Hukum gerak Newton - WikiVisually

Loading...

WikiVisually

the entire wiki with video and photo galleries find something interesting to watch in seconds

TOP LISTS / VIDEOS · VIDEO PICKER · LANGUAGE

Search Wikipedia – Bahasa Indon...

Like 15K

[tutup]

Hukum gerak Newton [show article only]

Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica

hover over links in text for more info Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas [show wikipedia page here]

Lompat ke: navigasi, cari





1. Sir Isaac Newton (1643–1727) author of the Principia 2. Title page of Principia, first edition (1686/1687) 3. Newton's own first edition copy of his Principia, with handwritten corrections for the second edition. 4. Titlepage and frontispiece of the third edition, London, 1726 (John Rylands Library) Mekanika klasik

Hukum Newton pertama dan kedua, dalam bahasa Latin, dari edisi asli journal Principia Mathematica tahun 1687. Hukum gerak Newton adalah tiga hukum fisika yang menjadi dasar mekanika klasik. Hukum ini menggambarkan hubungan antara gaya yang bekerja pada suatu benda dan gerak yang disebabkannya. Hukum ini telah dituliskan dengan pembahasaan yang berbeda-beda selama hampir 3 abad,[1] dan dapat dirangkum sebagai berikut: 1. Hukum Pertama: setiap benda akan memiliki kecepatan yang konstan kecuali ada gaya yang resultannya tidak nol bekerja pada benda tersebut.[2][3][4] Berarti jika resultan gaya nol, maka pusat massa dari suatu benda tetap diam, atau bergerak dengan kecepatan konstan (tidak mengalami percepatan). Hal ini berlaku jika dilihat dari kerangka acuan inersial. 2. Hukum Kedua: sebuah benda dengan massa M mengalami gaya resultan sebesar F akan mengalami percepatan a yang arahnya sama dengan arah gaya, dan besarnya berbanding lurus terhadap F dan berbanding terbalik terhadap M. atau F=Ma. Bisa juga diartikan resultan gaya yang bekerja pada suatu benda sama dengan turunan dari momentum linear benda tersebut terhadap waktu. 3. Hukum Ketiga: gaya aksi dan reaksi dari dua benda memiliki besar yang sama, dengan arah terbalik, dan segaris. Artinya jika ada benda A yang memberi gaya sebesar F pada benda B, maka benda B akan memberi gaya sebesar –F kepada benda A. F dan –F memiliki besar yang sama namun arahnya berbeda. Hukum ini juga terkenal sebagai hukum aksi-reaksi, dengan F disebut sebagai aksi dan –F adalah reaksinya. Ketiga hukum gerak ini pertama dirangkum oleh Isaac Newton dalam karyanya Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica, pertama kali diterbitkan pada 5 Juli 1687.[5] Newton menggunakan karyanya untuk menjelaskan dan meniliti gerak dari bermacammacam benda fisik maupun sistem.[6] Contohnya dalam jilid tiga dari naskah tersebut, Newton menunjukkan bahwa dengan menggabungkan antara hukum gerak dengan hukum gravitasi umum, ia dapat menjelaskan hukum pergerakan planet milik Kepler.





1. Sir Isaac Newton (1643–1727), an influential figure in the history of physics and whose three laws of motion form the basis of classical mechanics 2. Diagram of orbital motion of a satellite around the earth, showing perpendicular velocity and acceleration (force) vectors. 3. Hamilton 's greatest contribution is perhaps the reformulation of Newtonian mechanics, now called Hamiltonian mechanics. Gerak

1. Motion involves a change in position, such as in this perspective of rapidly leaving Yongsan Station. Kecepatan

1. As a change of direction occurs while the cars turn on the curved track, their velocity is not constant. Pusat massa

Daftar isi

1 Tinjauan 2 Hukum pertama Newton 3 Hukum kedua Newton 3.1 Impuls 3.2 Sistem dengan massa berubah 3.3 Sejarah 4 Hukum ketiga Newton 5 Pentingnya hukum Newton dan jangkauan validitasnya 6 Hubungan dengan hukum kekekalan 7 Lihat juga 8 Referensi dan catatan kaki 9 Bacaan lanjut 10 Pranala luar

1. This child's toy uses the principles of center of mass to keep balance on a finger. 2. Estimated center of mass/gravity (blue sphere) of a gymnast at the end of performing a cartwheel. Notice center is outside the body in this position. Kerangka acuan inersial

Tinjauan Hukum Newton diterapkan pada benda yang dianggap sebagai partikel,[7] dalam evaluasi pergerakan misalnya, panjang benda tidak dihiraukan, karena objek yang dihitung dapat dianggap kecil, relatif terhadap jarak yang ditempuh. Perubahan bentuk (deformasi) dan rotasi dari suatu objek juga tidak diperhitungkan dalam analisisnya. Maka sebuah planet dapat dianggap sebagai suatu titik atau partikel untuk dianalisa gerakan orbitnya mengelilingi sebuah bintang.

1. Figure 1: Two frames of reference moving with relative velocity. Frame S' has an arbitrary but fixed rotation with respect to frame S. They are both inertial frames provided a body not subject to forces appears to move in a straight line. If that motion is seen in one frame, it will also appear that way in the other. Massa

Dalam bentuk aslinya, hukum gerak Newton tidaklah cukup untuk menghitung gerakan dari objek yang bisa berubah bentuk (benda tidak padat). Leonard Euler pada tahun 1750 memperkenalkan generalisasi hukum gerak Newton untuk benda padat yang disebut hukum gerak Euler, yang dalam perkembangannya juga dapat digunakan untuk benda tidak padat. Jika setiap benda dapat direpresentasikan sebagai sekumpulan partikelpartikel yang berbeda, dan tiap-tiap partikel mengikuti hukum gerak Newton, maka hukum-hukum Euler dapat diturunkan dari hukum-hukum Newton. Hukum Euler dapat dianggap sebagai aksioma dalam menjelaskan gerakan dari benda yang memiliki dimensi.[8]







Ketika kecepatan mendekati kecepatan cahaya, efek dari relativitas khusus harus diperhitungkan.[9] 1. Depiction of early balance scales in the Papyrus of Hunefer (dated to the 19th dynasty, ca. 1285 BC). The scene shows Anubis weighing the heart of Hunefer. 2. The kilogram is one of the seven SI base units and one of three which is defined ad hoc (i.e. without reference to another base unit). 3. Galileo Galilei (1636) 4. Distance traveled by a freely falling ball is proportional to the square of the elapsed time

Hukum pertama Newton

Percepatan

Putar media Walter Lewin menjelaskan hukum pertama Newton.(MIT



Course 8.01)[10]

Lex I: Corpus omne perseverare in statu suo quiescendi vel movendi uniformiter in directum, nisi quatenus a viribus impressis cogitur statum illum mutare. Hukum I: Setiap benda akan mempertahankan keadaan diam atau bergerak lurus beraturan, kecuali ada gaya yang bekerja untuk mengubahnya.[11] Hukum ini menyatakan bahwa jika resultan gaya (jumlah vektor dari semua gaya yang bekerja pada benda) bernilai nol, maka kecepatan benda tersebut konstan. Dirumuskan secara matematis menjadi:

1. Components of acceleration for a curved motion. The tangential component a t is due to the change in speed of traversal, and points along the curve in the direction of the velocity vector (or in the opposite direction). The normal component (also called centripetal component for circular motion) a c is due to the change in direction of the velocity vector and is normal to the trajectory, pointing toward the center of curvature of the path. 2. In the absence of air resistance and thus terminal velocity, a falling ball would continue to accelerate. Turunan

Artinya : Sebuah benda yang sedang diam akan tetap diam kecuali ada resultan gaya yang tidak nol bekerja padanya. Sebuah benda yang sedang bergerak, tidak akan berubah kecepatannya kecuali ada resultan gaya yang tidak nol bekerja padanya.

1. The graph of a function, drawn in black, and a tangent line to that function, drawn in red. The slope of the tangent line is equal to the derivative of the function at the marked point. Waktu

Hukum pertama newton adalah penjelasan kembali dari hukum inersia yang sudah pernah dideskripsikan oleh Galileo. Dalam bukunya Newton memberikan penghargaan pada Galileo untuk hukum ini. Aristoteles berpendapat bahwa setiap benda memilik tempat asal di alam semesta: benda berat seperti batu akan berada di atas tanah dan benda ringan seperti asap berada di langit. Bintang-bintang akan tetap berada di surga. Ia mengira bahwa sebuah benda sedang berada pada kondisi alamiahnya jika tidak bergerak, dan untuk satu benda bergerak pada garis lurus dengan kecepatan konstan diperlukan sesuatu dari luar benda tersebut yang terus mendorongnya, kalau tidak benda tersebut akan berhenti bergerak. Tetapi Galileo menyadari bahwa gaya diperlukan untuk mengubah kecepatan benda tersebut (percepatan), tetapi untuk mempertahankan kecepatan tidak diperlukan gaya. Sama dengan hukum pertama Newton : Tanpa gaya berarti tidak ada percepatan, maka benda berada pada kecepatan konstan.

Walter Lewin menjelaskan hukum dua Newton dengan menggunakan gravitasi sebagai contohnya.(MIT OCW)[12] Hukum kedua menyatakan bahwa total gaya pada sebuah partikel sama dengan banyaknya perubahan momentum linier p terhadap waktu :

Massa yang bertambah atau berkurang dari suatu sistem akan mengakibatkan perubahan dalam momentum. Perubahan momentum ini bukanlah akibat dari gaya. Untuk menghitung sistem dengan massa yang bisa berubah-ubah, diperlukan persamaan yang berbeda. Sesuai dengan hukum pertama, turunan momentum terhadap waktu tidak nol ketika terjadi perubahan arah, walaupun tidak terjadi perubahan besaran. Contohnya adalah gerak melingkar beraturan. Hubungan ini juga secara tidak langsung menyatakan kekekalan momentum: Ketika resultan gaya yang bekerja pada benda nol, momentum benda tersebut konstan. Setiap perubahan gaya berbanding lurus dengan perubahan momentum tiap satuan waktu. Hukum kedua ini perlu perubahan jika relativitas khusus diperhitungkan, karena dalam kecepatan sangat tinggi hasil kali massa dengan kecepatan tidak mendekati momentum sebenarnya.

Impuls Impuls J muncul ketika sebuah gaya F bekerja pada suatu interval waktu Δt, dan dirumuskan sebagai[16][17]

Impuls adalah suatu konsep yang digunakan untuk menganalisis tumbukan.[18]

Sistem dengan massa berubah Sistem dengan massa berubah, seperti roket yang bahan bakarnya digunakan dan mengeluarkan gas sisa, tidak termasuk dalam sistem tertutup dan tidak dapat dihitung dengan hanya mengubah massa menjadi sebuah fungsi dari waktu di hukum kedua.[14] Alasannya, seperti yang tertulis dalam An Introduction to Mechanics karya Kleppner dan Kolenkow, adalah bahwa hukum kedua Newton berlaku terhadap partikel-partikel secara mendasar.[15] Pada mekanika klasik, partikel memiliki massa yang konstant. Dalam kasus partikel-partikel dalam suatu sistem yang terdefinisikan dengan jelas, hukum Newton dapat digunakan dengan menjumlahkan semua partikel dalam sistem:

dengan F total adalah total gaya yang bekerja pada sistem, M adalah total massa dari sistem, dan apm adalah percepatan dari pusat massa sistem. Sistem dengan massa yang berubah-ubah seperti roket atau ember yang berlubang biasanya tidak dapat dihitung seperti sistem partikel, maka hukum kedua Newton tidak dapat digunakan langsung. Persamaan baru digunakan untuk menyelesaikan soal seperti itu dengan cara menata ulang hukum kedua dan menghitung momentum yang dibawa oleh massa yang masuk atau keluar dari sistem:[13]

dengan u adalah kecepatan dari massa yang masuk atau keluar relatif terhadap pusat massa dari objek utama. Dalam beberapa konvensi, besar (u dm/dt) di sebelah kiri persamaan, yang juga disebut dorongan, didefinisikan sebagai gaya (gaya yang dikeluarkan oleh suatu benda sesuai dengan berubahnya massa, seperti dorongan roket) dan dimasukan dalam besarnya F. Maka dengan mengubah definisi percepatan, persamaan tadi menjadi

Sejarah Hukum kedua Newton dalam bahasa aslinya (latin) berbunyi: Lex II: Mutationem motus proportionalem esse vi motrici impressae, et fieri secundum lineam rectam qua vis illa imprimitur. Diterjmahkan dengan cukup tepat oleh Motte pada tahun 1729 menjadi: Law II: The alteration of motion is ever proportional to the motive force impress'd; and is made in the direction of the right line in which that force is impress'd. Yang dalam Bahasa Indonesia berarti: Hukum Kedua: Perubahan dari gerak selalu berbanding lurus terhadap gaya yang dihasilkan / bekerja, dan memiliki arah yang sama dengan garis normal dari titik singgung gaya dan benda.

Hukum ketiga Newton

Hukum Ketiga Newton. Para pemain sepatu luncur es memberikan gaya pada satu sama-lain dengan besar yang sama tetapi berlawanan arah.

Putar media Penjelasan hukum ketiga Newton.[19]



” ”

Benda apapun yang menekan atau menarik benda lain mengalami tekanan atau tarikan yang sama dari benda yang ditekan atau ditarik. Kalau anda menekan sebuah batu dengan jari anda, jari anda juga ditekan oleh batu. Jika seekor kuda menarik sebuah batu dengan menggunakan tali, maka kuda tersebut juga "tertarik" ke arah batu: untuk tali yang digunakan, juga akan menarik sang kuda ke arah batu sebesar ia menarik sang batu ke arah kuda. Hukum ketiga ini menjelaskan bahwa semua gaya adalah interaksi antara benda-benda yang berbeda,[20] maka tidak ada gaya yang bekerja hanya pada satu benda. Jika benda A mengerjakan gaya pada benda B, benda B secara bersamaan akan mengerjakan gaya dengan besar yang sama pada benda A dan kedua gaya segaris. Seperti yang ditunjukan di diagram, para peluncur es (Ice skater) memberikan gaya satu sama lain dengan besar yang sama, tetapi arah yang berlawanan. Walaupun gaya yang diberikan sama, percepatan yang terjadi tidak sama. Peluncur yang massanya lebih kecil akan mendapat percepatan yang lebih besar karena hukum kedua Newton. Dua gaya yang bekerja pada hukum ketiga ini adalah gaya yang bertipe sama. Misalnya antara roda dengan jalan sama-sama memberikan gaya gesek. Secara sederhananya, sebuah gaya selalu bekerja pada sepasang benda, dan tidak pernah hanya pada sebuah benda. Jadi untuk setiap gaya selalu memiliki dua ujung. Setiap ujung gaya ini sama kecuali arahnya yang berlawanan. Atau sebuah ujung gaya adalah cerminan dari ujung lainnya. Secara matematis, hukum ketiga ini berupa persamaan vektor satu dimensi, yang bisa dituliskan sebagai berikut. Asumsikan benda A dan benda B memberikan gaya terhadap satu sama lain.

Dengan F a,b adalah gaya-gaya yang bekerja pada A oleh B, dan F b,a adalah gaya-gaya yang bekerja pada B oleh A. Newton menggunakan hukum ketiga untuk menurunkan hukum kekekalan momentum,[21] namun dengan pengamatan yang lebih dalam, kekekalan momentum adalah ide yang lebih mendasar (diturunkan melalui teorema Noether dari relativitas Galileo dibandingkan hukum ketiga, dan tetap berlaku pada kasus yang membuat hukum ketiga newton seakan-akan tidak berlaku. Misalnya ketika medan gaya memiliki momentum, dan dalam mekanika kuantum.

Pentingnya hukum Newton dan jangkauan validitasnya Hukum-hukum Newton sudah diverifikasi dengan eksperimen dan pengamatan selama lebih dari 200 tahun, dan hukum-hukum ini adalah pendekatan yang sangat baik untuk perhitungan dalam skala dan kecepatan yang dialami oleh manusia sehari-hari. Hukum gerak Newton dan hukum gravitasi umum dan kalkulus, (untuk pertama kalinya) dapat memfasilitasi penjelasan kuantitatif tentang berbagai fenomena-fenomena fisis. Ketiga hukum ini juga merupakan pendekatan yang baik untuk benda-benda makroskopis dalam kondisi sehari-hari. Namun hukum newton (digabungkan dengan hukum gravitasi umum dan elektrodinamika klasik) tidak tepat untuk digunakan dalam kondisi tertentu, terutama dalam skala yang amat kecil, kecepatan yang sangat tinggi (dalam relativitas khususs, faktor Lorentz, massa diam, dan kecepatan harus diperhitungkan dalam perumusan momentum) atau medan gravitasi yang sangat kuat. Maka hukum-hukum ini tidak dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena-fenomena seperti konduksi listrik pada sebuah semikonduktor, sifat-sifat optik dari sebuah bahan, kesalahan pada GPS sistem yang tidak diperbaiki secara relativistik, dan superkonduktivitas. Penjelasan dari fenomena-fenomena ini membutuhkan teori fisika yang lebih kompleks, termasuk relativitas umum dan teori medan kuantum. Dalam mekanika kuantum konsep seperti gaya, momentum, dan posisi didefinsikan oleh operator-operator linier yang beroperasi dalam kondisi kuantum, pada kecepatan yang jauh lebih rendah dari kecepatan cahaya, hukum-hukum Newton sama tepatnya dengan operator-operator ini bekerja pada benda-benda klasik. Pada kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya, hukum kedua tetap berlaku seperti bentuk aslinya F = dp , yang dt menjelaskan bahwa gaya adalah turunan dari momentum suatu benda terhadap waktu, namun beberapa versi terbaru dari hukum kedua tidak berlaku pada kecepatan relativistik.

Hubungan dengan hukum kekekalan Di fisika modern, hukum kekekalan dari momentum, energi, dan momentum sudut berlaku lebih umum daripada hukum-hukum Newton, karena mereka berlaku pada cahaya maupun materi, dan juga pada fisika klasik maupun fisika non-klasik. Secara sederhana, "Momen, energi, dan momentum angular tidak dapat diciptakan atau dihilangkan." Karena gaya adalah turunan dari momen, dalam teori-teori dasar (seperti mekanika kuantum, elektrodinamika kuantum, relativitas umum, dsb.), konsep gaya tidak penting dan berada dibawah kekekalan momentum. Model standar dapat menjelaskan secara terperinci bagaimana tiga gaya-gaya fundamental yang dikenal sebagai gaya-gaya gauge, berasal dari pertukaran partikel virtual. Gaya-gaya lain seperti gravitasi dan tekanan degenerasi fermionic juga muncul dari kekekalan momentum. Kekekalan dari 4-momentum dalam gerak inersia melalui ruang-waktu terkurva menghasilkan yang kita sebut sebagai gaya gravitasi dalam teori relativitas umum. Kekekalan energi baru ditemukan setelah hampir dua abad setelah kehidupan Newton, adanya jeda yang cukup panjang ini disebabkan oleh adanya kesulitan dalam memahami peran dari energi mikroskopik dan tak terlihat seperti panas dan cahaya infra-merah.

Lihat juga Merkurius (planet) Relativitas Galileo Dinamika Newton Mekanika Lagrangean Mekanika Hamilton Hukum Euler

Referensi dan catatan kaki 1. ^

2. 3.

4. 5. 6. 7.

8. 9.

10.

11. 12.

Newton's "Axioms or Laws of Motion" starting on page 19 of volume 1 of the 1729 translation of the "Principia"; Section 242, Newton's laws of motion in Thomson, W (Lord Kelvin), and Tait, P G, (1867), Treatise on natural philosophy, volume 1; and Benjamin Crowell (2000), Newtonian Physics. ^ Halliday ^ Browne, Michael E. (1999-07). Schaum's outline of theory and problems of physics for engineering and science (Series: Schaum's Outline Series). McGraw-Hill Companies. hlm. 58. ISBN 9780070084988. ^ Holzner, Steven (2005-12). Physics for Dummies. Wiley, John & Sons, Incorporated. hlm. 64. ISBN 9780764554339. ^ Lihat Principia secara daring di Andrew Motte Translation ^ Andrew Motte translation of Newton's Principia (1687) Axioms or Laws of Motion ^ [...]while Newton had used the word 'body' vaguely and in at least three different meanings, Euler realized that the statements of Newton are generally correct only when applied to masses concentrated at isolated points;Truesdell, Clifford A.; Becchi, Antonio; Benvenuto, Edoardo (2003). Essays on the history of mechanics: in memory of Clifford Ambrose Truesdell and Edoardo Benvenuto. New York: Birkhäuser. hlm. 207. ISBN 3764314761. ^ Lubliner, Jacob (2008). Plasticity Theory (Revised Edition) (PDF). Dover Publications. ISBN 0486462900. ^ In making a modern adjustment of the second law for (some of) the effects of relativity, m would be treated as the relativistic mass, producing the relativistic expression for momentum, and the third law might be modified if possible to allow for the finite signal propagation speed between distant interacting particles. ^ Walter Lewin (September 20, 1999). Newton’s First, Second, and Third Laws. MIT Course 8.01: Classical Mechanics, Lecture 6. (ogg) (videotape) (dalam bahasa english). Cambridge, MA USA: MIT OCW. Terjadi pada 0:00–6:53. Diakses tanggal December 23, 2010. ^ Isaac Newton, The Principia, A new translation by I.B. Cohen and A. Whitman, University of California press, Berkeley 1999. ^ Lewin, Newton’s First, Second, and Third Laws, Lecture 6. (6:53–11:06)

13. ^ a b Plastino, Angel R.; Muzzio, Juan C. (1992). "On the use and abuse of Newton's second law for variable mass problems". Celestial Mechanics and Dynamical Astronomy (Netherlands: Kluwer Academic Publishers) 53 (3): 227–232. Bibcode:1992CeMDA..53..227P. ISSN 0923-2958. doi:10.1007/BF00052611. "We may conclude emphasizing that Newton's second law is valid for constant mass only. When the mass varies due to accretion or ablation, [an alternate equation explicitly accounting for the changing mass] should be used." 14. ^ a b Halliday; Resnick. Physics 1. hlm. 199. ISBN 0471037109. "It is important to note that we cannot derive a general expression for Newton's second law for variable mass systems by treating the mass in F = dP/dt = d(Mv) as a variable. [...] We can use F = dP/dt to analyze variable mass systems only if we apply it to an entire system of constant mass having parts among which there is an interchange of mass." [Emphasis as in the original] 15. ^ a b Kleppner, Daniel; Robert Kolenkow (1973). An Introduction to Mechanics. McGrawHill. hlmn. 133–134. ISBN 0070350485. "Recall that F = dP/dt was established for a system composed of a certain set of particles[. ... I]t is essential to deal with the same set of particles throughout the time interval[. ...] Consequently, the mass of the system can not change during the time of interest." 16. ^ Hannah, J, Hillier, M J, Applied Mechanics, p221, Pitman Paperbacks, 1971 17. ^ Raymond A. Serway, Jerry S. Faughn (2006). College Physics. Pacific Grove CA: Thompson-Brooks/Cole. hlm. 161. ISBN 0534997244. 18. ^ WJ Stronge (2004). Impact mechanics. Cambridge UK: Cambridge University Press. hlm. 12 ff. ISBN 0521602890. 19. ^ Lewin, Newton’s First, Second, and Third Laws, Lecture 6. (14:11–16:00) 20. ^ C Hellingman (1992). "Newton’s third law revisited". Phys. Educ. 27 (2): 112–115. Bibcode:1992PhyEd..27..112H. doi:10.1088/0031-9120/27/2/011. 21. ^ Newton, Principia, Corollary III to the laws of motion

Bacaan lanjut Crowell, Benjamin, (2000), Newtonian Physics, (2000, Light and Matter), ISBN 09704670-1-X, 9780970467010, especially at Section 4.2, Newton's First Law, Section 4.3, Newton's Second Law, and Section 5.1, Newton's Third Law. Feynman, R. P.; Leighton, R. B.; Sands, M. (2005). The Feynman Lectures on Physics. Vol. 1 (Edisi ke-2nd). Pearson/Addison-Wesley. ISBN 0805390499. Fowles, G. R.; Cassiday, G. L. (1999). Analytical Mechanics (Edisi ke-6th). Saunders College Publishing. ISBN 0030223172. Likins, Peter W. (1973). Elements of Engineering Mechanics. McGraw-Hill Book Company. ISBN 0070378525. Marion, Jerry; Thornton, Stephen (1995). Classical Dynamics of Particles and Systems. Harcourt College Publishers. ISBN 0030973023. Newton, Isaac, "Mathematical Principles of Natural Philosophy", 1729 English translation based on 3rd Latin edition (1726), volume 1, containing Book 1, especially at the section Axioms or Laws of Motion starting page 19. Newton, Isaac, "Mathematical Principles of Natural Philosophy", 1729 English translation based on 3rd Latin edition (1726), volume 2, containing Books 2 & 3. Thomson, W (Lord Kelvin), and Tait, P G, (1867), Treatise on natural philosophy, volume 1, especially at Section 242, Newton's laws of motion. NMJ Woodhouse (2003). Special relativity. London/Berlin: Springer. hlm. 6. ISBN 185233-426-6. Galili, I. & Tseitlin, M. (2003). "Newton's first law: text, translations, interpretations, and physics education.". Science and Education. 12 (1) (1): 45–73. Bibcode:2003Sc&Ed..12...45G. doi:10.1023/A:1022632600805.

Pranala luar (Inggris) Video ceramah MIT mengenai tiga hukum Newton (Inggris) Newtonian Physics – buku teks daring (Inggris) Motion Mountain – buku teks daring (Inggris) Simulasi hukum gerak Newton pertama (Inggris) Hukum Newton kedua" oleh Enrique Zeleny, Wolfram Demonstrations

Project. (Inggris) Hukum Newton ketiga didemonstrasikan dalam sebuah vakum (Indonesia) Hukum Newton 1 (Indonesia) Hukum Newton 2 (Indonesia) Hukum Newton 3

Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/w/index.php? title=Hukum_gerak_Newton&oldid=13250767" Kategori: Mekanika klasik Mekanika Isaac Newton Teks Latin Sejarah fisika Konsep fisika dasar Pengamatan ilmiah Fisika eksperimental Kategori tersembunyi: CS1 maint: Unrecognized language Pages containing cite templates with deprecated parameters Artikel bagus biasa Semua artikel bagus Halaman yang menggunakan pranala magis ISBN

RELATED RESEARCH TOPICS







1. Portrait of Isaac Newton in 1689 (age 46) by Godfrey Kneller 2. Newton in a 1702 portrait by Godfrey Kneller 3. Isaac Newton (Bolton, Sarah K. Famous Men of Science. NY: Thomas Y. Crowell & Co., 1889) 4. Replica of Newton's second Reflecting telescope that he presented to the Royal Society in 1672

Dengan F adalah total gaya yang bekerja, m adalah massa benda, dan a adalah percepatan benda. Maka total gaya yang bekerja pada suatu benda menghasilkan percepatan yang berbanding lurus.

Hukum ketiga : Untuk setiap aksi selalu ada reaksi yang sama besar dan berlawanan arah: atau gaya dari dua benda pada satu sama lain selalu sama besar dan berlawanan arah.



Isaac Newton

Karena hukumnya hanya berlaku untuk sistem dengan massa konstan,[13][14][15] variabel massa (sebuah konstan) dapat dikeluarkan dari operator diferensial dengan menggunakan aturan diferensiasi. Maka,





1. The flow of sand in an hourglass can be used to keep track of elapsed time. It also concretely represents the present as being between the past and the future. 2. Horizontal sundial in Taganrog 3. A contemporary quartz watch 4. Chip-scale atomic clocks, such as this one unveiled in 2004, are expected to greatly improve GPS location.

Hukum kedua Newton

Lex III: Actioni contrariam semper et æqualem esse reactionem: sive corporum duorum actiones in se mutuo semper esse æquales et in partes contrarias dirigi.



Hukum gravitasi universal Newton

1. Every point mass attracts every single other point mass by a force pointing along the line intersecting both points. The force is proportional to the product of the two masses and inversely proportional to the square of the distance between them:

1. Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica – Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica, often referred to as simply the Principia, is a work in three books by Isaac Newton, in Latin, first published 5 July 1687. After annotating and correcting his personal copy of the first edition, Newton also published two editions, in 1713 and 1726. The Principia states Newtons laws of motion, forming the foundation of classical mechanics, Newtons law of gravitation. The Principia is regarded as one of the most important works in the history of science, the French mathematical physicist Alexis Clairaut assessed it in 1747, The famous book of mathematical Principles of natural Philosophy marked the epoch of a great revolution in physics. The method followed by its illustrious author Sir Newton, spread the light of mathematics on a science which up to then had remained in the darkness of conjectures and hypotheses. In formulating his theories, Newton developed and used mathematical methods now included in the field of calculus. In a revised conclusion to the Principia, Newton used his expression that became famous and it attempts to cover hypothetical or possible motions both of celestial bodies and of terrestrial projectiles. It explores difficult problems of motions perturbed by multiple attractive forces and its third and final book deals with the interpretation of observations about the movements of planets and their satellites. The opening sections of the Principia contain, in revised and extended form, the Principia begin with Definitions and Axioms or Laws of Motion, and continues in three books, Book 1, subtitled De motu corporum concerns motion in the absence of any resisting medium. It opens with an exposition of the method of first and last ratios. Book 1 contains some proofs with little connection to real-world dynamics, but there are also sections with far-reaching application to the solar system and universe, Propositions 57–69 deal with the motion of bodies drawn to one another by centripetal forces. Propositions 70–84 deal with the forces of spherical bodies. The section contains Newtons proof that a massive spherically symmetrical body attracts other bodies outside itself as if all its mass were concentrated at its centre. This fundamental result, called the Shell theorem, enables the inverse square law of gravitation to be applied to the solar system to a very close degree of approximation. Part of the originally planned for the first book was divided out into a second book. Book 2 also discusses hydrostatics and the properties of compressible fluids, Newton compares the resistance offered by a medium against motions of globes with different properties. In Section 8, he derives rules to determine the speed of waves in fluids and relates them to the density and condensation. He assumes that these rules apply equally to light and sound and estimates that the speed of sound is around 1088 feet per second and can increase depending on the amount of water in air 2. Mekanika klasik – In physics, classical mechanics is one of the two major sub-fields of mechanics, along with quantum mechanics. Classical mechanics is concerned with the set of physical laws describing the motion of bodies under the influence of a system of forces. The study of the motion of bodies is an ancient one, making classical mechanics one of the oldest and largest subjects in science, engineering and technology. Classical mechanics describes the motion of objects, from projectiles to parts of machinery, as well as astronomical objects, such as spacecraft, planets, stars. Within classical mechanics are fields of study that describe the behavior of solids, liquids and gases, Classical mechanics also provides extremely accurate results as long as the domain of study is restricted to large objects and the speeds involved do not approach the speed of light. When both quantum and classical mechanics cannot apply, such as at the level with high speeds. Since these aspects of physics were developed long before the emergence of quantum physics and relativity, however, a number of modern sources do include relativistic mechanics, which in their view represents classical mechanics in its most developed and accurate form. Later, more abstract and general methods were developed, leading to reformulations of classical mechanics known as Lagrangian mechanics and these advances were largely made in the 18th and 19th centuries, and they extend substantially beyond Newtons work, particularly through their use of analytical mechanics. The following introduces the concepts of classical mechanics. For simplicity, it often models real-world objects as point particles, the motion of a point particle is characterized by a small number of parameters, its position, mass, and the forces applied to it. Each of these parameters is discussed in turn, in reality, the kind of objects that classical mechanics can describe always have a nonzero size. Objects with non-zero size have more complicated behavior than hypothetical point particles, because of the degrees of freedom. However, the results for point particles can be used to such objects by treating them as composite objects. The center of mass of a composite object behaves like a point particle, Classical mechanics uses common-sense notions of how matter and forces exist and interact. It assumes that matter and energy have definite, knowable attributes such as where an object is in space, non-relativistic mechanics also assumes that forces act instantaneously. The position of a point particle is defined with respect to a fixed reference point in space called the origin O, in space. A simple coordinate system might describe the position of a point P by means of a designated as r. In general, the point particle need not be stationary relative to O, such that r is a function of t, the time 3. Gerak – In physics, motion is a change in position of an object over time. Motion is described in terms of displacement, distance, velocity, acceleration, time, motion of a body is observed by attaching a frame of reference to an observer and measuring the change in position of the body relative to that frame. If the position of a body is not changing with respect to a frame of reference. An objects motion cannot change unless it is acted upon by a force, momentum is a quantity which is used for measuring motion of an object. As there is no frame of reference, absolute motion cannot be determined. Thus, everything in the universe can be considered to be moving, more generally, motion is a concept that applies to objects, bodies, and matter particles, to radiation, radiation fields and radiation particles, and to space, its curvature and space-time. One can also speak of motion of shapes and boundaries, so, the term motion in general signifies a continuous change in the configuration of a physical system. For example, one can talk about motion of a wave or about motion of a quantum particle, in physics, motion is described through two sets of apparently contradictory laws of mechanics. Motions of all large scale and familiar objects in the universe are described by classical mechanics, whereas the motion of very small atomic and sub-atomic objects is described by quantum mechanics. It produces very accurate results within these domains, and is one of the oldest and largest in science, engineering, classical mechanics is fundamentally based on Newtons laws of motion. These laws describe the relationship between the acting on a body and the motion of that body. They were first compiled by Sir Isaac Newton in his work Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica and his three laws are, A body either is at rest or moves with constant velocity, until and unless an outer force is applied to it. An object will travel in one direction only until an outer force changes its direction, whenever one body exerts a force F onto a second body, the second body exerts the force −F on the first body. F and −F are equal in magnitude and opposite in sense, so, the body which exerts F will go backwards. Newtons three laws of motion, along with his Newtons law of motion, which were the first to provide a mathematical model for understanding orbiting bodies in outer space. This explanation unified the motion of bodies and motion of objects on earth. Classical mechanics was later enhanced by Albert Einsteins special relativity. Motion of objects with a velocity, approaching the speed of light 4. Kecepatan – The velocity of an object is the rate of change of its position with respect to a frame of reference, and is a function of time. Velocity is equivalent to a specification of its speed and direction of motion, Velocity is an important concept in kinematics, the branch of classical mechanics that describes the motion of bodies. Velocity is a vector quantity, both magnitude and direction are needed to define it. The scalar absolute value of velocity is called speed, being a coherent derived unit whose quantity is measured in the SI system as metres per second or as the SI base unit of. For example,5 metres per second is a scalar, whereas 5 metres per second east is a vector, if there is a change in speed, direction or both, then the object has a changing velocity and is said to be undergoing an acceleration. To have a constant velocity, an object must have a constant speed in a constant direction, constant direction constrains the object to motion in a straight path thus, a constant velocity means motion in a straight line at a constant speed. For example, a car moving at a constant 20 kilometres per hour in a path has a constant speed. Hence, the car is considered to be undergoing an acceleration, Speed describes only how fast an object is moving, whereas velocity gives both how fast and in what direction the object is moving. If a car is said to travel at 60 km/h, its speed has been specified, however, if the car is said to move at 60 km/h to the north, its velocity has now been specified. The big difference can be noticed when we consider movement around a circle and this is because the average velocity is calculated by only considering the displacement between the starting and the end points while the average speed considers only the total distance traveled. Velocity is defined as the rate of change of position with respect to time, average velocity can be calculated as, v ¯ = Δ x Δ t. The average velocity is less than or equal to the average speed of an object. This can be seen by realizing that while distance is always strictly increasing, from this derivative equation, in the one-dimensional case it can be seen that the area under a velocity vs. time is the displacement, x. In calculus terms, the integral of the velocity v is the displacement function x. In the figure, this corresponds to the area under the curve labeled s. Since the derivative of the position with respect to time gives the change in position divided by the change in time, although velocity is defined as the rate of change of position, it is often common to start with an expression for an objects acceleration. As seen by the three green tangent lines in the figure, an objects instantaneous acceleration at a point in time is the slope of the tangent to the curve of a v graph at that point. In other words, acceleration is defined as the derivative of velocity with respect to time, from there, we can obtain an expression for velocity as the area under an a acceleration vs. time graph 5. Pusat massa – The distribution of mass is balanced around the center of mass and the average of the weighted position coordinates of the distributed mass defines its coordinates. Calculations in mechanics are simplified when formulated with respect to the center of mass. It is a point where entire mass of an object may be assumed to be concentrated to visualise its motion. In other words, the center of mass is the equivalent of a given object for application of Newtons laws of motion. In the case of a rigid body, the center of mass is fixed in relation to the body. The center of mass may be located outside the body, as is sometimes the case for hollow or open-shaped objects. In the case of a distribution of separate bodies, such as the planets of the Solar System, in orbital mechanics, the equations of motion of planets are formulated as point masses located at the centers of mass. The center of mass frame is a frame in which the center of mass of a system is at rest with respect to the origin of the coordinate system. The concept of center of mass in the form of the center of gravity was first introduced by the ancient Greek physicist, mathematician, and engineer Archimedes of Syracuse. He worked with simplified assumptions about gravity that amount to a uniform field, in work on floating bodies he demonstrated that the orientation of a floating object is the one that makes its center of mass as low as possible. He developed mathematical techniques for finding the centers of mass of objects of uniform density of various welldefined shapes, Newtons second law is reformulated with respect to the center of mass in Eulers first law. The center of mass is the point at the center of a distribution of mass in space that has the property that the weighted position vectors relative to this point sum to zero. In analogy to statistics, the center of mass is the location of a distribution of mass in space. Solving this equation for R yields the formula R =1 M ∑ i =1 n m i r i, solve this equation for the coordinates R to obtain R =1 M Q r d V, where M is the total mass in the volume. If a continuous mass distribution has density, which means is constant. The center of mass is not generally the point at which a plane separates the distribution of mass into two equal halves, in analogy with statistics, the median is not the same as the mean. The coordinates R of the center of mass of a system, P1 and P2, with masses m1. The percentages of mass at each point can be viewed as projective coordinates of the point R on this line, another way of interpreting the process here is the mechanical balancing of moments about an arbitrary point

Loading...

Hukum gerak Newton - WikiVisually

WikiVisually the entire wiki with video and photo galleries find something interesting to watch in seconds TOP LISTS / VIDEOS · VIDEO PICKER · LANGU...

769KB Sizes 2 Downloads 14 Views

Recommend Documents

Hukum gerak Newton - Wikiwand
dengan Ftotal adalah total gaya yang bekerja pada sistem, M adalah total massa dari sistem, dan apm adalah percepatan da

Hukum gerak Newton - Program Perkuliahan Khusus
Contohnya adalah gerak melingkar beraturan. Hubungan ini juga secara tidak langsung menyatakan kekekalan momentum: Ketik

Hukum ii newton untuk gerak rotasi – Fine Data Server
Aug 22, 2017 - Hukum ii newton untuk gerak rotasi Rocky specialized not quarrelings their tramples and how hated! parava

Hukum 2 newton untuk gerak rotasi – Fine Data Server
Jun 12, 2017 - Hulagu khan history in urdu books, Hulk future imperfect trophy room, Definisi pembuktian hukum perdata,

Makalah Hukum Newton - seterms.com
Hukum Newton: 10,000+: 0.27: 0.0. Makalah Hukum: 100+: 0: 0.0. Makalah Hukum Perbankan: 100+: 0: 0.0. Makalah Hukum Jami

Hukum adat - WikiVisually
Mr. Cornelis van Vollenhoven, hukum adat adalah keseluruhan aturan tingkah laku positif yang di satu pihak mempunyai san

Contoh Soal Hukum Newton Beserta Pembahasannya.zip
Content Powershell Tail - http://sesshacardprecear.simplesite.com/

Makalah hukum newton 1 2 3 # Fast Mirrors № 69805594
Paunchy and makalah hukum newton 1 2 3 recognizable Foster traumatized his symmetrising or serving makalah hukum perdata

HUKUM II NEWTON by billy andriko on Prezi
Dec 23, 2015 - HUKUM II NEWTON TUJUAN 1. Menghitung besarnya percepatan pada suatu benda yang bergerak pada bidang mirin

Search "9-Hukum newton pada bidang miring.pdf" (100 documents
Search 9-Hukum newton pada bidang miring.pdf page 5.