankan praktik sehari-hari. Standart pelayanan kebidanan juga dapat digunakan untuk: 1. Menilai mutu pelayanan 2. Menyususn rencana diklat bidan 3. Pengembangan kurikulum pendidikan bidan Isi dari standar 13 sampai standar 16 pelayanan kebidanan yaitu : Standar 13 : Perawatan Bayi Baru Lahir Standar 14 : Penanganan pada Dua Jam Pertama Setelah Persalinan Standar 15 : Pelayanan bagi Ibu dan Bayi pada Masa Nifas Standar 16 : Penanganan Perdarahan dalam Kehamilan pada Trimester III B.Saran Untuk menjadi bidan yang memenuhi standar setiap mahasiswa harus bisa menguasai segala tindakan standar persyaratan minimal. Karena hal ini juga dapat mendukung terselengranya pelayanan kebidanan yang bermutu. Dan diharapkan kepada pembaca untuk dapat membaca atau mencari sumber – sumber untuk memperbaharui pengetahuan kita tentang standar pelayanan kebidanan dasar. DAFTAR PUSTAKA Al- Assaf. 2009. Mutu Pelayanan Kesehatan. EGC: Jakarta Yulifah, dkk. 2009. .Komunikasi dan Konseling Dalam Kebidanan. Jakarta. Salemba Medika Categories: Uncategorized | Leave a comment

LAPORAN PENDAHULUAN ( ROBEKAN JALAN LAHIR ) Posted on August 18, 2014 by zatalinaanwarafit23d LAPORAN PENDAHULUAN ROBEKAN JALAN LAHIR 1. Robekan Perineum Tempat yang paling sering mengalami robekan akibat persalinan adalah perineum. Robekan perineum terjadi hampir pada semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umunya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa, kepala janin melewati panggul dengan ukuran yang lebih besar. Menurut Sarwono, 2006, Robekan perineum dibedakan menjadi beberapa tingkat (grade)yaitu • Robekan perineum tingkat 1 Apabila hanya kulit perineum dan mukosa vagina yang robek dan biasanya tidak memerlukan penjahitan. • Robekan perineum tingkat 2 Pada robekan tingkat 2 ada robekan yang lebih mendalam dan luas ke vagina dan perineum dengan melukai fasia serta otot-otot diafragma urogenitalis. Pada robekan ini, setelah diberi anastesi local otot-otot diafragma urogenitalis dihubungkan di garis tengah dengan jahitan dan kemudian luka pada vagina dan kulit perineum ditutup dengan mengikutsertakan jaringan-jaringan di bawahnya. • Robekan perineum tingkat 3 Pada robekan tingkat 3 atau robekan total muskulus sfingter ani eksternum ikut terputus dan kadang-kadang dinding depan rectum ikut robek pula. Menjahit robekan tingkat 3 harus dilakukan dengan teliti, mula-mula dinding depan rectum yang robek dijahit , kemudian fasia-prasektal ditutup dan muskulus sfingter ani eksternum yang robek dijahit. Selanjutnya dilakukan penutupan robekan dengan mengikutsertakan jaringan-jaringan di bawahnya. Perlukaan perineum umumnya terjadi unilateral, namun dapat juga bilateral. Perlukaan pada diafragma urogenitalis dan muskulus levator ani yang terjadi pada waktu persalinan normal atau persalinan dengan alat dapat terjadi tanpa luka pada kulit perineum atau pada vagina, sehingga tidak kelihatan dari luar. Perlukaan demikian dapat melemahkan dasar panggul sehingga mudah terjadi prolapsus genitalia. Umumnya perlukaan perineum terjadi pada tempat dimana muka janin menghadap. Robekan perineum dapat mengakibatkan pula robekan jaringan pararektal sehingga rectum terlepas dari jaringan sekitarnya. Diagnose rupture perineum ditegakkan dengan pemeriksaan langsung. Pada tempat terjadinya robekan akan timbul perdarahan yang bersiafat arterial.(Sarwono, 2007) 2. Robekan Serviks Persalinan selalu mengakibatkan robekan serviks sehinggga serviks seorang multipara berbeda daripada yang belum pernah melahirkan per vaginam. Robekan serviks yang luas menimbulkan perdarahan dan dapat menjalar ke segmen bawah uterus. Apabila terjadi perdarahan yang tidak berhenti meskipun plasenta sudah lahir lengkap dan uterus berkontraksi baik, perlu dipikirkan perlukaan jalan lahir, khusunya robekan serviks uteri. Dalam keadaan ini serviks harus diperiksa dengan spekulum. Apabila ada robekan, serviks perlu ditarik keluar dengan beberapa cunam ovum supaya batas antara robekan dapat dilihat dengan baik. Jahitan pertama dilakukan pada ujung atas luka baru kemudian diadakan jahitan terus ke bawah. (Sarwono, 2006) Menurut Sarwono, 2007, bibir serviks uteri merupakan jaringan yang mudah mengalami perlukaan pada waktu persalinan. Karena perlukaan itu porsio vaginalis uteri pada seorang multipara terbagi dalam bibir depan dan belakang. Robekan serviks bisa menimbulkan perdarahan banyak khususnya bila jauh ke lateral sebab ditempat itu terdapat ramus desendens dari arteri uterine. Robekan ini dapat terjadi pada persalinan normal tetapi yang paling sering ialah akibat tindakan- tindakan pada persalinan buatan dengan pembukaan yang belum lengkap. Selain itu, penyebab lain robekan serviks adalah partus preipitatus. Pada partus ini kontraksi uterus kuat dan sering sehingga janin didorong keluar kadang-kadang sebelum pembukaan lengkap. Diagnose perlukaan serviks dapat diketahui dengan pemeriksaan speculum. Bibir serviks dijepit dengan cunam atraumatik, kemudian diperiksa secara cermat. Bila ditemukan robekan serviks yang memanjang maka luka dijahit dari ujung yang paling atas terus ke bawah. Pada robekan serviks yang berbentuk melingkar diperiksa dahulu apakah sebagian besar dari serviks sudah lepas atau tidak. Jika belum lepas bagian yang belum lepas itu dipotong dari serviks, jika yang lepas hanya sebagian kecil saja maka itu dijahit lagi pada serviks. Perlukaan dirawat untuk menghentikan perdarahan. 3. Robekan Vulva dan Vagina Robekan pada dinding depan vagina sering kali terjadi di sekitar orifisium uretra eksternum dan klitoris. Robekan pada klitoris dapat menimbulkan perdarahan banyak. Kadang-kadang perdarahan tersebut tidak dapat diatasi hanya dengan penjahitan, tetapi diperlukan penjepitan dengan cunam selama beberapa hari. Robekan pada vagina dapat bersifat luka tersendiri, atau merupakan lanjutan robekan perineum. Robekan vagina sepertiga bagian atas umumnya merupakan lanjutan robekan serviks uteri. Pada umunya robekan vagina terjadi karena regangan jalan lahir yang berlebihan dan tiba-tiba ketika janin dilahirkan. Bila terjadi robekan pada dinding vagina akan timbul perdarahan segera setelah janin lahir. Diagnose ditegakkan dengan mengadakan pemeriksaan langsung dengan menggunakan speculum. (Sarwono, 2007) 4. Rupture Uteri Dalam Unpad, 2003, Kejadian ini merupakan salah satu malapetaka terbesar dalam ilmu kebidanan. Kematian anak mendekati 100% dan kematian ibu sekitar 30%. Secara teori robekan rahim dapat dibagi sebagai berikut: a. Spontan • Karena dinding rahim lemah seperti pada luka seksio sesarea, luka enukleasi mioma, dan hipoplasia uteri. Mungkin juga karena kuretase, pelepasan plasenta secara manual dan sepsis pascapersalinan atau pasca abortus • Dinding rahim baik tetapi robekan terjadi karena bagian depan tidak maju,misalnya pada panggul sempit atau kelainan letak. • campuran b. Violent (rudapaksa): karena trauma (kecelakaan) dan pertolongan versi dan ekstrasi (ekspresi Kristeller) Secara praktis pembagian robekan rahim adalah sebagai berikut: • Robekan spontan pada rahim yang utuh Terjadi lebih sering pada multipara terutama pada grandemultipara daripada primipara. Hal ini disebabkan oleh dinding rahim pada multipara sudah lemah. Ruptur juga lebih sering terjadi pada orang yang berumur. Penyebab yang penting adalah panggul sempit, letak lintang hidrosefalus, tumor yang menghalangi jalan lahir dan presentasi atau dahi. Rupture yang spontan biasanya terjadi pada kala pengeluaran tetapi ada kalanya sudah terjadi pada kehamilan. Jika rupture terjadi pada kehamilan biasanya terjadi pada korpus uteri sedangkan jika dalam persalinan terjadi pada segmen bawah rahim. Ruptur uteri ada 2 macam yaitu rupture uteri complete (jika semua lapisan dinding rahim sobek) dan rupture uteri incomplete (jika perimetrium masih utuh) Sebelum terjadinya rupture biasanya ada tanda-tanda pendahuluan yang terkenal dengan istilah gejala-gejala ancaman robekan rahim yaitu: Lingkaran retraksi patologis/ lingkaran Bndle yang tinggi mendekati pusat dan naik terus Kontraksi rahim kuat dan terus menerus Penderita gelisah, nyeri di perut bagian bawah juga diluar HIS Pada palpasi segmen bawah rahim terasa nyeri (di atas simfisis) Ligamentum rotundum tegang juga diluar HIS Bunyi jantung anak biasanya tidak ada atau tidak baik karena anak mengalami asfiksia yang disebabkan kontraksi dan retraksi rahim yang berlebihan. Air kencing mengandung darah karena kandung kencing teregang atau tertekan Jika keadaan ini berlanjut terjadilah rupture uteri. Gejala-gejala rupture uteri adalah: Sewaktu kontraksi yang kuat pasien tiba-tiba merasa nyeri yang menyayat dibagian bawah Segmen bawah rahim nyeri sekali pada saat dilakukan palpasi HIS berhenti/ hilang Ada perdarahan pervaginam walaupun biasanya tidak banyak Bagian-bagian anak mudah diraba jika anak masuk ke dalam rongga perut Kadang-kadang disamping anak teraba tumor yaitu rahim yang telah mengecil Pada pemeriksaan dalam ternyata bagian depan mudah ditolak ke atas bahkan terkadang tidak teraba lagi karena masuk ke rongga perut Bunyi jantung anak tidak ada/tidak didengar Biasanya pasien jatuh dalam syok Jika sudah lama terjadi seluruh perut nyeri dan kembung Adanya kencing berdarah Adapun diagnose banding dari rupture uteri adalah solusio plasenta dan kehamilan abdominal • Robekan violent Dapat terjadi karena kecelakaan akan tetapi lebih sering disebabkan versi dan ekstrasi. Kadang-kadang disebabkan oleh dekapitasi versi secara baxton hicks, ektrasi bokong atau forcep yang sulit. Oleh karena itu sebaiknya setiap versi dan ekstrasi dan operasi kebidanan lainnya yang sulit dilakukan eksplorasi kavum uteri. • Robekan bekas luka seksio Rupture uteri karena bekas seksio makin sering terjadi dengan meningkatnya tindakan SC. Rupture uteri semacam ini lebih sering terjadi pada luka bekas SC yang klasik dibandingkan dengan luka SC profunda. Rupture uteri ini sering sukar didiagnosis. Tidak ada gejala-gejala yang khas , mungkin hanya perdarahan yang lebih dari perdarahan pembukaan atau ada perasaan nyeri pada daerah bekas luka. (unpad.2003) LANDASAN ASKEB VARNEY I. Pengumpulan Data a. Data Subyektif • Biodata: – • Alasan berkunjung dan keluhan utama: klien biasanya mengeluh ada perdarahan yang banyak dan terus menerus, khusus untuk rupture uteri biasanya klien mengeluh nyeri yang menyayat dibagian bawah dan ada perdarahan walupun tidak banyak • Riwayat Persalinan ini: biasanya terjadi pada persalinan yang terlalu cepat dan bayi lahir dengan presentasi bukan belakang kepala, selain itu pada robekan serviks terjadi akibat tindakan- tindakan pada persalinan buatan dengan pembukaan yang belum lengkap, pada robekan vagina terjadi karena persalinan dengan regangan jalan lahir yang berlebihan dan tiba-tiba ketika janin dilahirkan. Pada rupture uteri biasanya persalinannya dalam keadaan dinding rahim lemah dan inding rahim baik tetapi robekan terjadi karena bagian depan tidak maju, misalnya pada panggul sempit atau kelainan letak. • Riwayat kebidanan yang lalu: bisanya robekan jalan lahir lebih sering terjadi pada ibu primipara, tetapi tidak jarang yang terjadi pada multipara, pada rupture uteri biasanya terjadi pada riwayat SC luka enukleasi mioma, dan hipoplasia uteri. Mungkin juga karena kuretase, pelepasan plasenta secara manual dan sepsis pascapersalinan atau pasca abortus • Riwayat kehamilan sekarang: – • Riwayat kesehatan:• Riwayat menstruasi dan KB: – • Data Bio, Psiko, Sosial, Spiritual:• Pengetahuan Ibu dan Pendamping:B. Data Obyektif • Pemeriksaan umum: biasanya kedaan umum ibu sudah lemas karena perdarahan banyak, tanda-tanda vital ibu biasanya tekanan darah turun, nadi cepat, respirasi cepat • Pemeriksaan fisik : Wajah: biasanya tampak pucat Mata:Mulut:Leher:Payudara:• Abdomen: biasanya kontraksinya uterus baik. Pada rupture uteri Segmen bawah rahim nyeri sekali pada saat dilakukan palpasi, HIS berhenti/ hilang, Bagian-bagian anak mudah diraba jika anak masuk ke dalam rongga perut, Kadang-kadang disamping anak teraba tumor yaitu rahim yang telah mengecil, Bunyi jantung anak tidak ada/tidak didengar, Jika sudah lama terjadi seluruh perut nyeri dan kembung • Tangan dan kaki:• Genetalia dan anus: akan tampak ada perdarahan yang aktif. Jika robekan pada perineum akan tambak luka pada perineum dengan perdarahan aktif baik robekan grade 1, 2 atau 3, begitu juga pada vulva Jika robekan pada serviks, dilihat dengan melakukan pemeriksaan speculum dengan menarik porsio keluar. Pada rupture uteri Pada pemeriksaan dalam ternyata bagian depan mudah ditolak ke atas bahkan terkadang tidak teraba lagi karena masuk ke rongga perut II. Interpretasi Data Dasar Dalam langkah ini, data subjektif dan data objektif yang sudah di kaji kemudian dianalisa menggunakan teori-teori fisiologis dan teori-teori patologis. Hasil analisis dan interpretasi data menghasilkan rumusan diagnosis dari keadaan pasien. Contoh: • diangnosis: G………/P…….. partus kala……….. dengan robekan jalan lahir (perineum, servik, vulva atau rupture uteri) Rasionalisasi: ibu mengatakan ini persalinannya yang ke,,,,pernah/tdk keguguran, pernah/ tidak melahirkan premature, jumlah anak hidup Ibu sekarang memasuki kala………. Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan bahwa ada robekan jalan lahir pada perineum, vulva, servik uterus • Masalah: apa yang dirasakan ibu terhadap keadaannya saat ini, seperti cemas, takut, gelisah, dan lainnya. Rasionalisasi: contohibu mengatakan cemas dengan keadaannya saat ini. • Kebutuhan: contoh dukungan spiritual III. Merumuskan Diagnosa/Masalah Potensial Pada bagian ini ditentukan apa diagnose potensial yang bisa terjadi dari robekan jalan lahir seperti syok jika perdarahannya banyak IV. Merumuskan Kebutuhan Akan Tindakan Segera, Tindakan Kolaborasi dan Rujukan Kebutuhan akan tindakan segera untuk mengantisipasi ancaman yang fatal, sehingga nyawa ibu dapat diselamatkan. Tindakan segera bisa merupakan intervensi langsung oleh bidan bisa juga merupakan hasil kolaborasi dengan profesi lain. Biasanya kebutuhan tindakan segera yang diperlukan untuk kasus ini adalah rujukan ke tempat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi untuk kasus-kasus diluar kewenangan bidan V. Menyusun Rencana Asuhan Yang Menyeluruh Dalam menyusun rencana asuhan yang menyeluruh mengacu kepada diagnosa, masalah asuhan serta kebutuhan yang telah sesuai dengan kondisi klien saat di beri asuhan. Adapun rencana asuhan yang biasa pada kasus robekan jalan lahir adalah: • Jelaskan hasil pemeriksaan • Berikan konseling pada ibu agar ibu tidak terlalu cemas dengan keadaanya • Berikan KIE pada keluarga tentang kemungkinan tindakan yang akan dilakukan dan minta persetujuan keluarga • Pasang infuse • Lakukan rujukan ke tempat pelayanan yang lebih tinggi VI. Pelaksanaan Asuhan Sesuai Dengan Perencanaan Secara Efisien Disesuaikan dengan rencana asuhan VII. Evaluasi Pada langkah terakhir ini melakukan evaluasi terhadap keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan. Hal ini menyangkut apakah kebutuhan klien telah terpenuhi, masalah yang ada terpecahkan, masalah potensial dihindari, klien dan keluarga mengetahui kondisi kesehatannya dan klien mengetahui apa yang harus di lakukan dalam rangka menjaga kesehatannya. Categories: Uncategorized | Leave a comment

ASKEB IV ( PATOLOGIS ) ATONIA UTERI Posted on July 7, 2014 by zatalinaanwarafit23d Atonia Uteri a. Pengertian Atonia uteri terjadi jika uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri. Perdarahan postpartum dengan penyebab uteri tidak terlalu banyak dijumpai karena penerimaan gerakan keluarga berencana makin meningkat (Manuaba & APN). Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan pospartum dini (50%), dan merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi postpartum. Kontraksi uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan setelah melahirkan. Atonia terjadi karena kegagalan mekanisme ini. Perdarahan pospartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium yang mengelilingi pembuluh darah yang memvaskularisasi daerah implantasi plasenta. Atonia uteri terjadi apabila serabut-serabut miometrium tidak berkontraksi. Batasan: Atonia uteri adalah uterus yang tidak berkontraksi setelah janin dan plasenta lahir. b. Penyebab : Atonia uteri dapat terjadi pada ibu hamil dan melahirkan dengan faktor predisposisi (penunjang ) seperti : 1. Overdistention uterus seperti: gemeli makrosomia, polihidramnion, atau paritas tinggi. 2. Umur yang terlalu muda atau terlalu tua. 3. Multipara dengan jarak kelahiran pendek 4. Partus lama / partus terlantar 5. Malnutrisi. 6. Penanganan salah dalam usaha melahirkan plasenta, misalnya plasenta belum terlepas dari dinding uterus. c. Gejala Klinis: · Uterus tidak berkontraksi dan lunak · Perdarahan segera setelah plasenta dan janin lahir (P3). d. Pencegahan atonia uteri. Atonia uteri dapat dicegah dengan Managemen aktif kala III, yaitu pemberian oksitosin segera setelah bayi lahir (Oksitosin injeksi 10U IM, atau 5U IM dan 5 U Intravenous atau 10-20 U perliter Intravenous drips 100-150 cc/jam. Pemberian oksitosin rutin pada kala III dapat mengurangi risiko perdarahan pospartum lebih dari 40%, dan juga dapat mengurangi kebutuhan obat tersebut sebagai terapi. Menejemen aktif kala III dapat mengurangi jumlah perdarahan dalam persalinan, anemia, dan kebutuhan transfusi darah.Oksitosin mempunyai onset yang cepat, dan tidak menyebabkan kenaikan tekanan darah atau kontraksi tetani seperti preparat ergometrin. Masa paruh oksitosin lebih cepat dari Ergometrin yaitu 5-15 menit. Prostaglandin (Misoprostol) akhir-akhir ini digunakan sebagai pencegahan perdarahan postpartum. e. Penanganan Atonia Uteri Penanganan Umum · Mintalah Bantuan. Segera mobilisasi tenaga yang ada dan siapkan fasilitas tindakan gawat darurat. · Lakukan pemeriksaan cepat keadaan umum ibu termasuk tanda vital(TNSP). · Jika dicurigai adanya syok segera lakukan tindakan. Jika tanda -tanda syok tidak terlihat, ingatlah saat melakukan evaluasi lanjut karena status ibu tersebut dapat memburuk dengan cepat. · Jika terjadi syok, segera mulai penanganan syok.oksigenasi dan pemberian cairan cepat, Pemeriksaan golongan darah dan crossmatch perlu dilakukan untuk persiapan transfusi darah. · Pastikan bahwa kontraksi uterus baik: · lakukan pijatan uterus untuk mengeluarkan bekuan darah. Bekuan darah yang terperangkap di uterus akan menghalangi kontraksi uterus yang efektif. berikan 10 unit oksitosin IM · Lakukan kateterisasi, dan pantau cairan keluar-masuk. · Periksa kelengkapan plasenta Periksa kemungkinan robekan serviks, vagina, dan perineum. · Jika perdarahan terus berlangsung, lakukan uji beku darah. Setelah perdarahan teratasi (24 jam setelah perdarahan berhenti), periksa kadarHemoglobin: · Jika Hb kurang dari 7 g/dl atau hematokrit kurang dari 20%( anemia berat):berilah sulfas ferrosus 600 mg atau ferous fumarat 120 mg ditambah asam folat 400 mcg per oral sekali sehari selama 6 bulan; · Jika Hb 7-11 g/dl: beri sulfas ferrosus 600 mg atau ferous fumarat 60 mg ditambah asam folat 400 mcg per oral sekali sehari selama 6 bulan; Penanganan Khusus · Kenali dan tegakkan diagnosis kerja atonia uteri. · Teruskan pemijatan uterus.Masase uterus akan menstimulasi kontraksi uterus yang menghentikan perdarahan. · Oksitosin dapat diberikan bersamaan atau berurutan · Jika uterus berkontraksi.Evaluasi, jika uterus berkontraksi tapi perdarahan uterus berlangsung, periksa apakah perineum / vagina dan serviks mengalami laserasi dan jahit atau rujuk segera. · Jika uterus tidak berkontraksi maka :Bersihkanlah bekuan darah atau selaput ketuban dari vagina & ostium serviks. Pastikan bahwa kandung kemih telah kosong Antisipasi dini akan kebutuhan darah dan lakukan transfusi sesuai kebutuhan. Jika perdarahan terus berlangsung: Pastikan plasenta plasenta lahir lengkap;Jika terdapat tanda-tanda sisa plasenta (tidak adanya bagian permukaan maternal atau robeknya membran dengan pembuluh darahnya), keluarkan sisa plasenta tersebut.Lakukan uji pembekuan darah sederhana. Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah menunjukkan adanya koagulopati. Sikap bidan sikap bidan dengan atonia uteri penanganan atonia uteri Teknik KBI 1. Pakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril, dengan lembut masukkan tangan (dengan cara menyatukan kelima ujung jari) ke intraktus dan ke dalam vagina itu. 2. Periksa vagina & serviks. Jika ada selaput ketuban atau bekuan darah pada kavum uteri mungkin uterus tidak dapat berkontraksi secara penuh. 3. Letakkan kepalan tangan pada fornik anterior tekan dinding anteror uteri sementara telapak tangan lain pada abdomen, menekan dengan kuat dinding belakang uterus ke arah kepalan tangan dalam. cara penanganan atoia uteri kompresi bimanual eksterna (KBE) kompresi bimanual eksterna (KBE) 4. Tekan uterus dengan kedua tangan secara kuat. Kompresi uterus ini memberikan tekanan langsung pada pembuluh darah di dalam dinding uterus dan juga merang sang miometrium untuk berkontraksi. 5. Evaluasi keberhasilan: – Jika uterus berkontraksi dan perdarahan berkurang, teruskan melakukan KBl selama dua menit, kemudian perlahan-lahan keluarkan tangan dari dalam vagina. Pantau kondisi ibu secara melekat selama kala empat. – Jika uterus berkontraksi tapi perdarahan terus berlangsung, periksa perineum, vagina dari serviks apakah terjadi laserasi di bagian tersebut. Segera lakukan si penjahitan jika ditemukan laserasi. – Jika kontraksi uterus tidak terjadi dalam waktu 5 menit, ajarkan keluarga untuk melakukan kompresi bimanual eksternal (KBE, Gambar 5-4) kemudian terus kan dengan langkah-langkah penatalaksanaan atonia uteri selanjutnya. Minta tolong keluarga untuk mulai menyiapkan rujukan. Alasan: Atonia uteri seringkali bisa diatasi dengan KBl, jika KBl tidak berhasil dalam waktu 5 menit diperlukan tindakan-tindakan lain. 6. Berikan 0,2 mg ergometrin IM (jangan berikan ergometrin kepada ibu dengan hipertensi) Alasan : Ergometrin yang diberikan, akan meningkatkan tekanan darah lebih tinggi dari kondisi normal. 7. Menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18), pasang infus dan berikan 500 ml larutan Ringer Laktat yang mengandung 20 unit oksitosin. Alasan: Jarum dengan diameter besar, memungkinkan pemberian cairan IV secara cepat, dan dapat langsung digunakan jika ibu membutuhkan transfusi darah. Oksitosin IV akan dengan cepat merangsang kontraksi uterus. Ringer Laktat akan membantu mengganti volume cairan yang hiking selama perdarahan. 8. Pakai sarung tangan steril atau disinfeksi tingkat tinggi dan ulangi KBI. Alasan: KBI yang digunakan bersama dengan ergometrin dan oksitosin dapat membantu membuat uterus-berkontraksi 9. Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu sampai 2 menit, segera lakukan rujukan Berarti ini bukan atonia uteri sederhana. Ibu membutuhkan perawatan gawat-darurat di fasilitas kesehatan yang dapat melakukan tindakan pembedahan dan transfusi darah. 10. Dampingi ibu ke tempat rujukan. Teruskan melakukan KBI hingga ibu tiba di tempat rujukan. Teruskan pemberian cairan IV hingga ibu tiba di fasilitas rujukan: a. Infus 500 ml yang pertama dan habiskan dalam waktu 10 menit. b. Kemudian berikan 500 ml/jam hingga tiba di tempat rujukan atau hingga jumlah cairan yang diinfuskan mencapai 1,5 liter, dan kemudian berikan 125 ml/jam. c. Jika cairan IV tidak cukup, infuskan botol kedua berisi 500 ml cairan dengan tetesan lambat dan berikan cairan secara oral untuk asupan cairan tambahan. Kompresi bimanual eksternal 1. Letakkan satu tangan pada abdomen di depan uterus, tepat di atas simfisis pubis. 2. Letakkan tangan yang lain pada dinding abdomen (dibelakang korpus uteri), usahakan memegang bagian belakang uterus seluas mungkin. cara penanganan atonia uteri kompresi bimanual eksterna (KBE) Kompresi bimanual eksterna (KBE) 3. 3. Lakukan gerakan saling merapatkan kedua tangan untuk melakukan kompresi pembuluh darah di dinding uterus dengan cara menekan uterus di antara kedua tangan tersebut. (Pusdiknakes, Asuhan Persalinan Normal) Jika perdarahan terus berlangsung setelah dilakukan kompresi: · Lakukan ligasi arteri uterina dan ovarika. · Lakukan histerektomi jika terjadi perdarahan yang mengancam jiwa setelah ligasi. Uterotonika : Oksitosin : merupakan hormon sintetik yang diproduksi oleh lobus posterior hipofisis. Obat ini menimbulkan kontraksi uterus yang efeknya meningkat seiring dengan meningkatnya umur kehamilan dan timbulnya reseptor oksitosin. Pada dosis rendah oksitosin menguatkan kontraksi dan meningkatkan frekwensi, tetapi pada dosis tinggi menyebabkan tetani. Oksitosin dapat diberikan secara IM atau IV, untuk perdarahan aktif diberikan lewat infus dengan Larutan Ringer laktat 20 IU perliter, jika sirkulasi kolaps bisa diberikan oksitosin 10 IU intramiometrikal (IMM). Efek samping pemberian oksitosin sangat sedikit ditemukan yaitu nausea dan vomitus, efek samping lain yaitu intoksikasi cairan jarang ditemukan. Metilergonovin maleat : merupakan golongan ergot alkaloid yang dapat menyebabkan tetani uteri setelah 5 menit pemberian IM. Dapat diberikan secara IM 0,25 mg, dapat diulang setiap 5 menit sampai dosis maksimum 1,25 mg, dapat juga diberikan langsung pada miometrium jika diperlukan (IMM) atau IV bolus 0,125 mg. Obat ini dikenal dapat menyebabkan vasospasme perifer dan hipertensi, dapat juga menimbulkan nausea dan vomitus. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan hipertensi. Prostaglandin (Misoprostol) : merupakan sintetik analog 15 metil prostaglandin F2alfa. Misoprostol dapat diberikan secara intramiometrikal, intraservikal, transvaginal, intravenous, intramuscular, dan rectal. Pemberian secara IM atau IMM 0,25 mg, yang dapat diulang setiap 15 menit sampai dosis maksimum 2 mg. Pemberian secara rektal dapat dipakai untuk mengatasi perdarahan pospartum (5 tablet 200 µg = 1 g). Prostaglandin ini merupakan uterotonika yang efektif tetapi dapat menimbulkan efek samping prostaglandin seperti: nausea, vomitus, diare, sakit kepala, hipertensi dan bronkospasme yang disebabkan kontraksi otot halus, bekerja juga pada sistem termoregulasi sentral, sehingga kadang-kadang menyebabkan muka kemerahan, berkeringat, dan gelisah yang disebabkan peningkatan basal temperatur, hal ini menyebabkan penurunan saturasi oksigen. Uterotonika ini tidak boleh diberikan pada ibu dengan kelainan kardiovaskular, pulmonal, dan gangguan hepatik. Efek samping serius penggunaannya jarang ditemukan dan sebagian besar dapat hilang sendiri. Dari beberapa laporan kasus penggunaan prostaglandin efektif untuk mengatasi perdarahan persisten yang disebabkan atonia uteri dengan angka keberhasilan 84%-96%. Perdarahan pospartum dini sebagian besar disebabkan oleh atonia uteri maka perlu dipertimbangkan pemakaian Uterotonika untuk menghindari perdarahan masif yang terjadi. . Daftar Pustaka : James R Scott, et al. Danforth buku saku obstetric dan ginekologi. Alih bahasa TMA Chalik. Jakarta: Widya Medika, 2002. Obstetri fisiologi, Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Unversitas Padjajaran Bandung, 1993. Mochtar, Rustam. Sinopsis obstetrik. Ed. 2. Jakarta: EGC, 1998. Manuaba, Ida Bagus Gede. Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana. Jakarta: EGC, 1998. Bobak, Lowdermilk, Jensen. Buku ajar keperawatan maternitas. Alih bahasa: Maria A. Wijayarini, Peter I. Anugerah. Jakarta: EGC. 2004 Heller, Luz. Gawat darurat ginekologi dan obstetric. Alih bahasa H. Mochamad martoprawiro, Adji Dharma. Jakarta: EGC, 1997. Categories: Uncategorized | Leave a comment

MAKALAH FARMAKOLOGI Posted on July 6, 2014 by zatalinaanwarafit23d BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jamur merupakan salah satu penyebab infeksi pada penyakit terutama di negara – negara tropis. Penyakit kulit akibat jamur merupakan penyakit kulit yang sering muncul di tengah masyarakat Indonesia. Iklim tropis dengan kelembaban udara yang tinggi di Indonesia sangat mendukung pertumbuhan jamur. Banyaknya infeksi jamur juga didukung oleh masih banyaknya masyarakat Indonesia yang berada digaris kemiskinan sehingga masalah kebersihan lingkungan, sanitasi, dan pola hidup sehat kurang menjadi perhatian dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Jamur dapat menyebabkan infeksi antara lain Candida albicans dan Trichopyton rubrum. Oleh karena itu untuk membantu tubuh mencegah mengatasi infeksi jamur serius dapat menggunakan obat Amfoterisin B. Yang mana Amfoterisin bekerja dengan menyerang sel yang sedang tumbuh dan sel matang. Aktifitas anti jamur nyata pada pH 6,0 – 7,5. Aktifitas anti jamur akan berkurang pada Ph yang lebih rendah. Amfoterisin bersifat fungistatik atau fungisidal tergantung dengan dosis yang diberikan dan sensitivitas jamur yang dipengaruhi. Namun dibalik kegunaan dari obat tersebut tentu ada efek sampingnya. Untuk itu perlu bahasan yang luas dari segala aspek mengenai obat anti jamur ini terutama Amfoterisin B tersebut. B. Rumusan Masalah a. Apa pengertian obat jamur dan Amfoterisin B ? b. Apa macam-macam infeksi jamur dan jenis obat anti jamur? c. Apa indikasi dan kontraindikasi obat jamur tersebut? d. Bagaimana farmakodinamik dan farmakokinetik dari obat tersebut? e. Bagaimana dosis dan penyediaan obat tersebut? f. Bagaimana interaksi dan mekanisme kerja serta aktivitas obat tersebut? g. Apa efek samping dari obat tersebut? C. Tujuan 1. Tujuan Umum Setelah membahas makalah mengenai obat jamur ini tentunya bisa di pahami dan digunakan untuk kehidupan sehari – hari. 2. Tujuan Khusus a. Untuk dapat mengetahui pengertian obat jamur dan Amfoterisin B tersebut. b. Untuk mengetahui macam-macam infeksi jamur dan jenis obat anti jamur. c. Untuk mengetahui apa indikasi dan kontraindikasi obat jamur tersebut. d. Untuk memahami bagaimana proses farmakodinamik dan farmakokinetik dari obat tersebut. e. Untuk memahami bagaimana dosis dan penyediaan obat tersebut. f. Untuk memahami bagaimana interaksi dan mekanisme kerja serta aktivitas obat tersebut. g. Untuk mengetahui apa efek samping dari obat tersebut. BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Obat Jamur Jamur adalah organisme mikroskopis tanaman yang terdiri dari sel, seperti cendawan, dan ragi. Beberapa jenis jamur dapat berkembang pada permukaan tubuh yang bisa menyebabkan infeksi kulit, kuku, mulut atau vagina. Jamur yang paling umum menyebabkan infeksi kulit adalah tinea. For example, tinea pedis (‘athletes foot) . Infeksi umum yang ada pada mulut dan vagina disebut seriawan. Hal ini disebabkan oleh Candida. Candida merupakan ragi yang merupakan salah satu jenis jamur. Sejumlah Candida umumnya tinggal di kulit. Obat Jamur = Anti fungi = Anti Mikotik yaitu obat yamg digunakan untuk membunuh atau menghilangkan jamur. Obat antijamur terdiri dari beberapa kelompok yaitu : kelompok polyene (amfoterisin B, nistatin, natamisin), kelompok azol (ketokonazol, ekonazol, klotrimazol, mikonazol, flukonazol, itrakonazol), allilamin (terbinafin), griseofulvin, dan flusitosin. B. Macam – Macam Infeksi Jamur Infeksi jamur dapat dibagi menjadi dua yaitu : 1. Infeksi jamur sistemik – Amfoterisin B – Flusitosin – Ketokonazol – Itakonazol – Fluconazol – Kalium Iodida 2. Infeksi jamur topikal (dermatofit dan mukokutan) C. Jenis – Jenis Obat Anti Jamur a. Antijamur cream Digunakan untuk mengobati infeksi jamur pada kulit dan vagina. Antara lain : ketoconazole, fenticonazole, miconazole, sulconazole, dan tioconazole. b. Antijamur peroral Amphotericin dan nystatin dalam bentuk cairan dan lozenges. Obat-obatan ini tidak terserap melalui usus ke dalam tubuh. Obat tersebut digunakan untuk mengobati infeksi Candida (guam) pada mulut dan tenggorokan. Sedangkan, itraconazole, fluconazole, ketoconazole, dan griseofulvin adalah obat dalam bentuk tablet yang diserap ke dalam tubuh. Obat ini digunakan untuk mengobati berbagai infeksi jamur. Penggunaannya tergantung pada jenis infeksi yang ada. example: • Terbinafine umumnya digunakan untuk mengobati infeksi kuku yang biasanya disebabkan oleh jenis jamur tinea. • Fluconazole umumnya digunakan untuk mengobati jamur Vaginal. Juga dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam infeksi jamur pada tubuh c. Antijamur injeksi Amphotericin, flucytosine, itraconazole, voriconazole dan caspofungin adalah obat-obatan anti jamur yang sering digunakan dalam injeksi. D. Pengertian Amfoterisin B Amfoterisin adalah salah satu obat anti jamur yang termasuk kedalam golongan polyene. Obat ini biasa digunakan untuk membantu tubuh mengatasi infeksi jamur serius. Amfoterisin A dan B adalah hasil fermentasi Streptomyces nodosus, actinomyces yang ditemukan di tanah.98 % campuran ini terdiri dari amfoterisin B yang mempunyai aktivitas anti jamur. Kristal seperti jarum atau prisma berwarna kuning jingga, tidak berbau dan tidak berasa. Amfoterisin merupakan antibiotik polien yang bersifat basa amfoter lemah, tidak larut dalam air, tidak stabil, tidak tahan suhu diatas 370C. Tetapi dapat bertahan sampai berminggu-minggu pada suhu 40C. Amfoterisin bekerja dengan menyerang sel yang sedang tumbuh dan sel matang. Aktifitas anti jamur nyata pada pH 6,0 – 7,5. Aktifitas anti jamur akan berkurang pada Ph yang lebih rendah. Amfoterisin bersifat fungistatik atau fungisidal tergantung dengan dosis yang diberikan dan sensitivitas jamur yang dipengaruhi. Obat ini digunakan untuk pengobatan infeksi jamur seperti: a. Koksidiodomikosis b. Parakoksidioidomikosis c. Aspergilosis d. Kromoblastomikosis e. Kandidiosis f. Maduromikosis (misetoma) g. Mukormikosis (fikomikosis) Amfoterisin B merupakan obat terpilih untuk blastomikosis selain hidrosis tilbamidin yang cukup efektif untuk sebagian besar pasien dengan lesi kulit yang tidak progresif. Obat ini efektif untuk mengatasi infeksi jamur Absidia spp, Aspergillus spp, Basidiobolus spp, Blastomyces dermatitidis, Candida spp, Coccidoide immitis, Conidiobolus spp, Cryptococcus neoformans, Histoplasma capsulatum, Mucor spp, Paracoccidioides brasiliensis, Rhizopus spp, Rhodotorula spp, dan Sporothrix schenckii. Organisme lain yang telah dilaporkan sensitif terhadap amfoterisin B termasuk alga Prototheca spp. dan Leishmania protozoa dan Naegleria spp. Hal ini tidak aktif terhadap bakteri (termasuk rickettsia) dan virus. Beberapa strain yang resisten terhadap Candida telah diisolasi dan diberikan pengobatan jangka panjang dengan amfoterisin B. Amfoterisin B hanya tersedia dengan resep dokter. E. Indikasi • Untuk pengobatan infeksi jamur seperti koksidioidomikosis, parakoksidoidomikosis, aspergilosis, kromoblastomikosis dan kandidosis. • Amfoterisin B merupakan obat terpilih untuk blastomikosis. • Amfoterisin B secara topikal efektif terhadap keratitis mikotik. • Mungkin efektif thdp maduromikosis (misetoma) & mukomikosis (fikomikosis) • Secara topikal efektif thdp keratitis mikotik • Penderita dg terapi amfoterisin B hrs dirawat di RS, utkpengamatan ketat ES F. Kontra Indikasi a. Pasien yang memiliki riwayat hipersensitif / alergi b. Gangguan fungsi ginjal c. Ibu hamil dan menyusui d. Pada pasien yang mengonsumsi obat antineoplastik Infus amfoterisin B seringkali meninbulkan beberapa efek samping seperti kulit panas, keringatan, sakit kepala, demam, menggigil, hipotensi, lesu, anoreksia, nyeri otot, flebitis, kejang dan penurunan fungsi ginjal. 50% pasien yang mendapat dosis awal secara iv akan mengalami demam dan menggigil. Keadaan ini hampir selalu terjadi pada penyuntikan amfoterisin B tapi akan berkurang pada pemberian berikutnya. Reaksi ini dapat ditekan dengan memberikan hidrokortison 25-50 mg dan dengan antipiretik serta antihistamin sebelumnya. Flebitis dapat dikurangi dengan menambahkan heparin 1000 unit kedalam infuse. G. Farmakodinamik Amfoterisin B bekerja dengan berikatan kuat dengan ergosterol (sterol dominan pada fungi) yang terdapat pada membran sel jamur. Ikatan ini akan menyebabkan membran sel bocor dan membentuk pori-pori yang menyebabkan bahan-bahan esensial dari sel-sel jamur merembas keluar sehingga terjadi kehilangan beberapa bahan intrasel dan mengakibatkan kerusakan yang tetap pada sel. Efek lain pada membran sel jamur yaitu dapat menimbulkan kerusakan oksidatif pada sel jamur. H. Farmakokinetik Amfoterisin sedikit sekali diserap melalui saluran cerna. Suntikan yang dimulai dengan dosis 1,5 mg/hari lalu ditingkatkan secara bertahap sampai dosis 0,4-0,6 mg/kgBB/hari akan memberikan kadar puncak antara 0,5-2 µg/mL pada kadar mantap. Waktu paruh obat ini kira-kira 24-48 jam pada dosis awal yang diikuti oleh eliminasifase kedua dengan waktu paruh kira-kira 15 hari sehingga kadar mantapnya baru akan tercapai setelah beberapa bulan pemakaian. Obat ini didistribusikan luas ke seluruh jaringan. Kira-kira 95% obat beredar dalam plasma, terikat pada lipoprotein. Kadar amfoterisin B dalam cairan pleura, peritoneal, sinovial dan akuosa yang mengalami peradangan hanya kira-kira2/3 dari kadar terendah dalam plasma. Amfoterisin b juga dapat menembus sawar uri, sebagian kecil mencapai CSS, humor vitreus dan cairan amnion. Ekskresi melalui ginjal sangat lambat, hanya 3% dari jumlah yang diberikan selam 24 jam sebelumnya ditemukan dalam urine. I. Dosis Infeksi jamur sistemik (melalui injeksi intravena). * Dosis awal 1 mg selama 20-30 menit dilanjutkan dengan 250 mikrogram/kg perhari, dinaikan perlahan sampai 1 mg/kg perhari, pada infeksi berat dapat dinaikan sampai 1.5 mg/kg perhari. Catatan: terapi diberikan dalam waktu yang cukup lama. Jika terapi sempat terhenti lebih dari 7 hari maka dosis lanjutan diberikan mulai dari 250 mikrogram/kg perhari kemudian dinaikan secara bertahap. J. Sediaan 1. Sediaan – Serbuk lofilik mgn 50 mg, dilartkan dg aquadest 10 ml lalu ditmbh ke lar dextroa 5% = kadar 0,1 mg/ml 2. Lar elektrolit, asam/ mgdg pengawet tdk boleh digunakan sbg pelarut mengendapkan amfoterisin B 3. Untuk injeksi selalu dibuat baru J. Interaksi Obat 1. Amikasin, siklosporin, Gentamisin, paromomycin, pentamidine, Streptomycin, Vancomycin : meningkatkan risiko kerusakan ginjal. 2. Dexamethasone, Furosemide, hidroklorotiazide, Hydrocortisone, Prednisolone : Meningkatkan risiko hipokalemia. 3. Digoxin : amphoterisin B meningkatkan risiko keracunan digoxin. 4. Fluconazole : melawan kerja amphoterisin B. K. Aktivitas Obat Amfoterisin B menyerang sel yang sedang tumbuh dansel matang. Aktivitas anti jamur nyata pada pH 6,0-7,5: berkurang pada pH yang lebihrendah. Antibiotik ini bersifat fungistatik atau fungisidal tergantung pada dosis dansensitivitas jamur yang dipengaruhi. Dengan kadar 0,3-1,0 µg/mL antibiotik ini dapat menghambat aktivitas Histoplasma capsulaium, Cryptococcus neoformans,Coccidioides immitis, dan beberapa spesies Candida, Tondopsis glabrata,Rhodotorula, Blastomyces dermatitidis, Paracoccidioides braziliensis, Beberapa spesies Aspergillus, Sporotrichum schenckii, Microsporum audiouini dan spesiesTrichophyton. Secara in vitrobila rifampisin atau minosiklin diberikan bersamaamfoterisin B terjadi sinergisme terhadap beberapa jamur tertentu. L. Mekanisme kerja Amfoterisin B berikatan kuat dengan sterol yang terdapat pada membran sel jamur sehingga membran sel bocor dan kehilangan beberapa bahan intrasel dan menyebabkan kerusakan yang tetap pada sel. Salah satu penyebab efek toksik yang ditimbulkan disebabkan oleh pengikatan kolesterol pada membran sel hewan dan manusia. Resistensi terhadap amfoterisin B mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan reseptor sterol pada membran sel. M. Efek Samping Demam, sakit kepala, mual, turun berat badan, muntah, lemas, diare, nyeri otot dan sendi, kembung, nyeri ulu hati, gangguan ginjal (termasuk hipokalemia, hipomagnesemia, kerusakan ginjal), kelainan darah, gangguan irama jantung, gangguan saraf tepi, gangguan fungsi hati, nyeri dan memar pada tempat suntikan. • Infus : kulit panas, keringatan, sakit kepala, demam, menggigil, lesu, anoreksia, nyeri otot, flebitis, kejang dan penurunan faal ginjal. • 50% penderita yang mendapat dosis awal secara IV akan mengalami demam dan menggigil. • Flebitis (-) à menambahkan heparin 1000 unit ke dalam infus. • Asidosis tubuler ringan dan hipokalemia sering dijumpai à pemberian kalium. • Efek toksik terhadap ginjal dapat ditekan bila amfoterisin B diberikan bersama flusitosin. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Jamur adalah organisme mikroskopis tanaman yang terdiri dari sel, seperti cendawan, dan ragi. Beberapa jenis jamur dapat berkembang pada permukaan tubuh yang bisa menyebabkan infeksi. Obat Jamur = Anti fungi = Anti Mikotik yaitu obat yamg digunakan untuk membunuh atau menghilangkan jamur. Amfoterisin adalah salah satu obat anti jamur yang termasuk kedalam golongan polyene. Obat ini biasa digunakan untuk membantu tubuh mengatasi infeksi jamur serius. Obat ini digunakan untuk pengobatan infeksi jamur seperti: a. Koksidiodomikosis b. Parakoksidioidomikosis c. Aspergilosis d. Kromoblastomikosis e. Kandidiosis f. Maduromikosis (misetoma) g. Mukormikosis (fikomikosis) B. Saran Agar setiap mahasiswa kebidanan memahami pengertian, macam – macam, kegunaan, interaksi obat dan efek samping dari suatu jenis obat terutama pada obat jamur ini, serta dapat dimanfaat kan dalam kehidupan sehari-hari DAFTAR PUSTAKA Anonimus .2010. http://kumpulan-farmasi.blogspot.com/2010/11/anti-jamur.html (http://kumpulan-farmasi.blogspot.com/2010/11/anti-jamur.html) Anonimus.2009. http://www.scribd.com/doc/57215070/36154284-Uraian-Obat-Anti-Jamur (http://www.scribd.com/doc/57215070/36154284-Uraian-Obat-Anti-Jamur) Gunawan, Sulistia Gan. 2009. Farmakologi dan Terapi edisi 5. FK-UI. Jakarta Categories: Uncategorized | Leave a comment

MAKALAH ASFIKSIA NEONATORUM Posted on June 27, 2014 by zatalinaanwarafit23d BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG. Menurut WHO, setiap tahunnya, kira-kira 3% (3,6 juta) dari 120 juta bayi lahir mengalami asfiksia, hampir 1 juta bayi ini kemudian meninggal. Di Indonesia, dari seluruh kematian bayi, sebanyak 57% meninggal pada masa neonatal (usia di bawah 1 bulan). Setiap 6 menit terdapat 1 neonatus yang meninggal. Penyebab kematian neonatal di Indonesia adalah berat bayi lahir rendah 29%, asfiksia 27%, trauma lahir, tetanus neonatorum, infeksi lain, dan kealainan congenital. Berbagai upaya yang aman dan efektif untuk mencegah dan mengatasi penyebab utama kematian bayi baru lahir, meliputi pelayanan antenatal yang berkualitas, asuhan persalinan normal atau dasar, dan pelayanan asuhan neonatal oleh tenaga professional. Untuk menurunkan angka kematian bayi baru lahir karena asfiksia, persalinan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan dan keterampilan manajemen asfiksia pada bayi baru lahir, kemampuan dan keterampilan ini harus digunakan setiap kali menolong persalinan. Oleh karena itu, keterampilan dan kemampuan penanganan resusitasi pada neonatal sangat penting dimiliki oleh setiap tenaga professional yang terlibat dalam penanganan bayi baru lahir. 1.2. RUMUSAN MASALAH 1.2.1. Apakah definisi asfiksia neonatorum? 1.2.2. Apakah penyebab asfiksia? 1.2.3. Bagaimana tanda gejala serta diagnose pada bayi asfiksia? 1.2.4. Bagaimanakah cara menilai asfiksia pada bayi baru lahir? 1.2.5. Bagaimanakah penanganan asfiksia neonatorum? 1.3. TUJUAN DAN MANFAAT 1.3.1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan asfiksia neonatorum. 1.3.2. Untuk mengetahui apa penyebab dari asfiksia neonatorum. 1.3.3. Untuk mengetahui bagaimana tanda gejala serta diagosa pada asfiksia pada bayi baru lahir. 1.3.4. Untuk mengetahui bagaimana cara menilai asfiksia pada bayi baru lahir. 1.3.5. Untuk mengetahui bagaimana penanganan asfiksia pada bayi baru lahir. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Asfiksia Neonatorum Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan (Asuhan Persalinan Normal, 2007). Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas scr spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul. (Wiknjosastro, 1999). 2.2. Penyebab Asfiksia Neonatorum Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah uteroplasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi berkurang. Hipoksia bayi di dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir. Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya adalah faktor ibu, tali pusat clan bayi berikut ini: 1. Faktor ibu 1. 2. 3. 4. 5.

Preeklampsia dan eklampsia Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta) Partus lama atau partus macet Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV) Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)

2. Faktor Tali Pusat 1. 2. 3. 4.

Lilitan tali pusat Tali pusat pendek Simpul tali pusat Prolapsus tali pusat

3. Faktor Bayi 1. 2. 3. 4.

Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan) Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep) Kelainan bawaan (kongenital) Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)

Penolong persalinan harus mengetahui faktor-faktor resiko yang berpotensi untuk menimbulkan asfiksia. Apabila ditemukan adanya faktor risiko tersebut maka hal itu harus dibicarakan dengan ibu dan keluarganya tentang kemungkinan perlunya tindakan resusitasi. Akan tetapi, adakalanya faktor risiko menjadi sulit dikenali atau (sepengetahuan penolong) tidak dijumpai tetapi asfiksia tetap terjadi. Oleh karena itu, penolong harus selalu siap melakukan resusitasi bayi pada setiap pertolongan persalinan. 2.3. Tanda Gejala Serta Diagnosa Pada Bayi Baru Lahir Dengan Asfiksia 1. 1. Gejala dan Tanda-tanda Asfiksia A. Tidak bernafas atau bernafas megap-megap B. Warna kulit kebiruan C. Kejang D. Penurunan kesadaran 1. 2. Diagnosis Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anoksia / hipoksia janin. Diagnosis anoksia / hipoksia janin dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya tanda-tanda gawat janin. Tiga hal yang perlu mendapat perhatian yaitu : 1. a. Denyut jantung janin Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak artinya, akan tetapi apabila frekuensi turun sampai ke bawah 100 kali per menit di luar his, dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda bahaya 1. b. Mekonium dalam air ketuban Mekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan tetapi pada presentasi kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenisasi dan harus diwaspadai. Adanya mekonium dalam air ketuban pada presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah. 1. c. Pemeriksaan pH darah janin Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat serviks dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan diambil contoh darah janin. Darah ini diperiksa pH-nya. Adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Apabila pH itu turun sampai di bawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya gawat janin mungkin disertai asfiksia. (Wiknjosastro, 1999) 2.4. Penilaian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir Aspek yang sangat penting dari resusitasi bayi baru lahir adalah menilai bayi, menentukan tindakan yang akan dilakukan dan akhirnya melaksanakan tindakan resusitasi. Upaya resusitasi yang efesien clan efektif berlangsung melalui rangkaian tindakan yaitu menilai pengambilan keputusan dan tindakan lanjutan. Penilaian untuk melakukan resusitasi semata-mata ditentukan oleh tiga tanda penting, yaitu : 1. Penafasan 2. Denyut jantung 3. Warna kulit Nilai apgar tidak dipakai untuk menentukan kapan memulai resusitasi atau membuat keputusan mengenai jalannya resusitasi. Apabila penilaian pernafasan menunjukkan bahwa bayi tidak bernafas atau pernafasan tidak kuat, harus segera ditentukan dasar pengambilan kesimpulan untuk tindakan vertilasi dengan tekanan positif (VTP).

2.5. Penanganan Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir 1. A. Persiapan Alat Resusitasi Sebelum menolong persalinan, selain persalinan, siapkan juga alat-alat resusitasi dalam keadaan siap pakai, yaitu : 1. 2 helai kain / handuk. A. Bahan ganjal bahu bayi. Bahan ganjal dapat berupa kain, kaos, selendang, handuk kecil, digulung setinggi 5 cm dan mudah disesuaikan untuk mengatur posisi kepala bayi. B. Alat penghisap lendir de lee atau bola karet. C. Tabung dan sungkup atau balon dan sungkup neonatal. D. Kotak alat resusitasi. E. Jam atau pencatat waktu. (Wiknjosastro, 2007). 1. B. Penanganan Asfiksia pada Bayi Baru Lahir Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal sebagai ABC resusitasi, yaitu : 1. Memastikan saluran terbuka 1. Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi bahu diganjal 2-3 cm. 2. Menghisap mulut, hidung dan kadang trachea. 3. Bila perlu masukkan pipa endo trachel (pipa ET) untuk memastikan saluran pernafasan terbuka. 2. Memulai pernafasan 1. Memakai rangsangan taksil untuk memulai pernafasan 2. Memakai VTP bila perlu seperti : sungkup dan balon pipa ET dan balon atau mulut ke mulut (hindari paparan infeksi). 3. Mempertahankan sirkulasi 1. Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara 2. Kompresi dada. 3. Pengobatan 1. C. Langkah-Langkah Resusitasi Setiap melakukan tindakan atau langkah harus didahului dengan persetujuan tindakan medic sebagai langkah klinik awal. Langkah klinik awal ini meliputi : 1. 2. 3. 4. 5.

Siapa ayah atau wali pasien, sebutkan bahwa ada petugas yang diberi wewenang untuk menjelaskan tindakan pada bayi. Jelaskan tentang diagnosis, penatalaksanaan dan komplikasi asfiksia neonatal. Jelaskan bahwa tindakan klinik juga mengandung resiko. Pastikan ayah pasien memahami berbagai aspek penjelasan diatas. Buat persetujuan tindakan medic, simpan dalam catatan medic.

(Sarwono prawirohardjo,2002) I. TAHAP I LANGKAH AWAL Langkah awal diselesaikan dalam 30 detik. Bagi kebanyakan bayi baru lahir, 5 langkah awal dibawah ini cukup untuk merangsang bayi bernafas spontan dan teratur. Langkah tersebut meliputi : 1. 2. Jaga bayi tetap hangat A. Letakkan bayi diatas kain diatas perut ibu B. Selimuti bayi dengan kain tersebut, dada dan perut terbuka, potong tali pusat. C. Pindahkan bayi diatas kain tempat resusitasi. 2. 3. Atur posisi bayi A. Baringkan bayi terlentang dengan kepala didekat penolong. B. Ganjal bahu agar kepala bayi sedikit ekstensi. 3. 4. Isap lendir Gunakan alat penghisap DeLee dengan cara : 1. 2. 3. 4.

Isap lender mulai dari mulut dulu, kemudian dari hidung. Lakukan penghisapan saat alat penghisap ditarik keluar, tidak pada waktu memasukkan. Jangan lakukan penghisapan terlalu dalam ( jangan lebih dari 5 cm kedalam mulut, dan jangan lebih dari 3 cm kedalam hidung). Hal itu dapat menyebabkan denyut jantung bayi menjadi lambat dan bayi tiba-tiba barhenti bernafas. 5. Keringkan dan rangsang bayi. A. Keringkan bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya.dengan sedikit tekanan. Rangsang ini dapat membantu bayi mulai bernafas. B. Lakukan rangsang taktil dengan cara menepuk atau menyentil telapak kaki atau menggosok punggung, perut,dada,tungkaibayi dan telapak tangan. 5. 6. Atur kembali posisi kepala bayi dan selimuti bayi. A. Ganti kain yang telah basah dengan kain kering dibawahnya. B. Selimuti bayi dengan kain kering tersebut, jangan menutupi muka,dan dada agar bisa memantau pernafasan bayi. C. Atur kembali posisi bayi sehingga kepala sedikit ekstensi. 6. 7. Lakukan penilaian bayi A. Lakukan penilaian apakah bayi bernafas normal, tidak bernafas atau megap-megap. Bila bayi bernafas normal lakukan asuhan pasca resusitasi. Bila bayi megap-megap atau tidak bernafas lakukan ventilasi bayi. II. TAHAP II VENTILASI Ventilasi adalah tahapan tindakan resusitasi untuk memasukkan sejumlah volume udara kedalam paru-paru dengan tekanan positif untuk membuka alveoli paru agar bayi bisa bernafas spontan dan teratur. Langkah-langkahnya : 1. Pasang sunkup A. Pasang dan pegang sunkup agar menutupi mulut, hidung dan dagu bayi. 2. Ventilasi 2 kali A. Lakukan tiupan atau pemompaan dengan tekanan 30 cm air. Tiupan awal tabung dan sunkup atau pemompaan awal balon sunkup sangat penting untuk membuka alveoli paru agar bayi bisa mulai bernafas dan menguji apakah jalan nafas bayi terbuka. 1. Lihat apakah dada bayi mengembang. Saat melakukan pemompaan perhatikan apakah dada bayi mengembang. Bila tidak mengembang, periksa posisi sunkup pastikan tidak ada udara yang bocor, periksa posisi kepala pastikan posisi sudah sedikit ekstensi, periksa cairan atau lender dimulut bila masih terdapat lender lakukan penghisapan. Lakukan pemompaan 2 kali, jika dada mengembang lakukan tahap berikutnya. 1. Ventilasi 20 kali dalam 30 detik. A. Lakukan tiupan dengan tabung dan sunkup sebanyak 20 kali dalam 30 detik dengan tekanan 20cm air B. Pastikan dada mengembang saat dilakukan pemompaan, setelah 30 detik lakukan penilaian ulang nafas. i. 1. Jaka bayi mulai bernafas spontan, hentikan ventilasi bertahap dan lakukan asuhan pasca resusitasi. ii. 2. Jika bayi megap-megao atau tidak bernafas lakukan ventilasi. 2. Ventilasi, setiap 30 detik hentikan dan lakukan penilaian ulang nafas. A. Lanjutkan ventilasi 20 kali dalam 30 detik. B. Hentikan ventilasi setiap 30 detik. C. Lakukan penilaian bayi apakah bernafas, tidak bernafas atau megap-megap. i. 1. Jaka bayi sudah mulai bernafas spontan, hentikan ventilasi bertahap dan lakukan asuhan pasca resusitasi. ii. 2. Jika bayi megap-megap atau tidak bernafas, teruskan ventilasi 20 kali dalam 30 detik kemudian lakukan penilaian ulang nafas setiap 30 detik. 3. Siapkan rujukan jika bayi belum bernafas selama 2 menit resusitasi. A. Mintalah keluarga untuk mempersiapkan rujukan. B. Teruskan resusitasi sambil menyiapkan untuk rujukan. 4. Lakukan ventilasi sambil memeriksa denyut jantung bayi. A. Bila dipastikan denyut jantung bayi tidak terdengar lanjitkan ventilasi selama 10 menit. B. Hentikan resusitasi bila denyut jantung tetap tidak terdengar, jelaskan kepada ibu dan berilah dukungan kepadanya serta lakukan pencatatan. C. Bayi yang mengalami asitol 10 menit kemungkinan besar mengalami kerusakan otak yang permanen. 1. Prinsip-Prinsip Resusitasi Yang Efektif : A. Tenaga kesehatan yang slap pakai dan terlatih dalam resusitasi neonatal harus rnerupakan tim yang hadir pada setiap persalinan. B. Tenaga kesehatan di kamar bersalin tidak hanya harus mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga harus melakukannya dengan efektif dan efesien C. Tenaga kesehatan yang terlibat dalam resusitasi bayi harus bekerjasama sebagai suatu tim yang terkoordinasi. D. Prosedur resusitasi harus dilaksanakan dengan segera dan tiap tahapan berikutnya ditentukan khusus atas dasar kebutuhan dan reaksi dari pasien. E. Segera seorang bayi memerlukan alat-alat dan resusitasi harus tersedia clan siap pakai. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Dan Saran 3.1.1 Kesimpulan Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan.Penanganannya adalah dengan tindakan resusitasi. Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal sebagai ABC resusitasi, yaitu : 1. 1. Memastikan saluran terbuka. 2. 2. Memulai pernafasan 3. 3. Mempertahankan sirkulasi Langkah-langkah resusitasi, meliputi 2 tahap. Tahap pertama adalah langkah awal, dan tahap kedua adalah ventilasi. 3.1.2 Saran Dengan penulisan makalah ini, penulis berharap agar dapat menambah ilmu pengetahuan kepada pembaca. Oleh karena itu, harapan penulis kepada pembaca semua agar memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun. DAFTAR PUSTAKA Departement Kesehatan RI : Manajemen Asfiksia Bayi Baru Lahir Untuk Bidan.(2007). Jakarta Sarwono prawirohardjo.2002.Buku Acuan Nasiona Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Wiknjosastro, 1999.Asfiksia pada bayi baru lahir. Categories: Uncategorized | Leave a comment

animasi pemasangan iud Posted on June 24, 2014 by zatalinaanwarafit23d

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

Loading...

zatalinaanwar | :D Midwifery Mercubaktijaya :D

zatalinaanwar :D Midwifery Mercubaktijaya :D makalah balita gizi buruk Posted on December 13, 2014 by zatalinaanwarafit23d BAB I SAMPAI BAB 5 CLEAR e...

226KB Sizes 7 Downloads 30 Views

Recommend Documents

D:\FINAL BOOK\D H A D\ADVT. D H
MkaMk&dkaBkSa dk yksx ruk fu jS X;k;kA. Лkkn dks ;s eSukS dks vad vi.kk yksd lalkЛkuksa ij dsfUКr N .... ruk 20 lsaVh

Our D&D Restaurants | In London & Leeds | D&D London
Our D&D Restaurants. Browse D&D London restaurants in London, Leeds and around the world, whether you are looking for a

b d b d b d b d
As he leans in closer. The alarm beside his bed went off. It was playing something twangy about a front porch and everyo

D&D ADVENTURES
Sep 8, 2016 - Just your friendly neighbourhood DM finding you free, downloadable pdfs of Dungeon & Dragons adventures an

D&D 5.0 - 4Shared
[D&D 5.0] Character Sheet Basic.pdf. 85 KB. [D&D 5.0] Character Sheet Details.pdf. 56 KB. [D&D 5.0] Character Sheet Magi

Download PDF - General Discussion - D&D Beyond General - D&D
No, it is not possible to download a PDF. Rollback Post to Revision. RollBack. PbP: Sunless Citadel (Homebrew) - Quaf -

D)
Wallerstein, Immanuel (1990a) '1968, Revolución en el sistema mundo, tesis y interrogantes', in Rafael Guido Bejar, Ott

d
No information is available for this page.Learn why

d)
of one's own body. APA may represent a therapeutic access to anorexia nervosa, as a supplement to psychotherapy. KEYWORD

d
VMware ESXi/SRM (VCP beneficial); Linux CENTOS (Linux+ or RedHat Certified System Administrator certifications beneficia